BERITAMAGELANG.ID - Penyakit jantung bukan lagi masalah kesehatan yang hanya mengintai kelompok lanjut usia. Di era modern ini, kasus penyakit jantung koroner dan serangan jantung terbukti bergeser secara progresif ke generasi muda, mulai dari usia 20 hingga 30 tahun.
Hal tersebut diungkapkan dr. Ratri Dwi Rahmawati, dokter umum pada RSUD Bukit Menoreh Kabupaten Magelang, dalam program Talkshow Jamus Gemilang di LPPL Radio Gemilang FM, Kamis(22/5/2026).
"Penyakit jantung saat ini tercatat sebagai penyebab kematian nomor satu di dunia, disusul oleh stroke di posisi kedua. Tingginya angka kasus ini bahkan membuat penyakit jantung menjadi salah satu beban pembiayaan terbesar bagi BPJS Kesehatan," ungkapnya.
Ia mengibaratkan pembuluh darah manusia seperti pipa air. Aliran air akan lancar jika pipa bersih, namun jika kotoran terus menumpuk, pipa akan tersumbat oleh kerak atau lumut. Proses pembentukan kerak pembuluh darah (plak) atau secara medis disebut aterosklerosis ini sebenarnya sudah bisa dimulai sejak seseorang berusia 20 tahun.
"Faktor utama yang mempercepat penumpukan plak di usia muda adalah sedentary lifestyle atau pola hidup malas bergerak," terangnya.
"Modernisasi dan digitalisasi, seperti kebiasaan menggunakan motor untuk jarak dekat (misal hanya 300 meter), penggunaan lift atau eskalator dibanding tangga, serta pola kerja dan kuliah yang serba duduk di depan komputer semenjak pandemi, menjadi pemicu utama," lanjut dr. Ratri.
Kondisi ini diperparah oleh kandungan zat kimia berbahaya seperti nikotin dan tar pada rokok konvensional maupun vape yang langsung merusak dinding pembuluh darah. Di Indonesia sendiri, angka perokok sangat tinggi mencapai 71 persen dari total penduduk, mengkonsumsi makanan tinggi gula, garam, lemak jenuh, gorengan berlebih, serta makanan yang diawetkan (ultra-processed food).
Banyak orang salah kaprah dan menganggap penyakit jantung murni karena faktor keturunan (genetik). Namun, faktor genetik hanya berkontribusi sebesar 10 persen. Sisanya, yaitu 90 persen, sepenuhnya ditentukan oleh gaya hidup dan kebiasaan yang dibangun di lingkungan terkecil, yaitu keluarga.
"Sering kali masyarakat keliru mengidentifikasi nyeri dada dan menganggapnya hanya sebagai "masuk angin" atau "angin duduk", lalu penanganannya ditunda hanya dengan kerokan atau dioles minyak hangat," jelasnya.
Ciri-ciri khas nyeri dada akibat serangan jantung (angina pektoris) meliputi:
1. Nyeri di dada sebelah kiri, namun tidak bisa ditunjuk dengan jari secara spesifik titik sakitnya.
2. Sensasi nyeri terasa sangat berat, seperti ditindih benda padat atau beban berat (diibaratkan seperti ditindih gajah), atau terasa seperti diremas.
3. Nyeri tersebut menjalar ke punggung, lengan kiri, hingga ke area rahang.
4. Gejala menetap atau bertahan hingga lebih dari 20 menit dan tidak kunjung membaik meskipun pasien sudah dibawa beristirahat.
5. Disertai dengan tanda penyerta berupa keringat dingin yang keluar bercucuran dalam jumlah banyak hingga baju basah kuyup, mual, serta muntah.
Dalam dunia medis, dikenal istilah Time is Muscle (Waktu adalah Otot Jantung). Semakin lama penanganan ditunda, maka jaringan otot jantung akan semakin banyak yang mati secara permanen, yang berisiko fatal memicu henti jantung mendadak.
"Golden period atau waktu emas untuk menyelamatkan pasien serangan jantung adalah 90 menit pertama," tegasnya.
"Oleh karena itu, jika gejala di atas muncul, meskipun di malam hari, pasien harus segera dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit terdekat yang beroperasi 24 jam," lanjut dr. Ratri.
Jika menemukan seseorang yang mendadak tidak sadarkan diri akibat dugaan serangan jantung atau henti jantung, masyarakat awam diperbolehkan dan sangat diimbau melakukan pertolongan pertama dengan rumus SRS:
1. S - Safety (Keamanan): Pindahkan pasien ke tempat yang aman dan longgar. Jangan biarkan pasien dikerumuni banyak orang agar suplai oksigen di sekitar pasien tetap lancar. Longgarkan pakaian atau kancing baju pasien yang ketat.
2. R - Respon (Cek Respon): Panggil pasien dengan lantang sambil menepuk pundaknya. Jika tidak ada respon, berikan rangsangan nyeri dengan cara menekan/menggosok tulang dada tengah menggunakan buku jari. Jika pasien tetap tidak sadar, maka ia mengalami henti napas/jantung.
3. S - Shout for Help (Minta Bantuan): Segera berteriak meminta bantuan orang sekitar untuk menghubungi petugas medis atau ambulans rumah sakit.
Sembari menunggu medis, cek napas dengan melihat kembang kempis dada dan rasakan embusan angin di hidung pasien. Cek nadi di pergelangan tangan yang sejajar dengan jempol selama 10 detik. Jika ragu atau nadi tidak teraba, segeralah lakukan pijat jantung atau resusitasi jantung paru (RJP) untuk menjaga aliran darah ke otak tetap berjalan.
Dokter juga memaparkan rahasia kualitas jantung didapat dari rumus tidur "43210" yakni kurang tidur (kurang dari 6-8 jam sehari) atau kebiasaan bergadang memicu penumpukan radikal bebas dan racun di tubuh karena sel-sel gagal melakukan regenerasi.
Pada malam hari dalam kondisi gelap, tubuh memproduksi hormon melatonin yang berfungsi melindungi jantung dan pembuluh darah.
"Hormon ini tidak akan terbentuk jika kita tidur di siang hari," terangnya.
Untuk mendapatkan kualitas tidur dalam (deep sleep), dr. Ratri membagikan metode 43210:
4 Jam sebelum tidur: Berhenti melakukan aktivitas fisik berat atau olahraga yang memicu detak jantung.
3 Jam sebelum tidur: Berhenti mengonsumsi makanan berat untuk menghindari risiko asam lambung naik (GERD).
2 Jam sebelum tidur: Kurangi atau batasi minum air putih dalam jumlah banyak agar tidur tidak terganggu oleh keinginan buang air kecil.
1 Jam sebelum tidur: Matikan dan jauhkan semua gadget, laptop, atau TV karena radiasi sinar biru (blue light) dapat mengganggu hormon tidur.
0: Sesegera mungkin sebelum naik ke tempat tidur, kosongkan kandung kemih (buang air kecil terlebih dahulu) agar bisa tidur dengan nyenyak tanpa terbangun di tengah malam.
Sebagai langkah preventif, dr. Ratri menyarankan masyarakat untuk memanfaatkan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dari pemerintah atau melakukan Medical Check Up (MCU) mandiri setidaknya setahun sekali, dimulai sejak usia 20 tahun. Jika hasil pemeriksaan awal bagus, pemeriksaan berkala bisa diulang setiap tiga tahun sekali.
Pemeriksaan dasar ini meliputi pengukuran tekanan darah (untuk mendeteksi hipertensi tersembunyi), rekam jantung (EKG/treadmill), serta pemeriksaan darah untuk melihat profil lipid (kolesterol total, LDL, HDL, trigliserida) dan kadar gula darah.
Untuk mendukung gerakan masyarakat hidup sehat (GERMAS), RSUD Bukit Menoreh yang berlokasi di Jalan Magelang-Purworejo KM 15, Salaman, Kabupaten Magelang, kini telah menyediakan berbagai paket layanan MCU dan screening kesehatan jantung lengkap. Pendaftaran poliklinik dibuka setiap hari mulai pukul 07.00 hingga 12.00 WIB.
"Jantung kita sudah bekerja keras berdenyut sejak kita berupa janin usia empat minggu hingga hembusan napas terakhir kita. Sayangi jantung kita, karena waktu tidak bisa diputar kembali. Jadikan kesehatan sebagai investasi masa depan terbaik Anda," tutup dr. Ratri.
@kominfomagelang Pemerintah Kabupaten Magelang secara resmi melepas keberangkatan calon jemaah haji Kloter 81 di halaman Setda Kabupaten Magelang, Rabu (20/5/2026). Pelepasan kloter terakhir tahun ini dipimpin oleh Wakil Bupati Magelang, Sahid. Sebanyak 254 jemaah diberangkatkan menggunakan delapan armada bus menuju Asrama Haji Donohudan. Kloter 81 dikenal sebagai kloter “sapu jagad” karena menggabungkan jemaah asal Magelang dengan jemaah dari sejumlah daerah lain di Jawa Tengah. Diharapkan seluruh jemaah diberikan kelancaran dalam menjalankan ibadah serta kembali ke tanah air dengan predikat haji yang mabrur. #haji #magelang #anyargress ♬ original sound - kominfomagelang
0 Komentar