Wamentan Dukung Pengembangan Sapi Perah Magelang, Peternak Disiapkan Naik Kelas

Dilihat 32 kali

BERITAMAGELANG.ID - Kabupaten Magelang memiliki peluang besar untuk memperkuat sektor peternakan sapi perah. Didukung potensi agroklimat di delapan kecamatan, Pemerintah Kabupaten Magelang menyiapkan pengembangan ekosistem peternakan yang lebih kuat, mulai dari peningkatan populasi sapi, produktivitas susu, hingga penguatan koperasi agar peternak memperoleh nilai ekonomi yang lebih baik.

Peluang tersebut mengemuka dalam dialog Wakil Menteri Pertanian Republik Indonesia, M. Saleh Mustafa, bersama Bupati Magelang, Grengseng Pamuji, dan para peternak di Desa Sumberejo, Kecamatan Ngablak, Jumat (30/10/2026). Sebelum dialog berlangsung, rombongan terlebih dahulu meninjau sentra peternakan sapi perah di desa setempat.

Bupati Magelang, Grengseng Pamuji menyampaikan, pengembangan sapi perah menjadi salah satu potensi strategis yang ingin dikembangkan di Kabupaten Magelang. Terdapat delapan kecamatan dengan kondisi agroklimat yang mendukung pengembangan sektor tersebut.

"Kemarin saya ditantang oleh Pak Wamentan, apakah Kabupaten Magelang siap menjadi lumbung sapi perah, Saya jawab siap. Dan hari ini saya tegaskan kembali, Kabupaten Magelang siap," ungkap Grengseng.

Ia menjelaskan, Kecamatan Ngablak menjadi salah satu wilayah yang memiliki ekosistem peternakan sapi perah yang berkembang. Lokasinya juga berdekatan dengan sentra produksi susu di wilayah Kabupaten Semarang sehingga berpotensi memperkuat pengembangan peternakan lintas daerah.

Menurutnya, pengembangan ini bukan untuk menciptakan persaingan antardaerah, melainkan membangun kemandirian dan kekuatan bersama dalam sektor peternakan sapi perah.

Saat ini, salah satu tantangan yang dihadapi adalah keterbatasan populasi sapi yang berpengaruh terhadap volume produksi susu. Sejumlah koperasi peternak, di antaranya Nomopancar, Agro, dan AMRTO, masih memiliki kapasitas produksi di bawah 2.000 liter sehingga belum dapat memasok langsung ke industri pengolahan susu (IPS).

Kondisi tersebut turut memengaruhi harga jual susu di tingkat peternak. Bupati menyebut harga yang diterima peternak saat ini rata-rata sekitar Rp8.000 per liter. Sementara itu, apabila dapat memasok langsung ke industri pengolahan susu, harga berpotensi mencapai Rp9.000 per liter.

"Yang perlu kita benahi bukan hanya populasi sapinya, tetapi juga kelembagaan koperasi, manajemen, dan sumber daya manusianya. Kalau semuanya kuat, peternak akan memiliki posisi tawar yang lebih baik," jelasnya.

Untuk mendukung pengembangan tersebut, Pemkab Magelang telah menyiapkan dukungan melalui APBD, antara lain untuk edukasi, pendampingan, dan peningkatan kapasitas peternak. Upaya tersebut juga dilakukan melalui kerja sama dengan Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM).

Selain itu, penguatan kelembagaan koperasi terus didorong melalui peningkatan kapasitas pengelolaan usaha dan pembelajaran ke daerah yang telah lebih dahulu mengembangkan peternakan sapi perah.

Besarnya minat masyarakat terhadap pengembangan sektor ini terlihat dari sekitar 1.100 pengajuan terkait program pengembangan sapi perah yang berasal dari Kabupaten Magelang dan telah disampaikan kepada kementerian terkait.

Wakil Menteri Pertanian RI, M. Saleh Mustafa, menyambut baik kesiapan Kabupaten Magelang. Ia menekankan bahwa keberhasilan pengembangan peternakan sapi perah harus didukung kesiapan infrastruktur, sumber daya manusia, dan kelembagaan yang kuat.

Menurutnya, koperasi harus menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem peternakan yang sehat, sehingga peternak memiliki wadah bersama untuk mengembangkan usaha, memperkuat pembiayaan, dan meningkatkan pemasaran hasil produksi.

Ia juga mengingatkan agar sistem pembiayaan yang diterapkan tidak justru membebani peternak. Koperasi diharapkan mampu menjadi penggerak usaha yang memberikan manfaat bagi seluruh anggotanya.

"Kita akan berhasil apabila manusia ditempatkan sesuai tugasnya. Siapkan infrastrukturnya, siapkan kelembagaannya. Saya sangat ingin koperasi ini menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem peternakan," tegas Saleh.

Lebih lanjut, ia menyampaikan peluang Kabupaten Magelang untuk dipersiapkan menjadi salah satu proyek percontohan pengembangan sapi perah. Namun, pelaksanaannya masih menunggu keputusan pemerintah pusat terkait kebijakan dan alokasi kuota program.

Dalam dialog tersebut, perwakilan peternak Koperasi AMRTO, Eko Saifuddin, turut menyampaikan sejumlah harapan. Salah satunya terkait rencana program subsidi 50 persen untuk pengadaan sapi perah impor yang diharapkan dapat membantu meningkatkan populasi ternak di Kabupaten Magelang.

Selain itu, ia juga menyampaikan kebutuhan dukungan akses pembiayaan serta sarana produksi, seperti mesin pemerahan susu, peralatan penunjang peternakan, dan fasilitas pengelolaan limbah.

Berbagai masukan tersebut menjadi gambaran kebutuhan nyata peternak dalam meningkatkan produktivitas dan mengembangkan usaha secara berkelanjutan.

Melalui penguatan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, koperasi, dan kelompok peternak, pengembangan sapi perah di Kabupaten Magelang diharapkan mampu meningkatkan produksi susu sekaligus memperbaiki posisi tawar peternak.

Dengan dukungan populasi ternak, infrastruktur, pembiayaan, dan kelembagaan yang memadai, potensi peternakan di kawasan lereng Merapi-Merbabu diharapkan berkembang menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.


Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar