BPPTKG Prediksi Erupsi Merapi Tidak Sebesar 2010

Dilihat 2030 kali
Gunung Merapi dari Desa Ketep Kecamatan Sawangan Kabupaten Magelang

BERITAMAGELANG.ID - Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) memprediksi erupsi Merapi kali ini mengulangi pola sebelumnya. 


"Kalau kita lihat datanya tidak seperti 2010, lebih kecil dan lebih besar dari 2006. Besok pola erupsinya mau bagaimana yang penting masyarakat selalu siap,” kata Perekayasa Ahli Madya BPPTKG, Dewi Sri Sayudi dalam Sosialisasi Kondisi Merapi Terkini di Kantor Desa Ngargomulyo Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang, Jumat (4/12/2020).


Menurutnya, letusan 2010 merupakan erupsi terbesar abad ini. Letusan 2010 sangat dahsyat dan membentuk kawah yang begitu besar. Setelah itu ada letusan freatik berupa gas pada 11 Mei 2018. Pada letusan ini memulai periode baru, yakni lahirnya kubah lava.


Dewi menjelaskan, dalam proses kali ini lebih lengkap, memiliki kemiripan dengan fase erupsi tahun 1874 dan 2006, yakni diakhiri pembentukan kubah lava dengan erupsi berupa evusif mengalir membentuk kubah.


Pada 20 Juni 2020, seismik dan deformasi Gunung Merapi meningkat. Kemudian pada 5 November 2020 aktivitas Merapi dinaikan menjadi Siaga dan harus ada evakuasi.


“Namun karena pandemi, pengungsi diminimalisir agar tidak terjadi klaster baru penyebaran Covid-19,” jelasnya.


Dewi membandingkan, dari data 2010, deformasi terjadi per tiga hari, gempa vulkanik dalam sangat tinggi, jumlahnya mencapai ratusan. Sedangkan pada 2020 gempa vulkanik dangkal masih lebih rendah, jumlahnya puluhan.


Meski demikian, lanjutnya, deformasi hingga saat ini masih berjalan terus. Perkembangan tubuh Gunung Merapi sampai hari ini masih cenderung membengkak. Kegempaan itu memicu guguran tebing di sektor barat ke hulu sungai di wilayah Kabupaten Magelang.


"Yang dari sektor barat laut Babadan 11 cm per hari. Jika melihat data yang ada, bahaya tetap berada di 5 km kurang atau lebih," imbuhnya.


Untuk itu masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan baik yang beraktivitas di bantaran sungai mauapun di Kawasan Rawan Bencana (KRB) III.


Dari pemantauan saat ini, jelas Dewi, baik data seismik, deformasi dan morfologi di puncak Merapi masih tinggi. Aktivitas itu mengakibatkan perubahan morfologi di puncak, baik di kawah maupun bibir sungai. 


Selain itu muncul retakan-retakan di bibir kawah. Konsentrasi gas Co2 juga meningkat. Menandakan magma naik ke permukaan. Wilayah barat berpotensi terkena dampak erupsi.


"Jika eksplosif kemungkinan tidak sebesar 2010. Masyarakat harus mengikuti arahan dari pemerintah agar tidak terpengaruh dengan berita yang tidak jelas sumbernya," tandasnya.

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar