Santri Diajak Pahami Tantangan Dunia Digital Lewat Bedah Buku

Dilihat 44 kali
Anggota Komisi VIII DPR RI, Wibowo Prasetyo memberikan dukungan dalam kegiatan bedah buku Tipologi Anak Muda Indonesia.

BERITAMAGELANG.ID - Pondok Pesantren Al Inayah, Dusun Nglarangan, Desa Sido Agung, Kecamatan Tempuran menjadi tuan rumah bedah buku inspiratif berjudul "Tipologi Anak Muda Indonesia" Membaca Arah Generasi Muda Indonesia di Era Algoritma karya peneliti senior, Hasanuddin Ali, Sabtu (14/3).

Acara yang berlangsung hangat ini dihadiri para santri Madrasah Aliyah, akademisi, serta tokoh penting, termasuk pengamat media, Savic Ali yang turut membedah dinamika generasi muda saat ini.

Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Tengah, Saiful Mujab, yang hadir mewakili Dirjen Pendidikan Islam Kemenag RI, menyambut positif kegiatan ini. Ia menekankan pentingnya santri memahami realitas yang kini terbelah antara dunia nyata dan dunia maya.

"Sore hari ini kita semua akan membuka mata mengenai apa yang akan terjadi ke depan, dan bagaimana sikap para santri dalam beradaptasi untuk memberi kemanfaatan," ujar Saiful dalam sambutannya.

Ia juga mengingatkan agar generasi muda tidak hanya menjadi penonton di tengah arus digitalisasi.

"Jangan sampai berhenti di tempat, jangan terbenam oleh digitalisasi hanya untuk menikmati, tapi tidak mengejar cita-cita," pesannya.

Dukungan serupa datang dari Anggota Komisi VIII DPR RI, Wibowo Prasetyo. Politisi Fraksi PDI Perjuangan ini menilai buku karya Hasanuddin Ali sangat relevan di tengah revolusi digital yang mengubah cara berpikir dan berinteraksi masyarakat.

"Algoritma media sosial telah membentuk lanskap baru dalam pembentukan identitas anak muda," jelas Wibowo.

Ia berharap forum ini melahirkan gagasan konstruktif, bukan sekadar pembacaan akademik, agar negara dan masyarakat siap merespons perubahan sosial yang begitu cepat.

Penulis buku, Hasanuddin Ali, yang memiliki rekam jejak 25 tahun di industri riset, memaparkan, bukunya disusun berdasarkan data kuat melalui hybrid research approach dan kecerdasan buatan (AI).

Berdasarkan riset tersebut, Hasanuddin memetakan tiga tipologi utama anak muda Indonesia saat ini:

1. Si Paling Eksis (The Social Butterfly): Fokus pada ekspresi diri di media sosial.

2. Si Digital Banget (The Digital Junkie): Menganggap dunia maya lebih penting dari dunia nyata.

3. Si Santuy Abis (The Chillaxer): Cenderung menikmati hidup dengan ritme yang lebih santai.

"Memahami tipologi ini bukan hanya penting untuk anak muda dan orang tua, tetapi juga untuk dunia pendidikan dan kebijakan negara agar strategi komunikasi yang diambil bisa tepat sasaran," jelas Hasanuddin.

Pengamat media sekaligus pejuang literasi digital, Savic Ali (Mohamad Syafi' Alielha), menyoroti sisi sosiologis dari karya tersebut. Ia menilai buku ini merupakan panduan penting bagi orang tua dalam mengambil keputusan dan memahami perubahan perilaku anak di era internet.

Kegiatan diskusi yang ditutup dengan buka puasa Ramadan bersama-sama ini memperkaya perspektif para santri. Harapannya, generasi muda pesantren tidak hanya siap secara spiritual, tetapi juga tangguh dan cerdas secara intelektual dalam menghadapi tantangan teknologi di masa depan.

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar