Semangat membangun dimulai dari pinggiran, termasuk dari desa begitu besar di era pemerintahan Presiden Jokowi saat ini. Sangat tepat, karena selama hampir 15 tahun sejak reformasi 1998 pembangunan desa kurang mendapat perhatian yang serius. Ada pandangan selama itu desa hanya sebagai obyek politik dan pembangunan itu sendiri. Hal ini sangat bertentangan dengan beberapa pernyataan sosiologis dari para seniman seperti dalang wayang kondang Ki Narto Sabdo ditahun 70-an. Saat itu, Ki Narto Sabdo "mengkampanyekan" pembangunan desa melalui lagu "Modernisasi desa" di Jawa Tengah, tapi harapannya untuk seluruh Indonesia. Bagian lirik yang menarik dari lagu itu antara lain berbunyi ...." wit kuna wis mesthi tansah dadi obyek ning saiki ganti, modernisasi desa pembangunan desa, ya tegese kuwi tho, kudu dadi subyek....". (Sejak dulu selalu " desa itu " jadi obyek, tetapi sekarang ganti. Modernisasi desa, pembangunan desa, ya artinya itu, harus menjadi subyek). Artinya, desa harus menjadi pelaku pembangunan dalam arti luas. Dengan begitu, desa akan menjadi lebih makmur secara sosial dan ekonomi.
@kominfomagelang Sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Raya Waisak, kawasan Candi Ngawen, Muntilan, Kabupaten Magelang, Minggu (31/05/2026), dipenuhi harmoni budaya dan spiritualitas. Sebanyak 25 balon udara berwarna-warni menghiasi langit. Festival ini tidak sekadar tontonan, tetapi juga menjadi ruang pertemuan budaya, spiritualitas, dan pariwisata. Festival ini turut dihadiri Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, para duta besar, serta perwakilan Dirjen Bimas Buddha, menunjukkan daya tariknya yang semakin luas.
♬ original sound - kominfomagelang
0 Komentar