Integrasi Tanam Salak dan Ternak Kambing Perah, Warga Srumbung Tingkatkan Kesejahteraan

Dilihat 38 kali
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) RI Letjen TNI M. Saleh Mustofa bersama Bupati Magelang melihat langsung peternakan kambing perah di Jengglik Desa Ngablak Kecamatan Srumbung Kabupaten Magelang

BERITAMAGELANG.ID - Para peternak kambing yang tergabung dalam Koperasi Produsen Rojo Koyo Utomo di Dusun Suruh, Desa Banyuadem, Kecamatan Srumbung Kabupaten Magelang sukses meningkatkan kesejahteraan lewat integrasi pertanian salak dan kambing perah.

Bahkan potensi tersebut mendapat apresiasi dari Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) RI, Letjen TNI M. Saleh Mustofa saat meresmikan unit pengolahan susu kambing milik kelompok peternak tersebut, Kamis (29/10/2026).

Wamentan Saleh Mustofa menilai, pengembangan kambing perah di Magelang berpotensi direplikasi di daerah lain. Namun, efektivitas produksi, efisiensi pengolahan, serta kepastian pasar dan stabilitas harga harus menjadi perhatian.

Pemerintah juga mendorong pembinaan peternak melalui pelatihan, penyuluhan, dan pengembangan inseminasi buatan untuk meningkatkan produktivitas.

Bupati Magelang Grengseng Pamuji menegaskan, pengembangan kambing perah harus ditopang ekosistem terintegrasi, mulai dari budidaya, pengolahan, perizinan, hingga pemasaran.

Grengseng mengungkapkan, Pemkab Magelang telah mendukung hilirisasi melalui fasilitasi peralatan pengolahan, termasuk pasteurisasi, serta pendampingan perizinan agar usaha peternakan berkembang berkelanjutan.

"Tidak serta-merta besok bagi kambing, bagi ini, bagi itu. Kita bangun satu ekosistem yang kita dorong untuk diduplikasi di daerah lain," tegasnya.

Ketua Perkumpulan Peternak Kambing Perah Rojo Koyo Utomo, Nanang Ismail, mengklaim pendapatannya meningkat hingga 500 persen.

Nanang mengatakan, kelompoknya mampu memproduksi 30.000-40.000 liter susu kambing per bulan dari lebih dari 250 pelaku usaha di Magelang dan sejumlah daerah di Jawa Tengah.

"Jadi kami tidak mematikan salak, tetapi mengonversi sebagian lahan. Kira-kira 20 persen untuk didirikan kandang," katanya.

Rojo Koyo Utomo kini memiliki lebih dari 7.000 ekor kambing, dengan 2.000-2.500 ekor diantaranya merupakan kambing laktasi. Selama ini, sebagian besar susu dipasok ke perusahaan pengolahan sehingga peternak masih bergantung pada mitra untuk menghasilkan produk siap konsumsi.

"Melalui unit pengolahan koperasi, peternak berharap memperoleh nilai tambah dan margin keuntungan lebih besar," ujarnya.

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar