Keberlangsungan Aktivitas Festival Seni

Dilihat 1372 kali
Berbagai ajang festival seni bila dikemas profesional akan menjadikan festival tersebut dapat berlangsung secara konsisten dan berkesinambungan.

Seperti diketahui beberapa tahun terakhir ini, terminologi festival sudah menjadi bahasa keseharian, dikarenakan kerapnya kata ini digunakan dengan destinasi yang berbeda-beda. Di masing-masing daerah  baik urban maupun desa, festival terselenggara dengan spesifikasi karakternya masing-masing. Di wilayah urban biasanya festival dikaitkan dengan promosi pariwisata, ulang tahun kota, ataupun penegasan legitimasi. Sedangkan di lingkup desa sangat erat kaitannya dengan upacara ritual, seperti sedekah laut, bersih desa, nyadran, serta sederet peristiwa inisiasi lainnya.

Secara etimologi istilah festival merujuk dari bahasa latin festum yang berarti ramai-ramai. Festival memang identik dengan pesta yang tak bisa dipisahkan dari kesemarakan dan gebyarnya busana, properti, makanan, dan pendukung lainnya terutama keseniannya. Seperti yang sering mengemuka di jagad akademik, bahwa festival sering diartikan sebagai suatu peristiwa pesta periodik dari suatu komunitas, misalnya berkenaan dengan ritus lingkungan, mata pencaharian, syukur, keagamaan, dan lain-lain yang disertai makan bersama. Dengan demikian sebenarnya festival di Nusantara ini sudah ada sejak lama, bahkan sadar atau tidak telah menjadi bagian dari kehidupan komunitasnya.


Dimensi ganda

Hampir semua peristiwa ritual, sosial, agama, dan otorisasi pemerintahan di berbagai tempat dirayakan dengan pesta yang melibatkan kesenian. Beberapa di antaranya dirayakan dalam durasi berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan ada yang sampai beberapa bulan. Festival tersebut mempunyai dimensi ganda, baik secara sosial, kultural, religius, maupun ekonomi termasuk di dalamnya segmen pariwisata.

Atensi banyak orang pada festival alami karena dirasakan auranya sangat masif. Di beberapa daerah yang tidak mempunyai akar tradisi kuat, memang diperlukan penciptaan tradisi baru dengan dimensi lain. Harapannya dapat memunculkan inovasi yang semakin mengkristal sehingga menjadi ciri spesifik daerah tersebut. Pada umumnya dimensi kesenian lebih mendominasi dibanding sisi religi dan sosio kultural lainnya. Sampai saat ini bisa dilihat beberapa daerah atau lembaga telah merintis kegiatan festival yang mapan dengan menunjukkan hasil konkret, seperti Festival Lima Gunung di Magelang, Festival Kesenian Yogyakarta, Festival Kesenian Cak Durasim Surabaya, dan beberapa festival di beberapa daerah lainnya.

Bila dilihat dari perspektif sosiologi, penyelenggaraan festival seni itu kebanyakan melibatkan partisipasi aktif komunitas penyangganya, dilakukan dalam hitungan waktu, dan menjadi suatu kontinuitas di antara aktivitas keseharian sebagai peristiwa bersama. Adapun dari aspek penyelenggaraan dan pesertanya festival dapat terbagi menjadi beberapa jenis yang dipengaruhi oleh destinasi penyelenggaraannya. Ada yang terselenggara oleh komunitas untuk lingkungan internal. Ada oleh masyarakat untuk negara atupun sebaliknya. Ada pula yang diselenggarakan secara bersama-sama oleh negara-masyarakat untuk tujuan pariwisata dan perdagangan. Pola terakhir ini lebih mengedepankan sisi komersial yang bernilai profit.


Memiliki bobot kualitas 

Merebaknya festival di daerah itu bila diamati secara akuratif dan juga menilik dari berbagai pengalaman membuktikan bahwa tak sedikit yang berusia pendek, bahkah ironisnya hanya sekali jadi. Pasca kegiatan tak ada kelanjutanya alias hilang tak berbekas. Adapun yang berjangka panjang hanya dapat dihitung dengan jari. Festival permanen dapat terus berlangsung bila memiliki bobot kualitas yang berkorelasi langsung dengan komunitas pendukungnya.

Tak bisa dinafikan, walaupun konotasi festival itu berarti pesta, namun dalam maknanya yang kemudian berkembang, festival bukanlah sekedar pesta tempat berkumpulnya banyak orang untuk melakukan hura-hura kesenian dengan banyak pemborosan waktu, uang, dan tenaga. Pada dasarnya forum festival merupakan titik energi yang memberi banyak kemungkinan bagi berbagi ataupun sharing sebagai pendorong progresi kreatif seniman dan masyarakat penyangganya. Oleh karena itu festival bisa langggeng diperlukan kejelasan dan kematangan konsepsi  baik tujuan, desain, karakteristik arah dan sebarannya.

Terlebih lagi yang perlu dicermati bagaimana caranya festival itu hendak dihidupi. Berlangsungnya festival akan mempunyai makna historis, bila forum festival sebagaimana etos alam kreatif dunia kesenian itu mampu memberi roh bagi masyarakat pada umumnya. Dengan berkumpulnya sinergi dari berbagai elemen termasuk mereka yang bukan seniman akan dapat saling memberi kontribusi dan pengorbanan bagi berlangsungnya mata rantai perkembangan seni di tengah masyarakat.

Festival yang dapat mendatangkan simpati dan dukungan banyak orang lebih mengarah pada kemasan festival untuk nilai-nilai dasar kemanusiaan (human value) melalui sifat karakteristik budayanya. Idealisme kultural festival dapat dicapai dengan cara mempertahankan nilai-nilai masa lalu dalam konteks kekinian, seperti Pesta Kesenian Bali, Festival Kesenian Yogyakarta, Indonesian Dance Festival di Jakarta yang sampai sekarang terus mendapat aktualisasi sepanjang waktu.

Alangkah menyedihkannya bila festival hanya dipakai sebagai ajang untuk mencari reputasi, target proyek, dan keuntungan semata. Karena sudah bukan menjadi rahasia umum, manakala ada peluang kegiatan entah itu kapabel atau tidak, beberapa kelompok mulai berlomba-lomba mengajukan proposal ke penyandang dana, seperti layaknya mengejar proyek. Manakala telah terealisasi, mereka hanya lebih terfokus bagaimana bisa merekayasa pengeluaran yang ujung-ujungnya untuk kepentingan sesaat.

Kembali lagi keberlangsungan festival harus diikuti kebersamaan dengan niat tulus, tanpa pamrih, ataupun bukan ambisi untuk memperoleh profit ataupun jabatan. Untuk itu guna mengembalikan citra dan kerjanya yang ideal, diperlukan rumusan tema utama atupun regulasi yang disepakati bersama guna meminimalisir berbagai kepentingan ataupun konflik baik internal maupun eksternal.

Akhirnya penyelenggaraan festival itu memang harus memilih antara kualitas dan kuantitas. Di sini integritas dan kredibilitas sebuah festival akan ditentukan kontinuitasnya. Kelanggengan suatu festival akan dapat dinilai publik dari perspektif kualitasnya, bukan dari ingar bingarnya yang tanpa makna.

 

(Oleh: Ch. Dwi Anugrah, Ketua Sanggar Seni Ganggadata Jogonegoro, Kecamatan Mertoyudan, Kab. Magelang)

            


Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar