Semangat membangun dimulai dari pinggiran, termasuk dari desa begitu besar di era pemerintahan Presiden Jokowi saat ini. Sangat tepat, karena selama hampir 15 tahun sejak reformasi 1998 pembangunan desa kurang mendapat perhatian yang serius. Ada pandangan selama itu desa hanya sebagai obyek politik dan pembangunan itu sendiri. Hal ini sangat bertentangan dengan beberapa pernyataan sosiologis dari para seniman seperti dalang wayang kondang Ki Narto Sabdo ditahun 70-an. Saat itu, Ki Narto Sabdo "mengkampanyekan" pembangunan desa melalui lagu "Modernisasi desa" di Jawa Tengah, tapi harapannya untuk seluruh Indonesia. Bagian lirik yang menarik dari lagu itu antara lain berbunyi ...." wit kuna wis mesthi tansah dadi obyek ning saiki ganti, modernisasi desa pembangunan desa, ya tegese kuwi tho, kudu dadi subyek....". (Sejak dulu selalu " desa itu " jadi obyek, tetapi sekarang ganti. Modernisasi desa, pembangunan desa, ya artinya itu, harus menjadi subyek). Artinya, desa harus menjadi pelaku pembangunan dalam arti luas. Dengan begitu, desa akan menjadi lebih makmur secara sosial dan ekonomi.
@kominfomagelang 🇮🇩 30 hari gotong royong, hasilnya nyata! TMMD Sengkuyung Tahap III TA 2026 di Desa Giri Kulon, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang resmi ditutup. Jalan cor 500 meter, talud, dan saluran air berhasil diselesaikan 100% untuk mendukung akses dan aktivitas masyarakat. 💪 TMMD bukan sekadar membangun infrastruktur, tetapi juga memperkuat kebersamaan TNI, Polri, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam membangun desa. “TMMD: Satukan Langkah, Membangun Negeri dari Desa.” 🇮🇩🤝 Semoga hasil pembangunan ini bermanfaat dan terus dirawat bersama demi kemajuan Desa Giri Kulon. #TMMD #magelang24jam #Secang ♬ original sound - kominfomagelang
0 Komentar