Dewan Riset Daerah Antisipasi Potensi Bencana Sungai Purba di Lereng Merapi

Dilihat 2440 kali
Dr. Helmy Murwanto, Pakar Bidang Geologi yang juga Anggota Dewan Riset Daerah Kabupaten Magelang saat mengisi Seminar Dewan Riset Daerah Kabupaten Magelang, di Pendopo Soepardi, Kompleks Setda Kabupaten Magelang, Rabu (19/12).

BERITAMAGELANG.ID - Kabupaten Magelang merupakan kawasan yang paling sering dilanda bencana erupsi Gunung Merapi.  Sejarah kejadian bencana tersebut menarik untuk diteliti, terutama daerah yang pernah terlanda aliran piro-klastika dan lahar. Hal tersebut disampaikan Dr. Helmy Murwanto, Pakar Bidang Geologi yang juga Anggota Dewan Riset Daerah Kabupaten Magelang saat mengisi Seminar Dewan Riset Daerah Kabupaten Magelang, di Pendopo Soepardi, Kompleks Setda Kabupaten Magelang, Rabu (19/12). 


"Penelitian ini bertujuan mengetahui sebaran material gunung api dan alur sungai purba. Metode yang digunakan dalam penelitian ini dengan survei lapangan,  analisis laboratorium, dan wawancara dengan masyarakat," jelas Helmy dalam seminar yang diselenggarakan Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah (Bappeda Litbangda) Kabupaten Magelang tersebut.


Hasil penelitian menunjukkan, di Kabupaten Magelang terdapat banyak lembah sungai yang berhulu di Gunung Merapi dan berfungsi sebagai tempat aliran piro-klastika dan aliran lahar. Keberadaan lembah sungai antara masa lampau dengan sungai sekarang telah mengalami perubahan. Indikasi adanya sungai purba adalah di sepanjang jalur lembahnya ditemukan bongkah-bongkah material gunung api.


"Bekas alur sungai tersebut saat ini digunakan warga setempat untuk permukiman, lahan pertanian, dan perikanan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa alur-alur sungai purba banyak ditemukan di Kabupaten Magelang dan berpotensi terlanda bencana erupsi Gunung Merapi," ungkap Helmy dalam seminar bertema “Menelusuri Jejak Bencana Tektonik dan Vulkanik Kabupaten Magelang" tersebut. 


Helmy memaparkan, ia melakukan penelitian tersebut di lereng barat daya Gunung Merapi yang berada di Kabupaten Magelang. Lokasi dapat dicapai dengan mudah menggunakan kendaraan bermotor, kecuali pada beberapa lintasan dengan jalan kaki, diantaranya Sungai Pabelan, Sungai Lamat, Sungai Blongkeng, Sungai Putih, Sungai Batang dan Sungai Bebeng.


"Untuk mitigasi bencana Gunung Merapi, perlu upaya serius agar bantaran sungai tidak dipergunakan untuk permukiman, selain itu perlu dibangun infrastruktur pengarah aliran sungai seperti tanggul sepanjang bantaran sungai yang berhulu di sekitar puncak Merapi. Juga perlu pengendalian aktivitas penambangan batu/pasir, baik yang berada di dalam alur maupun dinding sungai," tandasnya.


Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan, Cahya Edi Pramana, S.Hut. mewakli Kepala Bappeda Litbangda Kabupaten Magelang menambahkan, seminar ini merupakan rangkaian Pekan Kelitbangan yang diselenggarakan sejak Senin (17/12).


Rangkaian kegiatan meliputi, Seminar Pendidikan Untuk Semua (PUS) bertema "Pendidikan Sepanjang Hayat, Pendidikan Untuk Semua" (17/12); Anugerah Krenova dan Workshop Pengembangan Ekonomi Lokal (18/12); Seminar bertema "Menelusuri Jejak Bencana Tektonik dan Vulkanik di Kabupaten Magelang (19/12); dan Seminar berteman Meningkatkan Akses Pendidikan Dasar (20/12).


"Kita coba merangkai kegiatan yang ada di Bappeda dan dinas lain, kita angkat jadi Pekan Litbang yang harapannya bermanfaat bagi masyarakat. Seminar ini akan mengenal bagaimana jejak Merapi yang sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Dan sungai purba bisa jadi potensi bencana yang harus kita antisipasi, terutama di Kabupaten Magelang," ujarnya mengakhiri.  


Seminar tersebut diikuti puluhan anggota Dewan Riset Daerah Kabupaten Magelang,

Perwakilan SKPD terkait, Camat se-Kabupaten Magelang, para Kepala Desa yang berada di daerah rawan bencana Merapi, relawan dan komunitas kebencanaan serta beberapa LSM.



Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar