Sanggar Seni Lembah Progo Lestarikan Budaya dan Ekosistem Kesenian di Kabupaten Magelang

Dilihat 112 kali
Penampilan Sanggar Seni Lembah Progo

BERITAMAGELANG.ID - Sanggar Seni Lembah Progo resmi didirikan di Dusun Plikon, Desa Trasan, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang. Peresmian sanggar seni tersebut dilaksanakan selama dua hari, pada 19-20 September 2026, di Lapangan Futsal Progo Dusun Plikon, dengan rangkaian kegiatan yang melibatkan pelaku seni, masyarakat, pelajar, serta berbagai unsur pemerintahan.

Berdirinya sanggar seni ini merupakan inisiatif bersama dari warga masyarakat Dusun Plikon sebagai bentuk dukungan dari minat warganya yang tinggi dalam berkesenian yang dulu ada, namun sempat vakum dalam jangka waktu yang cukup lama.

Rangkaian kegiatan diawali pada Sabtu (19/9/2026) dengan Lomba Tari Kreasi Tradisional Tingkat Kabupaten/Kota Magelang. Acara kemudian dilanjutkan dengan pengumuman pemenang, penampilan juara, penyerahan hadiah, doa bersama, serta berbagai pertunjukan kesenian tradisional, diantaranya Tari Jaranan, Tari Gambang Suling, Tari Angguk, Tari Angguk Joss, Tari Warok, dan Tari Topeng Ireng.

Puncak seremonial peresmian ditandai dengan penyerahan Surat Keputusan (SK) Bupati tentang Pendirian Sanggar Seni Lembah Progo diwakili Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Magelang, Didik Muhamad Akbar. Penyerahan SK tersebut menjadi penanda resmi keberadaan Sanggar Seni Lembah Progo sebagai wadah pengembangan dan pelestarian kesenian di wilayah Kabupaten Magelang.

Kepala Desa Trasan, Bagawat Gita menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, keberadaan sanggar seni menjadi bagian penting dalam menjaga dan melestarikan budaya di tengah masyarakat.

"Sangat mengapresiasi adanya kegiatan ini sebagai bentuk pelestarian budaya," ujarnya.

Hal senada disampaikan anggota Komisi II DPRD Kabupaten Magelang, Edi Gunawan. Ia menyatakan dukungannya terhadap keberadaan Sanggar Seni Lembah Progo. Ia berharap sanggar tersebut dapat terus berkembang dan berkontribusi dalam kehidupan kesenian masyarakat.

"Selalu siap mendukung langkah Sanggar Lembah Progo ke depannya, semoga bisa selalu eksis di mana saja dan mampu mewadahi minat warga akan kesenian," harapnya.

Nama Lembah Progo sendiri dinilai memiliki makna yang kuat. Layaknya aliran Kali Progo yang terus mengalir, sanggar ini diharapkan mampu menjadi ruang yang terus mengalirkan semangat berkesenian, khususnya bagi generasi muda, sehingga keberadaannya tidak hanya berlangsung dalam waktu singkat.

Semangat tersebut juga sejalan dengan Visi Bupati Magelang, Anyar Gress, khususnya dalam mendorong potensi masyarakat yang dimulai dari tingkat dusun. Dua semangat yang ingin terus disentuhkan adalah gemilang potensine dan gumregah wargane, yakni mengembangkan potensi sekaligus membangkitkan partisipasi masyarakat.

Didik berharap, pengesahan Sanggar Seni Lembah Progo tidak berhenti sebagai sebuah formalitas administratif. Lebih dari itu, keberadaan sanggar diharapkan dapat berkembang menjadi bagian dari ekosistem kesenian Kabupaten Magelang, dengan melibatkan masyarakat, generasi muda, pelaku seni, pemerintah desa, serta berbagai pihak lainnya.

Rangkaian kegiatan berlanjut pada Minggu (20/9/2026) dengan agenda yang lebih beragam. Kegiatan dimulai dengan senam sehat, kemudian dilanjutkan drumband dari SMK Muhammadiyah Bandongan. Setelah itu, masyarakat disuguhi berbagai pertunjukan kesenian, seperti Tari Angguk PAUD, Tari Ulo-uloan, Tari Engklek, Tari Dongklak, Tari Sintren, Tari Angguk Anggilan, Tari Sekar Putri, dan Tari Warok.

Sebagai puncak kegiatan hari kedua dilanjutkan dengan pertunjukan Topeng Ireng Setia Rimba. Selain kesenian tradisional, peresmian sanggar seni ini juga turut menampilkan penampilan Band SMK Mutu Bandongan, serta ditutup dengan penampilan Band Sanggar Seni Lembah Progo.

Dua hari pelaksanaan tersebut menjadi momentum awal bagi Sanggar Seni Lembah Progo untuk tumbuh sebagai ruang berkesenian yang terbuka bagi masyarakat. Tidak hanya menjadi tempat pertunjukan, sanggar diharapkan mampu menjadi ruang belajar, berkreasi, sekaligus menjaga agar seni dan budaya tetap hidup dan mengalir dari generasi ke generasi di Kabupaten Magelang.



Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar

@kominfomagelang 🇮🇩 30 hari gotong royong, hasilnya nyata! TMMD Sengkuyung Tahap III TA 2026 di Desa Giri Kulon, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang resmi ditutup. Jalan cor 500 meter, talud, dan saluran air berhasil diselesaikan 100% untuk mendukung akses dan aktivitas masyarakat. 💪 TMMD bukan sekadar membangun infrastruktur, tetapi juga memperkuat kebersamaan TNI, Polri, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam membangun desa. “TMMD: Satukan Langkah, Membangun Negeri dari Desa.” 🇮🇩🤝 Semoga hasil pembangunan ini bermanfaat dan terus dirawat bersama demi kemajuan Desa Giri Kulon. #TMMD #magelang24jam #Secang ♬ original sound - kominfomagelang