Mengembangkan Modul Ajar dengan Metode Kuantum

Dilihat 5390 kali
Modul ajar disusun sesuai dengan fase atau tahap perkembangan peserta didik

Oleh: P. Budi Winarto, S.Pd


MODUL ajar adalah sejumlah alat atau sarana media, metode, petunjuk, dan pedoman yang dirancang secara sistematis dan menarik. Modul ajar merupakan implementasi dari alur Tujuan pembelajaran yang dikembangkan dari capaian pembelajaran dengan Profil Pelajar Pancasila sebagai sasaran. Modul ajar disusun sesuai dengan fase atau tahap perkembangan peserta didik, mempertimbangkan apa yang akan dipelajari dengan tujuan pembelajaran, dan berbasis perkembangan jangka panjang.

Pengembangan modul ajar dalam kurikulum merdeka bertujuan untuk mengembangkan perangkat ajar yang memandu pendidik  melaksanakan pembelajaran. Modul ajar yang dikembangkan harus bersifat esensial, menarik, bermakna, menantang, relevan, kontekstual, dan berkesinambungan. Salah satu metode pembelajaran yang menarik, menantang, kontekstual, relevan, berkesinambungan, dan bermakna untuk mengembangkan modul ajar adalah metode pembelajaran Kuantum.

Metode Pembelajaran Kuantum (Quantum Learning and Teaching) dimulai di Super Camp, sebuah perusahaan pendidikan internasional yang menekankan perkembangan keterampilan akademis dan keterampilan pribadi (DePorter, 1992). Metode kuantum diciptakan berdasarkan teori pendidikan seperti Accelerated Learning (Lozanov), Multiple Intellegences (Gardner), Neuro-Lingustic Programming (Grinder dan bandler), Experiential learning (Hahn), Socratic Inquiry, Cooperative Learning (Johnson dan Johnson), dan Element of Effective Instruction (Hunter).

Pada tahun 1940-an Freire, sudah memaparkan konsep pendidikan seperti itu. Kemudian pada tahun 1954, George Lozanov, seorang psikolog, melalui penelitian bahasa menemukan bahwa belajar dapat menghasilkan sesuatu secara cepat jika berada dalam kondisi antara sadar dan tidak sadar. Hasilnya jika anak belajar menghitung dengan metode Lozanov dapat menjadi seratus kali lebih cepat jika dibandingkan dengan hitungan biasa. Metode Lezanov dinamakan pendekatan Sugetopedia karena memanfaatkan sugestif dalam pembelajarannya. Kemudian, Bobbi DePorter mengembangkan konsep sugetopedia melalui berbagai penelitian sehingga menyodorkan konsep quantum Learning.

Quantum Learning (QL) merupakan metode pendekatan belajar yang bertumpu dari metode Freire dan Lozanov. QL mengutamakan percepatan belajar dengan cara partisipatori peserta didik dalam melihat potensi diri dalam kondisi penguasaan diri. Gaya belajar dengan mengacu pada otak kanan dan otak kiri menjadi ciri khas QL. Menurut QL proses belajar mengajar adalah fenomena yang kompleks. Segala sesuatunya dapat berarti, setiap kata, pikiran, tindakan, dan asosiasi, dan sejauh mana guru mengolah lingkungan, presentasi, dan rancangan pengajaran maka sejauh itulah proses belajar berlangsung. Hubungan dinamis dalam lingkungan kelas merupakan landasan dan kerangka untuk belajar (De Porter, 2019). Dengan demikian, pembelajar dapat mememori, membaca, menulis, dan membuat peta pikiran dengan cepat.

Dalam QL, yang dipentingkan adalah pemercepatan belajar, fasilitasi, dan konteks dengan prinsip segalanya berbicara, segalanya bertujuan, pengalaman sebelum menemukan, akui setiap usaha pembelajar, dan jika layak dipelajari berarti layak untuk dirayakan. QL mengutamakan konteks da nisi. Konteks berisi tentang (1) suasana yang memberdayakan, (2) landasan yang kukuh, (3) lingkungan yang mendukung, dan rancangan belajar yang dinamis. Kemudian isi terdiri atas (1) penyajian yang prima, (2) fasilitas yang luwes, (3) keterampilan belajar untuk belajar, dan keterampilan hidup.

Metode kuantum mencakup petunjuk spesifik untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif, merancang kurikulum, menyampaiakan isi, dan memudahkan proses belajar. Metode kuantum adalah pengubahan bermacam-macam interaksi yang ada di dalam dan di sekitar mamen belajar dengan menyingkirkan hambatan yang menghalangi proses belajar alamiah dengan secara sengaja menggunakan music, mewarnai lingkungan sekeliling, menyusun bahan pengajaran yang sesuai, cara efektif pembelajaran, dan keterlibatan aktif siswa dan guru. Asas yang digunakan adalah bawalah dunia mereka ke dunia kita dan antarkan dunia kita ke dunia mereka.

Ada lima prinsip yang mempengaruhi seluruh aspek metode kuantum. Prinsip tersebut adalah (1) segalanya berbicara, (2) segalanya bertujuan, (3) pengalaman sebelum pemberian nama, (4) akui setiap usaha, dan (5) jika layak dipelajari, layak pula dirayakan. Konteks dan isi sangat mendominasi dalam pelaksanaan pembelajarn kuantum. Konteks adalah latar untuk pengalaman pembelajaran. Konteks dianggap sebagai suasana yang mampu memberdayakan, landasan yang kukuh, lingkungan yang mendukung, dan rancangan belajar yang dinamis. Sedangkan isi berkaitan dengan penyajian yang prima, fasilitas yang luwes, keterampilan belajar untuk belajar, dan keterampilan hidup.

Oleh metode kuantum, siswa dianggap sebagai pusat keberhasilan belajar. Saran-saran yang dikemukakan dalam membangun hubungan dengan siswa adalah:

  1. Perlakukan siswa sebagai manusia sederajat
  2. Ketahuilah apa yang disukai, cara pikir mereka, dan perasaan mereka
  3. Bayangkan apa yang mereka katakana kepada diri sendiri dan mengenai diri sendiri
  4. Ketahuilah apa yang menghambat mereka untuk memperoleh hal yang benar-benar mereka inginkan jika guru tidak tahu tanyakan ke siswa
  5. Berbicaralah dengan jujur kepada mereka dengan cara yang membuat mereka mendengarnya dengan jelas dan halus
  6. Bersenang-senanglah bersama mereka.

Dalam menggunakan metode kuantum dalam proses belajar mengajar, guru tentunya tetap memperhatikan tujuan yang akan dicapai, , proses yang akan dilakukan, materi yang akan disajikan, media atau sarana yang perlu disiapkan, dan peran  guur juga masih sangat diperlukan. Bila metode pembelajaran kuantum benar-benar bisa dilaksanakan dalam proses pembelajaran di sekolah dan sudah dihidupi oleh para guru dalam mmembuat modul ajar sesuai dengan yang diamanatkan dalam  kurikulum merdeka maka harapannya kualitas pendidikan di Indonesia secara umum akan mengalami peningkatan. Semoga.


Penulis adalah guru SMP Pendowo Ngablak – Kabupaten Magelang

Editor Slamet Rohmadi

0 Komentar

Tambahkan Komentar