Pawai Ogoh-ogoh Sambut Hari Raya Nyepi di Magelang

Dilihat 2178 kali
Pawai ogoh-ogoh sambut hari raya Nyepi di Magelang, Jawa Tengah, Jumat (16/03)

BERITAMAGELANG.ID - Menyambut Hari Raya Nyepi Saka 1940 atau 2018 Masehi, sore ini digelar pawai Ogoh-ogoh yang diikuti sebanyak 200 lebih Umat Hindu di Magelang, Jawa Tengah.


"Tujuan utama diadakannya kegiatan ini adalah untuk mempersiapkan diri para umat Hindu di Magelang sebelum Catur Brata Penyepian," ujar Ketua Parishada Hindu Indonesia (PHDI) Kabupaten Magelang, I Gede Suarti, sebelum melaksanakan kegiatan arak-arakan Ogoh-ogoh, di depan Drop Off Artos Mall Magelang, Jumat (16/03) sore.


Sebelumnya, lanjut I Gede Suarti, pihaknya telah melaksanakan Upacara Pembersihan diri di sumber mata air Tukmas, Grabag, Kamis (15/03), yang disebut dengan Upacara Melasti.


"Upacara Melasti sendiri adalah upacara membersihkan diri secara jasmani dan rohani, dan sekaligus membersihkan segala perangkat sembahyang yang ada di Pura Wira Buana," imbuhnya.


Dengan digelarnya arak-arakan Ogoh-ogoh tersebut, diharapkan dapat mengusir roh jahat yang ada di dalam tubuh ataupun di luar tubuh manusia, agar tidak mengganggu dalam rangka kegiatan Catur Brata Penyepian.


"Tema Ogoh-ogoh ini adalah Bima mencari Tirta Amerta (air suci berkah), yang artinya Bima disuruh oleh Resi Drona untuk mencari Tirta Amerta untuk kesejahteraan manusia," jelas I Gede Suarti.


Dalam kegiatan kali ini, sebanyak dua Ogoh-ogoh bernama Rukmuka dan Rukmakala diarak menuju Pura Wira Buana, Akmil, Magelang.


"Untuk rute arak-arakan sendiri start dari halaman drop off Artos Mall, lalu menuju ke Jalan Jendral Sarwo Edi, dan berakhir di Pura Wira Buana, untuk dilanjutkan dengan sembahyang hingga pukul 22.00 WIB" tutupnya.


Ogoh-ogoh adalah karya seni patung dalam kebudayaan Bali yang menggambarkan kepribadian Bhuta Kala. Dalam perwujudan patung yang dimaksud, Bhuta Kala digambarkan sebagai sosok yang besar dan menakutkan; biasanya dalam wujud 'Rakshasa'. Dalam fungsi utamanya, Ogoh-ogoh sebagai representasi Bhuta Kala, dibuat menjelang Hari Nyepi dan diarak beramai-ramai keliling desa pada senja hari Pangrupukan, sehari sebelum Hari Nyepi.



Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar