Jelang Waisak Umat Budha Gelar Ritual Perdamaian Larung Pelita Purnama Sidhi Di Sungai Progo

Dilihat 916 kali
Ritual Larung Pelita Purnama Sidhi di alur Sungai Progo Kabupaten Magelang simbol harapan kedamaian umat Budha menjelang perayaan Waisak 2568 BE/2024

BERITAMAGELANG.ID - Ratusan umat Buddha menggelar ritual Larung Pelita Purnama Sidhi di alur Sungai Progo Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang Selasa (21/05/2024) malam.

Ketua Majelis MUNI Indonesia Rama Lama Santoso mengatakan ritual Larung ini merupakan bagian dari kegiatan Borobudur Peace and Prosperity di kawasan Candi Borobudur Kabupaten Magelang. Beragam kegiatan Borobudur Peace and Prosperity pada 21-23 Mei 2024 menggabungkan budaya, seni, dan keberagaman yang tujuan utamanya adalah untuk kesejahteraan dan perdamaian dunia.

"Larung Pelita ini dipersembahkan dan didedikasikan untuk kebahagiaan semua makhluk," ungkap Rama di kegiatan tersebut.

Sementara itu, ritual larung pelita diawali dengan arak arakan persembahan menuju alur Sungai Progo dengan berjalan kaki. Tak hanya para Biksu dan umat Buddha, kegiatan Larung Pelita Purnama Sidhi juga diikuti oleh seniman dan budayawan di sekitar kawasan Borobudur.

Menurut Rama Larung Pelita Purnama Sidhi ini juga menjadi ritual doa umat Budha sebelum mengikuti perayaan di perayaan Hari Tri Suci Waisak Nasional 2568 BE/2024 pada kamis 23 mei 2024 yang dipusatkan di kawasan Candi Borobudur.

Sedangkan kegiatan Borobudur Peace and Prosperity digelar di Taman Aksobya komplek Candi Borobudur,

Diantara kegelapan malam alur Sungai Progo, ribuan pelita itu kemudian dilepaskan diiringi sejumlah tarian puja.

Bagi umat Budha pelita itu menjadi simbol sarana pembawa doa dan harapan agar tercipta harmoni perdamaian di dunia dan bangsa indonesia pada khususnya.

Menurut Rama pelapasan pelita di alur sungai sudah lama dilakukan oleh umat Budha sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara seperti Malaysia, Singapura dan Indonesia. Dimana setiap melepas pelita, umat akan menuliskan keinginan memohon dan apa yang diharapkan.

Sedangkan Sungai Progo dipilih sebagai tempat larung pelita karena merupakan salah satu sungai yang mengalir deras dan terhubung dengan laut selatan pulau Jawa.

Api untuk menyalakan pelita berasal dari api abadi yang diambil di Mrapen Grobogan dan telah disemayamkan di altar Candi Mendut.

"Apa yang di inginkan ditempel di pelita tujuannya agar semua doa dan harapan berjalan terus seperti alur sungai ini,"  terangnya.

Editor Slamet Rohmadi

0 Komentar

Tambahkan Komentar