Kemenag Dorong Upaya Pemasangan Chattra di Candi Borobudur

Dilihat 863 kali
Penampakan Chattra yang tersimpan di Museum dan Cagar Budaya (MCB) Borobudur

BERITAMAGELANG.ID - Rencana pemasangan chattra semakin mencuat usai terselenggaranya rapat koordinasi nasional (rakornas) pada Juli lalu dengan beberapa menteri. Namun, rencana tersebut masih dalam tahap kajian dan menimbulkan polemik karena dinilai tidak asli dan merupakan batu baru.


Dirjen Bimbingan Masyarakat Buddha, Kemenag RI, Supriyadi mengatakan, rencana pemasangan chattra Candi Borobudur sudah pernah dibahas. Tepatnya saat rapat koordinasi nasional (rakornas) pengembangan lima destinasi pariwisata super prioritas (DPSP) semester 1 pada Jumat (21/7) lalu.


Kajian soal pemasangan chattra ini bakal terus dilakukan. Kemenag pun sudah berkirim surat kepada Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk merumuskan kebijakan pemasangan chattra.


"Karena dari segi keagamaan, hal itu menjadi salah satu penyempurna stupa candi," ujarnya saat ditemui, Rabu (11/10).

 

Selain itu, pemasangan chattra di atas stupa induk Candi Borobudur, juga dinilai menambah aura spiritualitas umat Buddha. Rencana tersebut, kata dia, tidaklah mudah karena harus berkoordinasi dengan instansi terkait. Sebab, pengembangannya tidak serta-merta menjadi kewenangan dari Kemenag.


Dia menuturkan, rencana pemasangan chattra tersebut saat ini terus berproses guna menyempurkan keagungan Candi Borobudur. Serta dinilai dapat menambah aura spiritualitas umat Buddha. Harapannya dapat segera direalisasikan.


Kemenag pun mendukung sepenuhnya pemasangan chattra sebagai pelengkap Candi Borobudur.


"Pemasangan ini tidak serta-merta inisiatif dari Kemenag, tapi juga usulan dari umat Buddha," ujarnya.


Bebatuan yang merupakan bagian chattra itu kini tersusun di komplek Museum dan Cagar Budaya (MCB) Borobudur. Keinginan dan permintaan untuk memasang kembali chattra mulai muncul sekitar 2008-2009. Yang didasarkan melalui diskusi panjang para arkeolog dengan memperhatikan kaidah dan prinsip pemugaran.

 

Tapi, saat itu, keputusannya chattra tidak layak untuk dipasang kembali. Lantas, keinginan untuk memasang chattra kembali muncul pada 2018. Namun, hasilnya masih sama. Tidak layak untuk dipasang. Lalu, pada 2023 ini, kembali mencuat soal rencana pemasangan chattra Candi Borobudur.


Dalam hal ini, staf MCB Unit Warisan Dunia Candi Borobudur Hari Setyawan menjelaskan, dari data arkeologi, tidak ada satupun candi Buddha dari abad ke-7 hingga ke-10 yang mempunyai elemen arsitektural berupa chattra. Karena bentuk stupa induk, dibuat sama dengan stupa di bawahnya.


MCB juga sudah berkali-kali menyampaikan kepada pemerintah bahwa chattra yang sekarang ada, tidak asli. 


"Kenapa van Erp membawa batu-baru tersebut? Inilah yang kami namakan salvage archeology. Artinya, dia mengambil beberapa balok batu di sekitar situs Candi Borobudur," kata Hari dikantornya, Rabu (11/10).

 

Dia pun tidak mengetahui secara pasti asal-usul batu itu. Karena ada beberapa kemungkinan bahwa batu itu berasal dari sekitar Borobudur. Yang jelas, struktur bebatuan itu bukan chattra dari Candi Borobudur.

 

Dari segi struktural, chattra terdiri dari 13 lapis. Sambungan antar batu dibuat menggunakan batu beton bertulang oleh van Erp. Jika chattra yang kini ada di komplek MCB asli, sambungannya tidak menggunakan beton bertulang. Melainkan menggunakan sistem kuncian antar batu.

 

Hari menambahkan, ada beberapa batu hasil rekayasa van Erp yang digunakan untuk menyusun chattra. Pertama, batu van Erp yang membentuk batu andesit. Kedua, batu rekondisi yang merupakan balok batu asli Candi Borobudur.


"Kemudian, batu Stutterheim. (Dia) juga berusaha memasang kembali chattra. Tapi, dia meninggal tragis di tahanan Jepang. Terakhir, batu yang baru dibuat saat ini," sebut Hari.



Batu-batu itu, untuk melengkapi bentuk rekayasa oleh van Erp yang merupakan bagian dari sejarah. Dia menilai, nilai spiritualitas Candi Borobudur, tidak tergantung pada chattra-nya.


"Tapi adalah mandala, posisi candi, dan juga komponen-komponen penyusunnya," sambungnya.

 

Sementara itu, salah satu tokoh pemugar Candi Borobudur, Ismijono, menjelaskan, saat pemugaran kedua pada 1973-1983, mereka tidak menemukan chattra. Karena pemugaran itu tidak menyentuh hingga stupa induk Candi Borobudur.

 

Terlebih, lanjut dia, candi-candi Buddha umumnya tidak memiliki chattra. Seperti halnya Candi Mendut yang hanya memiliki stupa, tapi tidak ada chattra di atasnya.


"Kalau berorientasi pada aspek perlindungan, maka itu (pemasangan) tidak bisa dilakukan," ungkapnya.



Namun, ketika berbicara soal pengembangan dan pemanfaatan Candi Borobudur, haruslah melibatkan beberapa disiplin ilmu. "Kalau dari dokumen Raffles, chattra itu tidak ada. Itu (pemasangan chattra) prinsipnya adalah bagaimana mempertahankan keaslian bentuk," pungkasnya.

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar