Bangga Produk Indonesia

Dilihat 6116 kali
Foto kerajinan dari Godong Pawon Borobudur. Mengonsumsi produk dalam negeri merupakan kontribusi besar dalam mendukung ekonomi nasional sekaligus menguatkan sikap nasionalisme.

Sudah bukan rahasia umum, bahwa sebagian masyarakat Indonesia masih memandang rendah produk dalam negeri dalam berbagai bidang, baik produk rumah tangga, suvenir, kebutuhan primer, dan lain-lain. Semua produk dalam negeri dianggap tidak selevel dengan produk luar negeri. Padahal karya anak-anak bangsa sudah merambah ke berbagai sektor yang dapat disejajarkan dengan produk luar negeri.


Hal ini sesuatu yang memprihatinkan. Kondisi ini terjadi disebabkan masyarakat Indonesia kurang percaya diri terhadap produk lokal. Mereka terlanjur berpikiran bahwa produk luar negeri lebih baik dari merk dalam negeri. Pola pikir tersebut kiranya perlu disadarkan kembali, bahwa dengan mencintai produk dalam negeri sudah merupakan kontribusi besar dalam mendorong ketahanan ekonomi nasional dan sikap bela negara.


Gerakan Nasional


Menyikapi berbagai fenomena yang berkembang di ranah publik terkait dengan produksi dalam negeri pemerintah telah mengeluarkan Kepres No. 5 tahun 2021 tentang Tim Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI) beberapa waktu lalu. Dua hal yang ditekankan dari Gernas BBI yakni pertama,upaya mendorong masyarakat untuk mencintai dan membeli produk lokal terutama dari produk-produk UMKM Indonesia.


Kedua, mendorong UMKM-UMKM untuk memanfaatkan teknologi digital dalam mendukung usaha. Khusus di masa pandemi maka yang relevan adalah bagaimana UMKM bisa tetap memperluas jaringan pemasaran tidak hanya secara offline namun juga bisa secara online.


Adapun salah satu target tugas Tim Gernas BBI adalah peningkatan jumlah penjualan atau transaksi pembelian produk lokal dan percepatan siklus ekonomi melalui produk lokal. Namun sampai saat ini ditengarai gaung Gernas BBI belum menggema secara masif di masyarakat. Padahal hal ini merupakan masalah yang sangat urgen dalam merespon dan menyikapi masalah ekonomi Indonesia, terlebih pada saat ini dampak pandemi sangat dirasakan di berbagai sektor (Triyana Yohanes, 2021).


Pemerintah Indonesia kini telah berjuang keras untuk meningkatkan pendapatan per kapita guna memperbaiki kesejahteraan ekonomi dan menjadi negara maju, adil, dan sejahtera. Salah satunya dengan menaikkan pendapatan per kapita. Hal ini bisa ditempuh dengan upaya antara lain menggalakkan konsumsi produk dalam negeri dan meningkatkan produk ekspor Indonesia, sehingga dapat memicu kenaikan produktivitas ekonomi Indonesia.


Hal itu dapat terwujud apabila seluruh masyarakat membantu untuk memiliki rasa cinta dan mengonsumsi produk bangsa Indonesia sendiri. Namun disadari sampai saat ini rasa mencintai produk dalam negeri tersebut masih belum sesuai harapan. Setidaknya terdapat dua jalan yang bisa ditempuh untuk membentuk komitmen masyarakat agar lebih memakai produk dalam negeri.


Pertama, aspek nasionalisme masyarakat Indonesia. Sisi nasionalisme menyebabkan seseorang lebih mengedepankan pemakaian produk dalam negeri dibanding produk impor yang menjadi alternatif bagi pemenuhan kebutuhannya, dikarenakan adanya motivasi atau rasa bangga untuk berbuat yang terbaik demi kepentingan bangsa. Tipe konsumen seperti ini tentunya sangat menguntungkan bagi perkembangan produksi dalam negeri.


Upaya meningkatkan nasionalisme diperlukan langkah-langkah yaitu persuasif, propaganda dan edukatif. Upaya persuasif dilakukan dengan pendekatan-pendekatan simpatik dan menarik kepada masyarakat agar mereka lebih tergugah untuk membeli produk dalam negeri.


Selanjutnya upaya untuk meningkatkan konsumsi masyarakat akan produk dalam negeri juga dapat dilakukan dengan cara propaganda atau promosi. Pihak terkait menyampaikan keunggulan-keunggulan produk dalam negeri.


Perlu juga disampaikan bahwa membeli produk dalam negeri berarti memperkuat pasar domestik yang selanjutnya berdampak positif kepada pertumbuhan ekonomi nasional. Lebih jauh lagi, meningkatkan konsumsi produk dalam negeri juga bisa dilakukan dengan edukasi kepada masyarakat. Hal ini penting dilakukan karena faktanya kualitas produk dalam negeri Indonesia tidak kalah dengan produk luar negeri.


Kedua, rasionalisme masyarakat. Rasionalisme menyebabkan seseorang cenderung menempatkan piihan atas produk yang digunakannya berdasarkan atas pandangan yang lebih realistis. Dengan adanya kenyataan ini, komitmen pemakaian produk dalam negeri tidak cukup hanya ditumbuhkan dengan propaganda. Upaya untuk meningkatkan pemakaian produk dalam negeri bagi kelompok masyarakat realistis ini mencakup berbagai aspek baik peningkatan kualitas produk dalam negeri,penetapan harga bersaing, maupun diseminasi produk.


Dukungan Semua Pihak


Menyikapi pentingnya kesadaran nasional bahwa bangsa Indonesia perlu mencintai produk sendiri, kiranya Gernas BBI perlu mendapat dukungan semua pihak. Kolaborasi paralel semua pihak dapat memberikan dampak besar agar Gernas BBI dapat terdesiminasikan secara masif.


Semua sektor baik pemerintah maupun swasta perlu ikut peduli dalam ikut mengoptimalkan program tersebut. Dalam setiap kesempatan, seperti agenda protokoler pemerintah, perlu menyampaikan program dan tujuan Gernas BBI. Para pelaku ekonomi perlu juga mendesiminasikan secara maksimal sampai tingkat akar rumput. Tak ketinggalan di lembaga pendidikan, setiap guru baik guru mata pelajaran maupun guru kelas dapat menginterpolasi materi cinta produk dalam negeri kepada peserta didiknya.


Membangun nilai-nilai mencintai produk dalam negeri juga menjadi bagian dari sikap bela negara. Tentunya perlu dibangun sinergitas antara pemerintah dan masyarakat untuk bersama-sama mengubah pola pikir masyarakat dalam mencintai produk sendiri. 


Di samping itu juga perlu dibangun rasa bangga masyarakat untuk mengonsumsi produk bangsa sendiri sebagai wujud dari sikap bela negara atau nasionalisme dalam ranah praksis yang bukan hanya sekadar idealisme semu.


(Oleh: Drs. Ch. Dwi Anugrah, M.Pd., Guru Seni Budaya SMK Wiyasa Magelang)


Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar