BERITAMAGELANG.ID - Pemerintah Kabupaten Magelang terus mendorong pengembangan kopi sebagai salah satu komoditas pertanian yang memiliki potensi besar untuk meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat citra daerah. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan kualitas produksi, kelembagaan petani, inovasi pengolahan, hingga membuka akses pasar yang lebih luas, termasuk peluang ekspor.
Hal tersebut disampaikan Bupati Magelang Grengseng Pamuji saat menghadiri kegiatan Ruwat Rawat Kopi bertema "Dari Akar Tradisi Leluhur ke Cangkir Dunia" di Dusun Kepatran, Desa Banjarsari, Kecamatan Grabag, Minggu (6/9/2026).
Grengseng mengatakan, kopi di Kabupaten Magelang tidak sekadar merupakan komoditas pertanian, tetapi juga bagian dari tradisi dan potensi lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun. Karena itu, pengembangannya harus dilakukan dengan tetap menjaga lingkungan sekaligus memberikan nilai tambah bagi masyarakat, khususnya para petani.
"Dari akar tradisi leluhur ke cangkir dunia, saya berharap tema hari ini tidak berhenti menjadi sebuah kegiatan, tetapi menjadi momentum untuk memperkuat identitas kita sebagai daerah penghasil kopi," ujar Grengseng.
Menurutnya, Kabupaten Magelang memiliki potensi kopi yang luar biasa, baik jenis robusta maupun arabika. Namun, untuk menjadikan kopi sebagai komoditas unggulan yang mampu bersaing di pasar yang lebih luas, dibutuhkan proses panjang dan kerja bersama dari berbagai pihak.
"Kalau kita melihat sejarah kopi di wilayah kita, sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Hari ini tugas kita adalah melestarikan sekaligus terus mengembangkannya," katanya.
Grengseng menilai, kawasan Banjarsari dan sekitarnya memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi salah satu sentra kopi di Kabupaten Magelang. Pengembangan tersebut diharapkan tidak hanya berhenti pada produksi biji kopi, tetapi juga berkembang pada pengolahan, kreativitas, dan berbagai produk turunan yang mampu memberikan nilai tambah.
Ia menegaskan, peningkatan kesejahteraan petani harus menjadi salah satu tujuan utama dalam pengembangan komoditas kopi.
"Saya berharap kesejahteraan petani kopi menjadi satu ruang tersendiri bagi masyarakat Kabupaten Magelang. Ketika klaster-klaster pertanian dan kelembagaan petani dapat dikembangkan dengan baik, saya yakin akan memberikan ruang yang penting bagi kesejahteraan masyarakat," jelasnya.
Grengseng juga mendorong agar pengembangan kopi dilakukan secara terpadu dengan melibatkan seluruh perangkat daerah dan pemangku kepentingan terkait. Menurutnya, pengembangan komoditas pertanian tidak dapat dilakukan oleh satu sektor saja.
"Kita bicara kopi, ada peternakan, ada lingkungan, ada ekonomi, ada pariwisata dan sektor lainnya. Semua harus menyatu. Tidak usah saling berebut, tidak usah sektoral. Mari kita kerjakan bersama," ajaknya.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi awal dari lahirnya berbagai inovasi baru dalam pengembangan kopi di Kabupaten Magelang. Salah satunya melalui penguatan kualitas, kuantitas, dan kontinuitas produksi sehingga kebutuhan pasar dapat dipenuhi secara berkelanjutan.
Ia juga meminta seluruh pihak untuk terus meningkatkan komitmen dalam mendampingi petani kopi, khususnya di Banjarsari dan wilayah sekitarnya, sehingga kopi Magelang semakin dikenal dan memiliki daya saing hingga pasar internasional.
Direktur Ekspor Impor Kopi PT Terranusa, Vida Kusuma Wardani mengatakan, pihaknya melihat potensi kopi Banjarsari untuk dikembangkan dan dipasarkan ke pasar internasional.
Menurutnya, salah satu hal penting dalam memenuhi kebutuhan pasar ekspor adalah kemampuan petani menghasilkan kopi dengan spesifikasi dan kualitas yang sesuai dengan permintaan pembeli.
"Harapannya, petani di Banjarsari bisa berkolaborasi dan memberikan spesifikasi kopi yang bagus, sehingga kopi Banjarsari dapat diangkat dari petani menuju pasar internasional," harapnya.
Ia menyebut, pihaknya saat ini melakukan penjajakan pemasaran kopi robusta ke sejumlah negara, di antaranya Mesir, Arab Saudi, dan Hong Kong, dengan menyesuaikan spesifikasi yang dibutuhkan pasar.
Selain dalam bentuk green bean, peluang pasar juga terbuka melalui produk kopi yang telah melalui proses pengolahan, seperti roasting dan grinding, dengan kelengkapan perizinan dan merek.
Vida juga mendorong penguatan kelembagaan petani, termasuk melalui koperasi atau badan usaha, agar petani memiliki posisi yang semakin kuat dalam rantai perdagangan kopi.
"Harapannya, Banjarsari bisa memiliki izin atau perusahaan maupun berkolaborasi dengan koperasi, sehingga dapat memasarkan kopi secara internasional secara lebih mandiri," lanjutnya.
Plt. Sekretaris Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Magelang, Anik Indaryanti menyampaikan, pemerintah memiliki peran dalam memfasilitasi dan mendorong pengembangan komoditas kopi, mulai dari peningkatan produksi hingga penguatan sarana pendukung.
Ia menjelaskan, terdapat dukungan program pengembangan kopi yang mencakup kawasan sekitar 800 hektare pada delapan desa dengan melibatkan 27 kelompok tani serta kelompok perempuan tani.
Dukungan tersebut antara lain diarahkan pada penyediaan sarana dan prasarana pendukung pengolahan kopi, termasuk fasilitas pascapanen dan pengeringan.
"Untuk pengembangan ke depan, kami berharap kelembagaan petani semakin kuat. Salah satunya melalui koperasi yang prinsipnya dari, oleh, dan untuk anggota," jelasnya.
Ia berharap sinergi antara pemerintah, petani, koperasi, pelaku usaha, dan eksportir dapat terus diperkuat sehingga pengembangan kopi tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memberikan nilai tambah dan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi petani.
Kegiatan ruwat rawat kopi tersebut dihadiri Bupati Magelang, Grengseng Pamuji, perwakilan seluruh kepala OPD di lingkungan Pemerintah Kabupaten Magelang, para camat se-Kabupaten Magelang, petani kopi Desa Banjarsari, serta sejumlah pihak terkait.
Melalui momentum tersebut, Pemkab Magelang berharap kopi lokal semakin kuat dari hulu hingga hilir, memiliki kualitas yang kompetitif, serta mampu membawa nama Kabupaten Magelang dari akar tradisi lokal menuju pasar yang lebih luas hingga tingkat internasional.
0 Komentar