Mengangkat Citra Batik Lokal

Dilihat 16 kali
Pameran batik bertajuk Motif Batik Wanurejan di Rumah Batik Lumbini, Dusun Tingal Kulon, Desa Wanurejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang bulan Agustus 2026 ini dapat menjadi inspirasi para pengrajin batik untuk terus tiada henti melakukan proses kreatif.

Dalam dinamika perjalanan waktu, proses kreatif para seniman batik dalam menghasilkan karya-karyanya di seluruh penjuru Nusantara telah menunjukkan keunggulannya secara segnifikan. Batik sampai saat ini telah menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat Indonesia. Fenomena tersebut dapat dibuktikan, hingga saat ini dalam acara-acara tertentu di hati masyarakat, batik masih memiliki tempat dan aura tersendiri.


Sampai saat ini proses pembuatan batik tidak hanya berlangsung di wilayah urban, namun juga sudah merambah sampai wilayah perkampungan. Salah satunya perintis produksi batik tradisional ada di Kecamatan Borobudur tepatnya Rumah Batik Lumbini yang berada di Dusun Tingal Kulon, Desa Wanurejo, Kabupaten Magelang.


Rumah Batik Lumbini berdiri sejak 2011 diinisiasi oleh pasangan suami istri Adi Winarto dan Rita. Selain berfungsi sebagai toko dan galeri seni, Rumah Batik Lumbini mengusung konsep konservasi budaya dan wisata edukasi. Di tempat ini juga menjadi tujuan wisata menarik bagai wisatawan domestik maupun mancanegara yang ingin belajar membatik secara langsung menggunakan canting tradisional. Selain itu Rumah Batik Lumbini juga terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar batik.


Pada awal sampai penghujung Agustus 2026, Rumah Batik Lumbini mengadakan pameran dari berbagai hasil karya proses kreatifnya bertajuk Motif Batik Wanurejan. Tema ini diambil sebagai kontribusi ide untuk mengangkat Desa Wanurejo sebagai sentra batik di Borobudur. Ide kreatif tersebut dapat menjadi parameter, bahwa Rumah Batik Lumbini berusaha seoptimal mungkin mengangkat Desa Wanurejo agar menjadi branding tempat para pengrajin batik melakukan proses kreatif sampai dengan capaian-capaiannya.


Dalam pameran tersebut, Adi Winarto dan Rita menghadirkan karya-karya yang terinspirasi oleh kekayaan budaya serta bentang alam Desa Wanurejo. Beragam unsur kultur lokal, seperti seni pertunjukan Jathilan, tumpengan, kalpataru, dan berbagai simbol budaya lainnya, diolah menjadi motif batik yang merekam identitas desa sekaligus menjadi penghormatan terhadap warisan budaya yang terus hidup


Selain Adi Winarto dan Rita, pameran juga diikuti oleh Lestari dan Sutrisno yang menuangkan ide dan gagasannya melalui motif-motif yang didominasi unsur flora dan fauna, seperti berbagai jenis burung dan dedaunan, Keberaniannya dalam membentuk motif secara spontan, disertai pemilihan warisan yang ekspresif, menghadirkan karakater spesifik yang jarang dijumpai.


Melalui kegiatan pameran tersebut, diharapkan dapat menjadi pemantik bagi pembatik Desa Wanurejo untuk terus berkarya, bergotong royong dan saling menguatkan. Di samping itu harapan lebih jauh lagi ke depannya, di Desa Wanurejo akan lahir karya-karya batik yang tidak hanya memiliki nilai artistik, tetapi juga memancarkan semangat identitas dan kekhasan desa, sehingga dapat menjadi daya tarik sekaligus warisan budaya yang diteruskan kepada generasi mendatang (Rumah Batik Lumbini, 2026).


Jejak Batik


Jejak Batik di Nusantara dimulai dari kejayaan Kerajaan Majapahit atau Wilwatikta pada awal abad ke-13 sampai dengan 15. Pada waktu itu kain batik memiliki fungsi sosial yang dipakai oleh kalangan bangsawan dan petinggi kerajaan sebagai simbol kekuasaan, status sosial, dan nilai spiritual. Adapun motifnya bervariasi seperti lambang alam, tumbuhan, corak abstrak, bentuk candi, awan, hingga tokoh wayang.


Pada masa Kerajaan Mataram sampai Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta, batik juga telah mempunyai tempat tersendiri di lingkungan aristokrat. Kerajaan Yogyakarta dan Surakarta merupakan wilayah Vorstenlanden atau tanah kerajaan sebagai pusat kebudayaan utama perkembangan batik. Para pengrajin batik dari kalangan rakyat ketika masuk ke lingkungan istana dengan hasil karyanya akan mendapatkan status abdi dalem atau pegawai istana.


Fenomena tersebut memberi konotasi tentang eksistensi batik rakyat yang bekembang di luar keraton kemudian masuk istana akan mendapatkan legitimasi dari raja sebagai produk batik istana. Karya-karya batik rakyat mendapatkan cap aristokrat sebagai batik produk istana yang selanjutnya disebut batik klasik (Dharsono Sony Kartika, 2007).


Dalam perkembangannya, sebaran batik meluas tidak hanya di lingkungan istana, tetapi sudah merambah sampai keluar tembok istana. Para abdi dalem istana, ikut memberikan kontribusi besar, karena memberikan edukasi bagi masyarakat luas untuk terus belajar batik. Bahkan, kaum perempuan di luar tembok istana menjadikan batik sebagai industri keterampilan rumah tangga.


Adapun motif-motif batik yang berkembang di masyarakat mengarah pada kebebasan berekspresi dalam aspek estetika. Masyarakat umum lebih mementingkan keindahan visual dan estetika, berbeda dengan motif keraton yang sarat aturan ketat dan makna filosofis mendalam. Tema banyak diambil dari kehidupan sekitar yang berorientasi pada kearifan lokal.


Sebagaimana dalam pameran batik di Rumah Batik Lumbini bulan Agustus 2026 ini. Karya Adi Winarto dan Rita lebih terinspirasi pada nuansa kehidupan lokal. Seperti motif kalpataru, banyak terinspirasi dari relief Candi Pawon. Motif ini sebagai semiotika dari pohon kehidupan. Pohon Kalpataru menjadi pengingat akan pentingnya menjaga alam sebagai sumber kehidupan agar benih-benih kehidupan terus bertumbuh.


Ada lagi motif omah kampung. Motif ini mengaktualisasikan rumah dapat menjadi tempat singgah, atau juga tempat pulang ke kampung halaman, sekaligus ruang untuk bertumbuh. Rumah mengingatkan kita bahwa kehidupan adalah sebuah peziarahan yang perlu dijalani dengan rasa syukur dalam nuansa kebersamaan. Rumah bukan sekadar bangunan fisik tempat berlindung, melainkan cerminan jiwa, pusat identitas, dan mikrokosmos alam semesta. Rumah adalah titik awal dan tujuan akhir perjalanan hidup, tempat menanam nilai kasih, kedamaian, serta pembentukan karakter manusia.


Lain halnya dengan karya Sutrisno dan Lestari yang banyak terinspirasi dengan flora dan fauna. Seperti motif bunga teratai yang melambangkan kesucian hati, ketenangan batin, serta ketabahan dalam menjalani setiap fase kehidupan. Ada lagi motif burung cenderawasih yang melambangkan keanggunan, kemuliaan, keindahan, serta keharmonisan dalam kehidupan.


Nilai Tinggi


Tidak dapat dipungkiri, hingga saat ini batik tulis memiliki konsistensi nilai tinggi dan banyak digemari berbagai lapisan masyarakat. Fenomena tersebut dapat terjadi karena banyak faktor sebagai penentu. Di antaranya proses pengerjaannya cukup panjang dan tidak dapat instan, bergantung pada tingkat kerumitannya. Setiap proses mulai dari perancangan sampai finishing dilakukan secara secara gradual atau bertahap yang membutuhkan tingkat ketelitian tinggi. Ketelitian, pengalaman, dan konsistensi menjadi faktor signifikan dalam menghasilkan karya yang berkuatlitas.


Pameran yang dilakukan di Rumah Batik Lumbini sebagaimana dalam awal tulisan ini layak diapresiasi. Komitmen tulus untuk mengangkat batik dalam citra kultur lokal agar dikenal publik secara masif merupakan aksi nyata dan kepedulian sejati yang dapat menjadi parameter dari nilai keutamaan yang hakiki. Terlebih lagi batik batik Indonesia telah resmi diakui oleh UNESCO sebagai Intangible Cultural Heritage (Warisan Budaya Takbenda) pada tahun 2009.


Penulis: Drs. Ch. Dwi Anugrah, M.Pd., Ketua Sanggar Seni Ganggadata, Desa Jogonegoro, Mertoyudan Kabupaten Magelang

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar

@kominfomagelang 👧🧒✨ 1.217 anak dari seluruh Kabupaten Magelang berkumpul dalam Puncak Hari Anak Nasional ke-42 dengan tema “Sayangi Anak, Lindungi, dan Bangun Masa Depan”. Bersama, Pemkab Magelang dan seluruh OPD berkolaborasi menghadirkan ruang yang aman, nyaman, sehat, dan ramah anak demi mencetak generasi cerdas, berkarakter, dan siap membangun masa depan daerah. 🇮🇩❤️ Karena masa depan Magelang dimulai dari anak-anak hari ini! 🌟 #HAN2026 #HariAnakNasional #KabupatenMagelang #Magelang #AnakIndonesia ♬ original sound - kominfomagelang