Tips Jaga Kesehatan Mata dari Radiasi Gawai dan Komputer

Dilihat 142 kali
dr. Ganjar Sulaksmono, Sp.M., spesialis mata RSUD Muntilan saat menjadi narasumber dalam program talkshow Jamus Gemilang di LPPL Radio Gemilang 96.8 FM, Kamis (5/11/2026).

BERITAMAGELANG.ID - Penggunaan gawai (smartphone) dan komputer yang kian mendominasi aktivitas harian masyarakat kini menghadirkan tantangan baru bagi kesehatan indera penglihatan. Tingginya durasi menatap layar digital, baik untuk bekerja, belajar, maupun hiburan, menuntut kesadaran masyarakat agar fungsi mata tetap terjaga dalam jangka panjang.

Hal tersebut diungkapkan dr. Ganjar Sulaksmono, Sp.M., spesialis mata RSUD Muntilan saat menjadi narasumber dalam program talkshow Jamus Gemilang di LPPL Radio Gemilang 96.8 FM, Kamis (5/11/2026).

dr. Ganjar mengungkapkan, semenjak pandemi COVID-19, durasi menatap layar atau screen time masyarakat, baik anak-anak maupun orang dewasa, meningkat secara drastis. Lonjakan ini berbanding lurus dengan tingginya progresivitas gangguan refraksi, seperti mata minus (miopi) dan silinder.

"Gangguan refraksi menempati urutan pertama sebagai penyebab gangguan penglihatan terbanyak di dunia, termasuk di Indonesia. Tantangan terbesar bagi tenaga medis adalah bagaimana mencegah serta mengontrol progresivitasnya, khususnya pada anak-anak yang masih berada dalam masa pertumbuhan fisik," ungkapnya.

Menjawab kekhawatiran umum tentang apakah terlalu sering bermain gawai dapat menyebabkan kebutaan, dr. Ganjar menegaskan, hal tersebut merupakan miskonsepsi. Mata minus atau plus termasuk dalam kelompok penyakit yang menyebabkan gangguan penglihatan, bukan kebutaan total. Kendati demikian, kondisi ini tetap memerlukan pengelolaan yang tepat agar tidak terus bertambah parah hingga usia dewasa awal.

"Keluhan seperti mata terasa panas, perih, berair, sensasi seperti ada benda asing atau kelilipan, hingga pandangan kabur setelah lama menatap layar merupakan gejala dari Computer Vision Syndrome (CVS)," tambah dr. Ganjar.

Sindrom ini dipicu oleh kerja otot intraokular yang terlalu terforsir untuk memfokuskan pandangan dalam jarak dekat secara terus-menerus tanpa istirahat. 

Selain durasi paparan layar, beberapa faktor pemicu mata kering lainnya meliputi:

- Faktor Lingkungan: Ruangan ber-AC yang memiliki udara cenderung kering sehingga mempercepat penguapan air mata.

- Dehidrasi: Kurangnya konsumsi air putih yang berdampak langsung pada produksi komponen cairan tubuh, termasuk air mata.

- Penggunaan Kosmetik: Sisa riasan di sekitar mata seperti eyeliner dan maskara yang tidak dibersihkan secara tuntas dapat menyumbat saluran kelenjar minyak di kelopak mata.


"Selain itu, kebiasaan buruk seperti menatap gawai sambil tiduran di ruangan minim cahaya atau gelap sangat tidak dianjurkan. Posisi ini tidak ergonomis, memicu ketegangan otot leher, serta memaksa mata bekerja ekstra keras di bawah pencahayaan yang kurang," kata dr. Ganjar.


Beberapa mitos yang selama ini dipercaya masyarakat:

1. Makan Wortel Menyembuhkan Mata Minus: Konsumsi wortel kaya akan vitamin (A, C, E) yang berfungsi sebagai antioksidan pelindung kesehatan saraf mata dan mencegah penuaan dini pada mata, namun tidak dapat mengurangi atau menyembuhkan ukuran minus.

2. Kacamata Bikin Minus Bertambah: Penggunaan kacamata sesuai resep justru berfungsi ganda sebagai alat bantu lihat sekaligus pengendali agar laju penambahan minus tidak semakin cepat, terutama pada anak-anak dan remaja.

3. Efektivitas Kacamata Anti-Radiasi (Blue Light): Dari sudut pandang medis, kacamata anti sinar biru tidak memberikan dampak signifikan dalam mencegah kerusakan mata langsung. Yang paling utama adalah tetap mengenakan kacamata dengan ukuran koreksi (minus/silinder) yang tepat saat beraktivitas di depan layar.


Bagi masyarakat maupun pekerja yang tidak bisa lepas dari gawai, ada tips pencegahan kelelahan mata melalui metode Rule of 20:

- Setiap 20 menit bekerja di depan layar, berikan jeda istirahat selama 20 detik.

- Alihkan pandangan keluar dan lihat objek yang berada sejauh 20 kaki (sekitar 6 meter) guna merelaksasi otot mata.


Masyarakat juga diimbau untuk melakukan pemeriksaan kesehatan mata secara berkala minimal satu hingga dua tahun sekali, serta segera mendatangi fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala darurat seperti pandangan kabur secara mendadak, mata merah dengan nyeri hebat, atau penglihatan ganda.

"Sebagai bentuk komitmen dalam mendekatkan layanan kesehatan bagi masyarakat Kabupaten Magelang, Poli Mata RSUD Muntilan kini membuka layanan pemeriksaan dari hari Senin hingga Sabtu dengan jadwal praktik yang fleksibel didukung oleh tenaga dokter spesialis professional," tutup dr. Ganjar.

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar