....Di dinding batu suci Candi Borobudur terpatri kisah-kisah purba bukan sekadar berbentuk relief melainkan gema kebijaksanaan yang menembus zaman. Setiap ukiran menyimpan pesan tentang kehidupan. Alam tak pernah menciptakan sesuatu tanpa makna. Di balik keindahan wujudnya tersembunyi kekuatan yang lahir dari kasih, keikhlasan, dan kebijaksanaan, serta kelembutan hati hingga kekuatannya mampu mengguncang tatanan dunia. Mengubah badai menjadi desir angin yang menyejukkan, menggetarkan jiwa siapa pun yang masih memiliki hati nurani. Di sebuah negeri Benares dengan Raja Brahmadata negeri di kaki sebuah gunung terbentang hutan suci Kuruwela, di satu sisinya mengalir Sungai Yamuna, airnya bening laksana cermin langit.....
Penggalan suara Ki Pamedar di atas layaknya janturan atau monolog deskriptif dalam wayang purwa tersebut menggema menembus pendopo Museum Cagar Budaya Unit Warisan Budaya Borobudur dalam acara peluncuran wayang relief karya Wito Prasetyo, aktivis pemberdayaan ekonomi kerakyatan warga Desa Candirejo Borobudur, Kabupaten Magelang, Sabtu (20/6/2026).
Janturan tersebut menggambarkan relief-relief di Candi Borobudur di balik keindahan estetikanya menyimpan pesan moral sebagai tuntunan kehidupan universal manusia hingga sampai saat ini tetap abadi. Antusiame penonton juga tamu undangan dari masyarakat umum, wartawan, biro perjalanan, hotel, kelompok keagamaan, pejabat di SKPD Kabupaten Magelang, dan juga dari kementerian sangat positif, karena seni pertunjukan tersebut baru pertama kali disaksikan dengan segala inovasi maupun keunikannya.
Peluncuran wayang relief sudah berjalan dengan lancar dan berbagai media sudah memublikasikan secara masif. Tinggal saat ini yang perlu dipikirkan adalah langkah-langkah dan kegiatan faktual setelah peluncuran tersebut. Baik terkait dengan manajemen juga kiat-kiat strategis mencari jejaring agar seni pertunjukan itu terus terjaga eksistensinya.
Manajemen Seni
Ilustrasi di atas yang diambil dari salah satu repertoar wayang relief itu, dapat menjadi pemantik untuk dapat menjadikan seni pertunjukan yang berorientasi profesional. Pada umumnya yang sudah terjadi, bentuk seni baik yang bersifat privat atau kolektif gaungnya hanya saat pertama diluncurkan, setelahnya banyak yang tinggal nama. Tentunya fenomena tersebut harus segera diminimalisir. Salah satu alternatif yang perlu dilakukan tak lain dengan menerapkan manajemen seni yang profesional.
Manajemen seni tersebut berkorelasi dengan pengelolaan seni yang digeluti oleh seniman dengan profesional, baik terkait dengan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, sampai evaluasi. Tahapan-tahapan tersebut satu sama lain saling berkelindan hingga mewujudkan suatu format seni profesional dengan tujuan agar organisasi atau kelompok kesenian tersebut roda organisasinya secara normatif berjalan dengan baik yang pada gilirannya ketika melakukan pementasan dapat berjalan efektif dan penonton mendapatkan kepuasan estetik.
Sebagaimana diketahui, seni saat ini tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi estetik, namun kehadirannya sangat memengaruhi kehidupan senimannya. Tak bisa dipungkiri seni secara perspektif ekonomi memiliki peran penting terhadap pelakunya. Banyak seniman seni pertunjukkan saat ini menggantungkan hidupnya pada karya seninya. Organisasi seni pertunjukan bermunculan saling bersaing untuk mendapatkan pasar pada karya seninya. Karya baru dan kreativitas bermunculan namun belum diorganisasi atau dikelola secara profesional (Slamet MD, 2019).
Fenomena tersebut tentunya dapat dilihat dari latar belakang atau jejak rekam pengalaman para pekerja seninya. Kondisi tersebut sangat memprihatinkan, karena organisasi-organisasi yang bergerak di bidang seni kurang memperhatikan manajemen dalam aspek pemberdayaan organisasi. Dampaknya akan terjadi ketimpangan dalam elaborasinya juga pelestarian maupun reservasinya. Ujung-ujungnya banyak yang mengalami stagnasi bahkan tinggal papan nama.
Hal tersebut perlu disikapi secara profesional dengan melakukan berbagai kajian holistik sebagai langkah pembenahan juga evaluasi. Untuk itu kiranya sangat dibutuhkan sistematika program yang sistematis dan strategis untuk mengoptimalkan manajemen seni pertunjukan khususnya seni yang lebih inovatif, berwawasan prospek, serta mampu menjawab tantangan zaman.
Dengan demikian untuk tetap lestari, maju dan berkembang, serta menjadi idola bagi penonton di semua kalangan diperlukan profesionalisme dalam pengelolaan manajeman organisasi baik dalam pemberdayaan anggota juga membawa dermaga organisasi beroritentasi ke depan dengan idealisme proporsional. Membuka kesempatan yang memungkinkan membawa dampak kemajuan bagi usaha manajemen organisasi yang diharapkan seni tradisi dalam melakukan produksi melalui tahapan proses kreatif. Proses terkait dirancang mulai tahapan awal hingga pementasan. Termasuk juga aspek evaluasi dan rencana tindak lanjut perlu menjadi perhatian.
Organisasi seni pertunjukan berkewajiban mendidik dan meningkatkan taraf apresiasi seni kepada masyarakat secara proporsional. Pihak organisasi seni pertunjukan perlu berinteraksi dengan masyarakat dan menangkap peluang kepuasan pelanggan dan menerima segala kritik saran yang dapat membangun kemajuan organisasi.
Kebutuhan seniman, penghayat, dan kritikus seni menjadi salah satu jembatan menuju domain revitalisasi seni pertunjukan yang kapabel selaras dengan antusiasme publik. Aspek lingkungan secara langsung dapat menjadi acuan kontinuitas dalam melakukan proses kreatif. Di samping itu, aspek promosi perlu menjadi perhatian utama karena berkorelasi langsung dengan keberlangsungan organisasi.
Dalam berbagai kajian, ditegaskan bahwa keberhasilan organisasi tidak bisa lepas dari peran pimpinan dalam organisasi termasuk dengan segala perangkat pendukungnya. Di sini, konsep leadership sangatlah diperlukan, karena banyak organisasi tak berlangsung lama karena krisis kepercayaan dan kurang mampunya pemimpin mengendalikan organisasi.
Membuka Jaringan
Dalam dinamika seni agar kelompok atau organisasi eksistensinya dapat berkelanjutan memang diperlukan kiat-kiat strategis untuk membuka jaringan. Pada dasarnya jaringan (networking) dalam seni pertunjukan adalah kunci utama untuk menciptakan ekosistem yang berkelanjutan. Hal ini membuka akses terhadap pendanaan, kolaborasi lintas disiplin, pertukaran ide, serta peluang pementasan. Jaringan bertindak sebagai katalis yang menghubungkan seniman dengan sumber daya krusial, seperti penonton, promotor, dan sponsor.
Jaringan sangat bermanfaat terutama untuk membuka peluang berkolaborasi dengan pihak lain. Kolaborasi ini dapat menguatkan organisasi karena dapat menimba pengetahuan dari organsasi atau pihak lain dengan kegiatan positif. Di samping itu, jaringan dapat bermanfaat juga untuk keberlanjutan organisasi dengan membangun dukungan profesional yang dapat memberikan dukungan atau peluang untuk memberikan proyek secara berkelanjutan.
Kembali ditegaskan bahwa, organisasi seni yang dikelola profesional dan mampu membangun jaringan akan dapat terjaga keberlangsungan eksistensinya. Termasuk wayang relief dalam awal tulisan ini, ekspektasinya dapat menjadi branding seni pertunjukan inovatif dengan mengawali menjadi pionir untuk menerapkan manajeman profesional dalam setiap langkah-langkah strategis yang diambil selaras dengan tujuan awalnya.
Penulis: Drs. Ch. Dwi Anugrah, M.Pd., Ketua Sanggar Seni Ganggadata Desa Jogonegoro, Kec. Mertoyudan Kabupaten Magelang
@kominfomagelang Bukan cuma admin medsos yang harus bisa bikin konten. 😎 Kontributor berita OPD juga perlu jago menulis, bercerita, dan mempublikasikan kinerja pemerintah agar informasi sampai ke masyarakat dengan jelas. Hari ini mereka belajar langsung di Kelas Belajar Humas #2. Karena kerja baik saja belum cukup… Kerja baik juga perlu dipublikasikan. ✨ #kelasbelajar #humas #magelang ♬ original sound - kominfomagelang
0 Komentar