Mengapresiasi Pembelajaran Seni Budaya

Dilihat 2304 kali
Kreativitas guru di sekolah sangat dibutuhkan untuk menciptakan pembelajaran seni budaya agar tidak menjenuhkan. Salah satunya dengan menyaksikan lukisan mural bertemakan wayang yang muncul di banyak tempat di wilayah Kabupaten Magelang.

Seperti diketahui, anak-anak mempunyai dunia sendiri yakni dunia bermain. Kebutuhan bemaian ini tidak bisa dinafikan. Hanya saja, sekarang ini bagaimana peran orang tua dan guru pendamping di sekolah untuk melepas mereka bermain, tanpa mengabaikan pendidikan kepribadian yang selayaknya ditanamkan sejak dini.


Dengan menanamkan seni dengan bermain yang membuat anak-anak senang, secara tidak sadar akan mempengaruhi kecerdasan emosionalnya. Kecerdasan inilah yang kelak nanti akan berguna untuk pembentukan pribadi. Maka, pantaslah bila seni dikatakan sebagai sebuah terapi kehidupan masa kini.


Pada umumnya, anak-anak TK sampai SD masih sangat menyukai bermain. Sepanjang masa kanak-kanak bermain sangat mempengaruhi penyesuaian pribadi dan sosial anak. Sedangkan penelitian tentang dunia anak yang mulai gencar dilakukan pada penghujung  abad ke-19 menyadarkan orang akan perlunya memperlakukan anak sebagai pribadi yang berbeda dari orang dewasa.


Kesadaran ini melahirkan kebutuhan baru, yakni bagaimana mendidik anak melalui program yang berpijak pada perkembangan spesifik anak. Kajian ini menunjukkan bahwa mengekspresikan diri secara estetik melalui media gerak, bunyi, atau rupa (visual) merupakan sesuatu yang alamiah pada diri anak sejak usia dini yang berkembang sesuai dengan jiwa dan raganya. Dengan demikan, pendidikan seni merupakan suatu media yang amat efektif untuk mengelaborasikan kepribadian anak. Karena itu, tidaklah mengherankan bila kemudian pendidikan seni menjadi bagian penting dari kurikulum pendidikan modern.

 

Kesadaran nilai budaya


Pada dasarnya, implikasi apresiasi menurut KBBI merupakan kesadaran terhadap nilai seni budaya. Kesadaran di sini dapat dimaknai mengarah pada cakupan yang luas dalam bingkai multikultur. Multi tidak hanya berdasar pada pendekatan lingkup etnis, peta geografis, dan disiplin seni, melainkan juga lingkup sosial dan kurun waktunya. Dengan demikian dapat ditarik suatu tautan benang merah bahwa sasaran utama pendidikan apresiasi seni adalah pemahaman terhadap realitas kehidupan kesenian dengan berpijak pada konteks sosial.


Sejalan dengan merebaknya konsep tentang kekreatifan dalam pendidikan yang dipopulerkan oleh para pendidik progresif pada dekade 1920-an, pendidikan apresiasi seni  mendapatkan perhatian khusus, karena dianggap sangat sesuai untuk menyalurkan potensi kreativitas anak. Dalam hal kekreatifan, pendidikan seni dipandang berada di jajaran terdepan jika dikomparasikan dengan mata pelajaran lain. 


Nilai lebih yang terkandung di dalam pendidikan seni, antara lain kreativitas yang terbangun dapat pula diaplikasikan pada bidang lain. Sebagai spesimen, jika ada suatu artikel, buku atau jurnal ilmiah, di cover depan (sampul) mesti muncul lukisan atau grafis yang dapat menarik perhatian pembaca. Suatu fakta yang tak terbantahkan, bahwa karya seni bisa mendukung disiplin ilmu apa saja.


Peran pendidikan seni makin diapresiasi sejalan dengan disosialisasikannya temuan penelitian yang mengungkap misteri fungsi belahan otak kanan dan kiri manusia. Ditemukan bahwa belahan otak kanan manusia secara khusus berfungsi untuk kegiatan yang  bersifat intuitif, ekspresif, komunikatif, dan kreatif. 


Sedangkan belahan otak kiri berkaitan dengan kegiatan berpikir rasional, berhitung, membaca, dan menulis. Temuan ini diharapkan bisa menyadarkan para perancang kurikulum bahwa pendidikan seni tidak hanya penting dalam korelasinya dengan elaborasi kreativitas, tetapi juga penting dalam upaya menyeimbangkan perkembangan belahan otak-kanan dan otak-kiri (Majalah Gong, 2005).


Merambah lingkup luas


Bila dikaji secara akuratif pendidikan apresiasi seni memang dapat merambah lingkup yang luas dalam cakupan multikultur berbasis wawasan nusantara. Hal tersebut akan memiliki makna penting bagi kehidupan kita sebagai bangsa. 


Pertama, sebagai media untuk membangun kesadaran peserta didik dalam mengapresiasi keberagaman kehidupan sosial dan  budaya Indonesia. Pendekatan multikultur yang digunakan oleh peserta didik untuk mengapresiasi realitas kehidupan berbangsa, akan mengikis pemahaman perbedaan yang bersifat stereotipikal, sehingga dapat dikembangkan pemahaman terhadap perbedaan yang lebih bersifat lintas budaya dan memperbesar sifat saling toleransi.


Kedua, perkembangan sikap para peserta didik yang lebih terbuka pada perbedaan akan mengubah cara pandang dan pencitraan mereka terhadap budaya etnik yang lain. Hal ini akan mendorong terjadinya perubahan dari perspektif yang eksklusif dan penuh prasangka ke sikap yang inklusif, objektif, tidak pilih kasih, dan penuh persahabatan. 


Ketiga, dengan mempelajari karya hasil-hasil karya seni nusantara yang sangat beragam dan berasal dari budaya yang berbeda-beda, dapat ditanamkan kesadaran bahwa sesungguhnya bangsa ini tidak memiliki identitas budaya  yang bersifat tunggal dan baku. Identitas budaya yang dimiliki bangsa Indonesia senantiasa bersifat majemuk dan kompleks. Dengan demikian untuk atau mempertahankan identitas budaya masing-masing  selayaknya pada setiap budaya etnik diberikan ruang dan kesempatan yang sama  guna mengembangkan proses dialektika kebudayaannya tanpa harus diatur atau ditentukan oleh lembaga-lembaga budaya, instansi pemerintah atau para pejabat pemerintah.Peran lembaga-lembaga tersebut cukup menjadi fasilitator yang menstimulasi proses kegiatan berkesenian.


Keempat, kekayaan ragam seni dan budaya yang dipelajari peserta didik, dapat digunakan sebagai landasan untuk mengembangkan potensi kreatif, sehingga darinya diharapkan lahir karya-karya  seni baru yang lebih inovatif. Pada saatnya, karya-karya seni tersebut akan memperkaya khasanah seni budaya nusantara.


Kini tinggal bagaimana peran guru pendamping seni budaya dalam kiatnya untuk meningkatkan kapabilitas dalam mengolah materi kesenian yang tidak lagi sekadar keterampilan yang berpijak pada ranah psikomotorik, namun juga dapat diarahkan ke masalah afektif dan kognitifnya, sehingga kesenian tidak dipandang sebelah mata. 


Anak-anak merupakan bibit potensial bagaikan mutiara yang terpendam. Dengan dukungan dan komitmen semua pihak baik orang tua, guru pendamping kesenian atau seni budaya,sekolah,dan masyarakat merupakan awal keberhasilan menuju terwujudnya anak-anak yang merupakan tumpuan harapan generasi masa depan ini untuk memiliki jati diri, sehingga mampu membetengi dirinya dan beradaptasi dengan era globalisasi.


(Oleh: Drs. Ch. Dwi Anugrah, M.Pd., Guru Seni Budaya SMK Wiyasa Magelang)

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar