Elemen Substansial dalam Proses Penciptaan Seni Tari

Dilihat 3014 kali
Ruang dan waktu merupakan elemen yang sangat substansial dalam proses kreatif penciptaan seni tari

Pada dasarnya seni tari merupakan ungkapan atau pernyataan imajinatif yang divisualisasikan dalan kesatuan ragam semiotika gerak dalam ruang dan waktu. Kehadiran gerak dalam ruang dan waktu merupakan hasil koordinasi organ tubuh yang terkendali sejumlah rangkaian otot-otot. Selain itu secara mekanis, gerak tubuh yang dikendalikan oleh rangkaian otot perlu disuplai sejumlah energi. 


Adapun realisasi energi dalam gerak tari merupakan ikon rasa secara kompleks atau dalam pengertian tari Jawa dikenal dengan sebutan wirasa. Implikasi wirasa ini bisa dikatakan subyektif sekali. Tetapi korelasinya dengan pola ruang dan waktu tidak dapat dilepaskan begitu saja. Ruang, waktu, dan tenaga merupakan suatu kesatuan utuh atau lebih dikenal sebagai tritunggal.


Seni tari sebagai ekspresi jiwa yang diungkapkan melalui gerak ritmis yang estetis tidak bisa melepaskan diri dari elemen tritunggal tersebut. Dengan demikian secara visual ikon ruang dan waktu lebih mendominasi dan bisa diperhitungkan secara signifikan. Maka pertimbangan mendasar pada aspek dasar penciptaan tari lebih mengarah pada elemen ruang dan waktu.


Kehadiran Ruang


Ruang secara konsepsional dapat diterjemahkan sebagai arah, areal, dan level. Kehadiran ruang pada sebuah gerak amat disadari oleh seluruh anggota badan para penari. Secara imajinatif ruang itu akan hadir, manakala dalam sekejap penari yang tampil itu dapat menguasai medan atau tempat pentas. Oleh karena itu kehadiran dari tubuh akan dapat dihayati jika terdapat kesatuan antara tubuh penari itu dengan benda lain di sekitarnya.


Pemahaman ruang sebagai elemen tari memiliki korelasi dengan kekuatan-kekuatan motor penggeraknya, yaitu struktur ritmis dari pola gerakan yang terjadi dalam ruang itu. Gerakan yang disebabkan kekuatan motor penggerak tersebut membentuk aspek-aspek ruang, sehingga ruangan menjadi hidup sebagai elemen estetis. 


Ruang tari merupakan lantai tiga dimensi yang di dalamnya seorang penari dapat mencipta suatu imaji dinamis. Mary Wigman seorang koreografer dari Jerman berkali-kali menggunakan ruang sebagai elemen aktif. Kadang dianggap sebagai lawan. Ia lebih jauh mendefinisikan tari sebagi motivasi kekuatan dalam ruang dan sebagai pencipta ruang.


Seorang penari dengan keterampilan gerak dapat membuat illusi-illusi, sehingga ruang menjadi fleksibel dan luar biasa eksistensinya. Penonton benar-benar melihat dan menyadari kehadiran aspek-aspek ruang karena gerakan tubuh secara keseluruhan, sehingga merupakan komponen visual tari yang kuat. Kesadaran ruang, bagi seorang penari merupakan bagian yang terpenting dari sekian penghayatan.


Kerangka ruang merupakan suatu lingkup yang amat signifikan dalam proses kreatif. Timbulnya bentuk-bentuk dan desain-desain gerak membuat seluruh arena pentas itu turut berbicara sehingga penonton tidak terlepas dalam memperhatikan. Bagi seoranng penari kerangka ruang merupakan bagian yang sangat berpengaruh baik fisik atau psikis. Sebuah pintu yang lebarnya hanya cukup dilalui dua orang bersama-sama, kemudian pintu itu harus dilalui tiga orang bersamaan, maka para penari itu akan mengadakan penyesuaian, mungkin mereka akan menggeseer tubuhnya, atau masuknya dengan memiringkan sebagaian tubuhnya. Dengan demikian sensitifitas dan responsif ternyata dituntut dalam diri seorang penari. Sebagai contoh, seorang penari yang diperintahkan untuk bergerak di tepi pantai dengan latar belakang laut yang luas, ternyata tubuh penari itu ditelan oleh ruang yang amat luas, sehingga tubuhnya tidak mampu mendialogkan apa-apa.


Oleh karena itu, ruang pentas merupakan tempat yang paling istimewa bagi seorang penari ataupun koreografer. Membiasakan diri mengenal ruang pentas sebelum pertunjukan atau proses kreatif berlangsung adalah suatu keharusan. Dengan pengenalan sebelumnya rasa skeptisme bisa ditepiskan sehingga menguatkan rasa percaya diri untuk tampil secara total.


Putaran Waktu


Waktu dipahami sebagai faktor pengorganisir dalam setiap kegiatan. Tari dan juga aktivitas lain terjadi dalam putaran waktu. Dalam proses koreografi seorang penata tari ataupun penari perlu menyadari bahwa ia sedang menciptakan sebuah desain waktu. Ketika gerakan berlangsung berarti ada sebuah satuan waktu dibagi-bagi sesuai tujuannya, sehingga menjadi struktur ritmis yang harmonis.


Struktur ritmis tari dengan repetisi dan elaborasinya, menunjukkan suatu kerangka kerja yang membuat kejelasan dan petunjuk bagi pengamat maupun penonton terhadap maksud kesadaran estetis. Karena aspek waktu menysatu pada gerak, maka penari atau koreografer aktivitas kerjanya banyak mengacu pada aspek gerak dan waktu. Dalam format gerakan, waktu sebagai alat memperkuat hubungan-hubungan kekuatan dari rangkaian gerak dan juga sebagai alat untuk mengembangkan kontinuitas serta mengalirkan secara dinamis sehingga menambah keteraturan (Y. Sumandiyo Hadi, 2003).


Dalam sebuah koreografi, waktu itu tampak lebih abstrak ketimbang ruang. Namun kalau diamati lebih dalam akan tetap berbicara, sungguhpun tidak dihadirkan gerak. Memang secara absolut tidak mungkin akan terjadi sebuah bentuk yang dihadirkan dalam arena pentas tanpa ada gerak, karena dengan tanpa gerak itu penikmat tidak akan dapat menikmati adanya dinamika.


Kehadiran waktu secara konsepsional merupakan suatu elemen yang dapat membedakan ciri dan membuat gaya karena pola ritme antara seorang penata tari satu dengan lainnya akan berbeda. Demikian pula dari repertoar tari yang telah ada. Tari Klasik Jawa mempunyai perbedaan yang sangat elementer tentang pola ritmenya bila dikomparasikan dengan tari primitif atau tari rakyat, dan dimungkinkan kehadiran pola-pola ritme tersebut muncul dari musik pengiring atau nyanyiannya.


Dengan demikian, sederetan gerak tersebut yang membedakan bukan hanya bentuknya saja, tetapi pola ritme sebagai kesatuan waktu juga ikut membentuk sebuah koreografi. Merujuk dari pemaparan di atas dapat ditarik suatu konklusi bahwa ruang dan waktu merupakan aspek dominan yang perlu diperhatikan dalam proses penciptaan seni tari. Kehadirannya bisa diperhitungkan, walaupun bukan seperti disiplin ilmu eksakta yang secara matematis menentukan berhasil tidaknya suatu aspek penciptaan.


(Oleh: Ch. Dwi Anugrah, Ketua Sanggar Seni Ganggadata Jogonegoro, Kecamatan Mertoyudan, Kab. Magelang)

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar