Bahagia Sederhana Pengungsi Di Banyurojo: Menikmati Menu Opor Ayam

Dilihat 1558 kali
Ibu-ibu di dapur umum TEA Banyurojo Mertoyudan memasak menu istimewa, opor ayam

BERITAMAGELANG.ID - Pengungsi yang menempati Tempat Evakuasi Akhir (TEA) Banyurojo Mertoyudan Kabupaten Magelang, nampak bergembira. Pasalnya, hari ini, Selasa (26/1/2021) mereka menikmati menu opor ayam. Bagi mereka, menu ini sangat istimewa. Karena sejak tinggal di pengungsian pada November 2020 lalu, menu opor jarang ditemui.


Sehari-hari, mereka lebih sering makan dengan menu sayur, seperti sawi, wortel, jipang, kol dan sejenisnya. 


"Alhamdulillah hari ini bisa menikmati opor ayam. Ini sungguh istimewa. Terima kasih untuk yang sudah berdonasi kepada kami," kata Dasri, koordinator pengungsi Dusun Babadan 1 Desa Paten Kecamatan Dukun, Selasa (26/1/2021).


Dasri mengaku sangat bersyukur karena menu yang disajikan cukup beragam. Meskipun berbahan dasar sayur, diolah menjadi masakan dengan rasa yang enak. 


Pengungsi juga senang menikmati apa yang disajikan tim  dapur umum. Apalagi mereka memasaknya bersama-sama dengan kaum ibu pengungsi, sehingga soal rasa saling berkolaborasi. 


Menurut Dasri, selama di pengungsian, lauk telur paling sering disajikan. Kadang dimasak sambal goreng, didadar atau dibikin semur.


"Mungkin telur cukup awet dan mudah mengolahnya. Anak-anak dan dewasa juga cukup menyukai," katanya. 


Namun demikian, pengungsi juga pernah mendapat lauk lele dan bandeng presto. 


"Saya punya teman dari DLH yang lima hari berturut-turut kirim lauk ayam, lele, bandeng presto, ayam lagi. Alhamdulillah, banyak yang peduli pada kami," ucapnya.


Untuk sayuran, menurut Dasri, kadang dibawa dari Dusun Babadan karena mayoritas warga di sini petani hortikultura. 


"Namun pihak TEA juga beli di pasar atau dari Desa Paten dan dusun tetangga juga mengirim," imbuhnya.


Naning, salah satu juru masak di TEA Banyurojo mengatakan, hari ini mereka mengolah ayam untuk dijadikan opor. Ayam ini merupakan donasi dari seseorang di Yogyakarta. 


"Orang itu memberi 20 ekor ayam negeri," katanya.


Ia mengatakan, setiap hari menu yang disajikan berbeda. Pagi, siang dan malam menunya tidak sama. Karena untuk satu kali masak, disajikan untuk satu kali makan. 


"Namun kalau masih ada sisa nanti dihangatkan untuk disajikan lagi," katanya. 


Disampaikan pula, untuk menu tergantung dari stok sayur dan bahan yang ada. Nanti ada petugas yang menentukan menu setiap harinya.


Naning menyebutkan, di TEA Banyurojo, ada tim yang khusus memasak sebanyak 6 orang, termasuk dirinya. Tim ini bekerja mulai jam 4 pagi untuk menyediakan sarapan. Mereka bekerja hingga sore. 


Sedangkan ibu-ibu PKK Banyurojo, membantu "racik-racik" seperti mengupas dan mengiris bawang merah dan putih, mengiris cabe, sayur dan sebagainya. Para pengungsi terutama kaum perempuan juga setiap saat membantu memasak.


Plt Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Magelang Edy Susanto bisa memahami apa yang dirasakan para pengungsi. 


"Karena ini kondisi darurat, maka semuanya serba darurat. Memang tidak bisa sama ketika kita berada di rumah. Ini yang harus dipahami bersama. Namun kami tetap akan melayani para pengungsi," tandasnya.

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar