BERITAMAGELANG.ID - Superflu merupakan penyakit flu dengan tingkat penularan dan risiko komplikasi yang lebih tinggi dibanding flu biasa. Risiko komplikasi superflu meliputi pneumonia, peradangan paru-paru, sesak napas, demam tinggi berkepanjangan, serta memperburuk penyakit penyerta.
Hal tersebut diungkapkan dr. Rony Kendiartanto, Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSUD Merah Putih saat menjadi narasumber di acara talkshow Jamus Gemilang di LPPL Radio Gemilang FM, Senin (26/1).
"Berbeda dengan flu biasa yang umumnya ringan, superflu memiliki gejala lebih berat, masa pemulihan lebih lama, dan berisiko memerlukan penanganan medis intensif jika tidak ditangani sejak dini. Upaya pencegahan dan deteksi dini menjadi penting untuk meminimalkan penyebaran dan dampak kesehatan yang ditimbulkan," kata Rony
Superflu perlu diwaspadai karena dapat menyerang berbagai kelompok usia, terutama anak-anak, lansia, ibu hamil, orang dengan penyakit penyerta (diabetes, jantung, paru, dll) serta individu dengan daya tahan tubuh rendah.
"Superflu merupakan kondisi influenza dengan tingkat penularan yang lebih cepat dan perlunya kewaspadaan serta upaya pencegahan sejak dini," terang dr. Rony.
Langkah langkah pencegahan yang dapat dilakukan, antara lain menerapkan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat), konsumsi makanan bergizi dan vitamin, cukup minum dan istirahat, menggunakan masker saat sakit atau di kerumunan, cuci tangan secara rutin, hindari stres berlebihan, serta lakukan vaksinasi influenza.
"Superflu menular melalui droplet (percikan ludah saat batuk, bersin, atau berbicara). Polanya menyerupai cara penularan COVID-19," lanjutnya.
Masyarakat diimbau untuk tidak menyepelekan gejala awal flu, terutama jika disertai demam tinggi, batuk berkepanjangan, nyeri otot, sakit kepala dan kondisi tubuh yang melemah.
"Jika gejala tidak membaik dalam 2-3 hari dan gejala semakin berat masyarakat disarankan untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan agar dapat ditangani secara cepat dan tepat," tutup dr. Roni.
0 Komentar