Dalam perjalanan waktu yang terus berubah, sederet memori muncul silih berganti yang tidak terlupakan. Kisaran tahun 80-an banyak orang-orang desa berbondong-bondong datang ke rumah kepala desa hanya untuk menonton siaran televisi hitam putihnya yang pada waktu itu masih langka. Mereka sangat antusias menonton siaran seni pertunjukan ketoprak dan wayang orang yang ditayangkan oleh TVRI. Jauh sebelum acara dimulai mereka sudah berdatangan dan berebut mencari tempat duduk lesehan di paling depan.
Beberapa cerita ketoprak sangat berkesan dalam ranah ingatan mereka waktu itu. Ada cerita Istana Yang Suram oleh grup ketoprak Among Mitro, cerita Mangir Wanabaya dengan grup Sapta Mandala, cerita Jambul Kramayudha oleh grup kenamaan PS Bayu, dan sederet cerita-cerita lain. Sedangkan seni pertunjukan wayang orang, TVRI banyak menayangkan dari grup wayang orang Sriwedari dan RRI Surakarta yang memang penayanangannya sangat dirindukan oleh publik.
Tidak bisa dipungkiri, TVRI dari mulai lahirnya pada 1962 sampai sekarang perannya sangat signifikan, turut serta mendukung nilai kearifan lokal lewat tayangan seni budaya yang dikemas dengan estetik melalui aspek seni sastra, seni rupa juga seni pertunjukan. Di samping itu, TVRI menjadi kebanggan publik, karena merupakan media yang dapat menayangkan nilai-nilai luhur budaya bangsa, yang sarat akan nilai humaniora. Bahkan pada waktu itu fanatisisme para seniman muncul. Mereka belum merasa dirinya seniman kalau proses kreatifnya belum pernah ditayangkan di TVRI.
Media Pemersatu
Sebagaimana diketahui, TVRI berdiri sejak 24 Agustus 1962. Kelahiran Stasiun Televisi perdana manakala menyiarkan secara langsung kegiatan spektakuler Asian Games keempat di Jakarta. Momentum tersebut merupakan bagian dari sejarah dan cita-cita Indonesia untuk memperkokoh persatuan dan rasa kesatuan rakyat Indonesia. Persatuan dan kesatuan tersebut akan dapat membangun reputasi Indonesia di mata dunia internasional.
Usia 64 tahun dapat dikatakan sebagai usia yang cukup matang selama menjalankan aktivitasnya. Pada tahun 2026 ini tema yang diusung dalam HUT TVRI adalah Satu Layar, Sejuta Cerita. Tema ini mengandung makna peran televisi publik sebagai media pemersatu yang merangkum beragam realitas, kebudayaan, inspirasi, dan perjalanan hidup masyarakat dari Sabang sampai Merauke dalam satu kesatuan tayangan.
Satu layar mengisyaratkan semiotika medium penyiaran TVRI sebagai wadah universal tempat seluruh masyarakat Indonesia berkumpul, terhubung, dan menikmati informasi serta hiburan yang sama tanpa batas geografis. Sedangkan sejuta cerita mengandung maksud merefleksikan kekayaan konten, ragam budaya, aspirasi, serta kisah inspiratif dari Sabang sampai Merauke yang disuarakan melalui program-program TVRI dari masa ke masa. Sebagai wujud dari jendela Indonesia, TVRI telah menegaskan komitmennya sebagai media pemersatu bangsa yang terus konsisten menyelami keberagaman, mengawal harapan, dan merekam perjalanan sejarah serta pembangunan nasional.
Tantangan utama Televisi Republik Indonesia (TVRI) saat ini adalah beradaptasi di tengah derasnya arus digital dan pergeseran pola konsumsi publik khususnya generasi muda yang lebih menyukai tayangan video. Sebagai Lembaga Penyiaran Publik (LPP), TVRI tidak hanya bersaing dengan televisi swasta dan media sosial dalam hal kecepatan atau popularitas, tetapi juga harus menjaga independensi, menyajikan informasi terverifikasi di tengah maraknya hoaks, serta memperkuat identitas program edukasi dan kebudayaan.
Di tengah banjir informasi dan hoaks di dunia maya, dominasi tantangan TVRI adalah konsisten menghadirkan konten yang berimbang, edukatif, dan terverifikasi. Untuk itu TVRI perlu mengemas program-program kebudayaan, pendidikan, literasi, dan pemberdayaan masyarakat agar tetap menarik tanpa harus kehilangan jati diri sebagai media pemersatu bangsa yang tidak sekadar berorientasi pada rating komersial.
Disadari, media massa seperti TVRI memiliki jangkauan yang luas dalam memengaruhi pola pikir dan perilaku sosial. Mereka dapat membentuk citra dan narasi yang memengaruhi persepsi masyarakat tentang topik tertentu, baik itu terkait dengan etika, politik, gender, kebudayaan, agama, atau masalah sosial lainnya (Sigit Surahman, 2024).
Dengan demikian, fungsi utama TVRI tak lain yaitu sebagai Lembaga Penyiaran Publik adalah memberikan pelayanan informasi, pendidikan, hiburan yang sehat, kontrol dan perekat sosial, serta melestarikan budaya bangsa untuk kepentingan seluruh masyarakat Indonesia. Kiranya fungsi ini dapat menjadi parameter dan pedoman kerja seluruh jajaran TVRI agar kinerjanya dapat optimal dengan standar kinerja yang memiliki target dan juga terukur.
Garda Depan Kebudayaan
Sebagai Lembaga Penyiaran Publik, TVRI mengemban amanat Undang-Undang untuk melestarikan kebudayaan Nusantara. Melalui jaringan stasiun daerah di seluruh Indonesia, TVRI konsisten menjadi garda depan dalam merawat identitas bangsa, menyebarkan nilai tradisi, serta merekatkan persatuan nasional di tengah arus globalisasi.
Sebagai contoh, TVRI Stasiun Daerah seperti Yogyakarta, banyak menayangkan agenda kebudayaan seperti obrolan angkring, ketoprak, sinema pendek kebudayaan, dan program-program lainnya yang substansinya mengokohkan nilai-nilai budaya yang dapat menjadi sarana hiburan juga mengedukasi masyarakat untuk tetap menjaga dan merevitalisasi nilai-nilai budaya yang berisi tuntutan luhur tersebut.
Dengan semakin gencarnya akselerasi kompetitif media televisi, tentunya TVRI harus memiliki program tayangan dengaan tampilan berbeda dengan televisi swasta lainnya. Program tayangan budaya berbasis kearifan lokal dapat menjadi branding supaya TVRI tetap menjadi pilihan dan melekat di hati pemirsa setianya.
Di samping itu, TVRI dapat menerapkan keterlibatan publik secara komprehensif dan paripurna, misalnya dengan mengaplikasikan platform digital yang lebih terbuka dan atraktif. Ide kreatif dengan mengimplementasikan konsep interaktif dapat menjadi opsi utama agar tetap menjaga kepercayaan publik. Terlebih TVRI merupakan media televisi perintis di Indonesia, yang kontribusinya sudah sangat besar untuk publik. Untuk itu jangan lupakan TVRI.
Selamat merayakan HUT TVRI Tahun 2026.
Penulis: Drs. Ch. Dwi Anugrah, M.Pd., Ketua Sanggar Seni Ganggadata Desa Jogonegoro, Kec. Mertoyudan Kabupaten Magelang
@kominfomagelang 👧🧒✨ 1.217 anak dari seluruh Kabupaten Magelang berkumpul dalam Puncak Hari Anak Nasional ke-42 dengan tema “Sayangi Anak, Lindungi, dan Bangun Masa Depan”. Bersama, Pemkab Magelang dan seluruh OPD berkolaborasi menghadirkan ruang yang aman, nyaman, sehat, dan ramah anak demi mencetak generasi cerdas, berkarakter, dan siap membangun masa depan daerah. 🇮🇩❤️ Karena masa depan Magelang dimulai dari anak-anak hari ini! 🌟 #HAN2026 #HariAnakNasional #KabupatenMagelang #Magelang #AnakIndonesia ♬ original sound - kominfomagelang
0 Komentar