PENDEKATAN pengelolaan kelas yang humanis menekankan keunikan dan martabat setiap individu peserta didik. Penekanan lebih pada kemampuan pembelajar siswa yang tinggi dari pada berpusat pada guru. Dalam pendekatan ini disarankan sedikit mungkin intervensi dalam kelas, partisipasi aktif siswa, dan menolong agar siswa dapat mengembangkan dirinya.
Pendekatan pengelolaan kelas yang humanis ini telah digagas oleh Carl Rogers dan Michael marland. Tujuan dari pendekatan humanis menurut Rogers 9roger 7 Freiberg, 1994) adalah mengembangkan disiplin diri setiap siswa. Disiplin diri adalah pengetahuan tentang diri sendiri dan membutuhkan tindakan untuk tumbuh dan berkembang sebagai pribadi. Secara sederhana hal ini dapat dilakukan dengan mengelola dengan tidak banyak memberi instruksi kepada siswa. Ia berkeyakinan bahwa setiap siswa memiliki kebutuhan dasar untuk tumbuh, berkembang, dan menjadi. Idealnya bahwa peran guru dan orang tua menciptakan lingkungan yang diterima oleh siswa dan bermakna bagi mereka, dan membantu perkembangan mereka. Guru lebih menjadi fasilitator dari pada sebagai seorang yang memberi perintah, dan aktivitas siswa sangat penting keterlibatannya dalam proses pembelajaran.
Sekolah yang menerapkan pendekatan pengelolaan kelas yang humanis menitikberatkan pada pusat belajar adalah siswa. Dalam model ini seorang guru tidak lagi memberikan petunjuk/ceramah dalam pembelajaran. Secara spesifik, guru yang demikian adalah guru yang:
Pengelolaan kelas yang humanis tidak terlepas dari seorang tokoh Michael Marland (1975) yang menjelaskan berbagai macam strategi dan saran-saran. Beberapa hal yang ia sarankan adalah:
Marland memberikan saran-saran agar lingkungan pembelajaran menjadi lebih perhatian pada pribadi siswa, sehingga komposisi meja hendaknya disusun supaya lebih menjangkau setiap siswa. Selain itu perlu juga dekorasi kelas yang diambil dari karya-karya siswa: poster, gambar anak, puisi, kartu-kartu, dan lain-lain.
Paradigma modifikasi lingkungan belajar yang berpusat pada siswa menunjukkan ciri-ciri sebagai berikut (Parke, 1989):
*)Penulis : P. Budi Winarto, S.Pd guru SMP Pendowo Ngablak Kabupaten Magelang
@kominfomagelang Sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Raya Waisak, kawasan Candi Ngawen, Muntilan, Kabupaten Magelang, Minggu (31/05/2026), dipenuhi harmoni budaya dan spiritualitas. Sebanyak 25 balon udara berwarna-warni menghiasi langit. Festival ini tidak sekadar tontonan, tetapi juga menjadi ruang pertemuan budaya, spiritualitas, dan pariwisata. Festival ini turut dihadiri Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, para duta besar, serta perwakilan Dirjen Bimas Buddha, menunjukkan daya tariknya yang semakin luas.
♬ original sound - kominfomagelang
0 Komentar