Pariwisata Berbasis Budaya

Dilihat 27 kali
Puluhan pelajar dari Pusat Pendidikan Buddhis Fo Guang Shan Indonesia yang berpusat di Taiwan sangat antusias belajar seni tari dan karawitan di Sanggar Borobudur Art Centre Dusun Jligudan, Desa Borobudur, Kabupaten Magelang. Kantong budaya tersebut dapat menjadi objek destinasi wisata budaya.

Tidak bisa dipungkiri dalam beberapa dekade ini, sektor pariwisata masih menjadi andalan sebagai pemasok devisa negara yang sangat signifikan. Sebagai motor penggerak ekonomi, devisa yang dihasilkan dari kunjungan wisatawan mancanegara dicatat sebagai komponen ekspor jasa. Pendapatan ini sangat krusial dalam memperkuat neraca perdagangan serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.


Apabila ditelisik lebih akuratif dalam kurun waktu 2025, wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia kisarannya mencapai 15,39 juta pengunjung. Sedangkan pergerakan animo wisatawan Nusantara menunjukkan tren yang positif dan signifikan. Sektor pariwisata saat ini juga kian bergerak menuju paradigma baru yang lebih berkualitas, berkelanjutan, dan insklusif (Kemenko Perekonomian, 2026).


Selain itu, pembangunan pariwisata Indonesia diharapkan mampu menciptakan inovasi-inovasi baru untuk mempertahankan dan meningkatkan daya saingnya secara berkelanjutan. Salah satu cara untuk mencapai tujuan tersebut adalah melalui pemberdayan potensi budaya yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.


Kebudayaan mempunyai peran vital dalam elaborasi kepariwisataan nasional. Implikasinya, pengembangan kepariwisataan harus menghargai nilai-nilai kultur lokal yang berkembang di masyarakat. Dalam kode etik pariwisata dunia terutama dalam pasal pertama ditegaskan, kegiatan kepariwisataan merupakan ajang untuk saling menghargai antar budaya yang dimiliki wisatawan dan masyarakat yang menerima wisatawan tersebut.


Melihat eratnya korelasi antara kebudayan dan kepariwisataan, maka kunci sukses yang tidak boleh dilupakan yaitu membangun sinergitas yang proporsional dari kedua aspek tersebut. Jika paradigma tersebut dapat dielaborasikan secara tepat, maka kepariwisataan akan dapat mendatangkan manfaat yang lebih komprehensif kepada masyarakat. Ketika kedua sektor ini berjalan beriringan, kebudayaan menjadi daya tarik utama pariwisata, sementara pariwisata menyediakan sumber daya dan panggung untuk melestarikan budaya tersebut.  

 

Berbasis Budaya


Pengembangan pariwisata di Indonesia pada dasarnya menggunakan konsep pariwisata berbasis budaya seperti telah ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009. Hal ini dilakukan tentunya dengan konsiderasi bahwa Indonesia memiliki potensi kebudayaan yang bervariasi dengan keanekaragaman dan keunikan masing-masing di daerah destinasi wisata. Dalam hal ini, keunikan seni budaya yang beraneka ragam di beberapa daerah destinasi wisata tersebut dijadikan sebagai daya tarik utama untuk wisatawan.


Atas dasar itu, kiranya wajar kalau setiap langkah dalam pengembangan pariwisata diharapkan selalu memperhatikan terpeliharanya seni budaya bangsa yang dijadikan sebagai aset pariwisata Indonesia. Tujuan utama dari semua itu, tidak lain adalah untuk menciptakan citra dan lebih penting lagi dengan cara tersebut pariwisata Indonesia akan memiliki ciri yang spesifik atau identitasnya sendiri berbeda dengan negara-negara lain.


Pariwisata berbasis budaya memiliki keunikan tersendiri, wisata ini tidak hanya menjual atau memanfaatkan sumber daya budaya, namun juga berupaya melestarikan warisan budaya yang ada. Pengelolaan wisata budaya harus mencakup aspek pengembangan dan pengemasan, sehingga wisata budaya dapat memiliki nilai jual tinggi. Pengelolaan ini juga harus dimulai dengan pemahaman dan kesadaran akan budaya yang menjadi fokus wisata, yang telah dikenal sejak lahir oleh komunitas setempat.


Adapun konsep pariwisata berbasis budaya ini menekankan pada jenis kepariwisataan yang menggunakan potensi budaya sebagai daya tarik wisata dominan sekaligus memberikan identitas bagi pengembangan pariwisata tersebut. Sedangkan kegiatan pariwisata berbasis budaya ini memiliki 10 elemen budaya yang menjadi daya tarik wisata yaitu kerajinan, tradisi, sejarah dari suatu tempat, arsitektur, makanan tradisional, seni tari dan musik, tata cara kehidupan komunitas lokal, pakaian adat, bahasa, dan kehidupan religius.


Di sini lebih ditegaskan lagi, bahwa pariwisata berbasis budaya atau yang dikenal sebagi wisata budaya merupakan sebuah bentuk pengemasan budaya sebagai daya tarik wisata. Aktivitas seni budaya komunitas lokal merupakan realisasi atau perwujudan dari ekspresi yang terbangun secara kolektif. Adapun preservasi dari seni budaya lokal apabila terus dijaga kontinuitasnya akan berkembang sebagai daya tarik destinasi wisata yang akan berimbas pada aspek ekonomi.  


Lebih jauh lagi daya tarik destinasi wisata tersebut sebagai bentuk penawaran wisata budaya memerlukan wadah representatif sebagai ruang wisata budaya yang memiliki unsur ekonomi sekaligus sebagai ruang berekspresi dan preservasi para seniman juga masyarakat.


Ruang wisata budaya berfungsi sebagai wadah penting untuk melestarikan tradisi, mengekspresikan seni, dan memperkenalkan identitas lokal kepada wisatawan. Adapun nilai strategis dari ruang wisata budaya ini adalah menjadi tempat bagi masyarakat lokal untuk merawat, menampilkan, dan mewariskan tradisi turun-temurun. Sedangkan dilihat dari perspektif daya tarik ekonomi, ruang wisata budaya ini akan dapat meningkatkan kesejahteraan warga melalui pariwisata berbasis komunitas.


Di Kabupaten Magelang, memiliki potensi wisata budaya yang diandalkan, seperti situs sejarah, kesenian, nilai tradisi, kerajinan, dan sebagainya. Apabila wisatawan ingin menyaksikan upacara tradisional yang sudah berlangsung turun temurun, dapat mengunjungi banyak desa di Kabupaten Magelang, seperti upacara Sungkem Telompak di Desa Banyusidi Pakis, Upacara Suran di Tutub Ngisor Dukun. 


Kerajinan Batik bisa berkunjung ke Saniyya batik & butik Desa Gunungpring Muntilan, pelatihan seni tari dan karawitan bisa berkunjung ke Sanggar Borobudur Art Centre Desa Borobudur, dan masih banyak kantong-kantong budaya di Kabupaten Magelang yang dapat dikunjungi wisatawan sebagi destinasi wisata budaya.


Terlebih lagi Kabupaten Magelang telah mencanangkan visi-misi Sapta Cita yang berfokus pada pengembangan pariwisata berkelanjutan, penguatan ekonomi lokal, dan integrasi wisata kreatif-edukatif. Kebijakan ini menyelaraskan program strategis nasional dengan potensi lokal Kabupaten Magelang sebagai kawasan super prioritas pariwisata.


Pariwisata Berkelanjutan


Pariwisata berbasis budaya yang sampai saat ini menjadi branding perlu dikelola secara optimal agar ikon pariwisata ini dapat berkelanjutan. Adapun strategi yang perlu dilakukan di antaranya perlu dilakukan kolaborasi paralel antara pelaku pariwisata, pemerintah, masyarakat, dan pihak-pihak lain yang berkepentingan terutama terkait dengan prinsip utama pengelolaan berkelanjutan.


Prinsip utama pengelolaan berkelanjutan tersebut berkorelasi dengan beberapa aspek yang saling memengaruhi baik dalam hal pelestarian budaya, keterlibatan masyarakat lokal, dan keseimbangan ekonomi maupun ekologi. Masing-masing aspek berkelindan dalam satu kesatuan yang saling menopang.


Pelestarian budaya berkorelasi dengan orisinalitas obyek yang perlu dijaga agar tidak dirusak oleh komersialisasi pariwisata secara berkelebihan. Komunitas lokal perlu dilibatkan baik mulai dari perencanan sampai evaluasi, agar tidak terkesan sebagai penonton di rumahya sendiri. Sedangkan keseimbangan pada aspek ekonomi dan ekologi perlu dijaga agar pendapatan dari pariwisata ikut mendanai perawatan situs budaya dan menjaga lingkungan sekitar.


Penulis: Drs. Ch. Dwi Anugrah, M.Pd. Ketua Sanggar Seni Ganggadata Desa Jogonegoro, Kec. Mertoyudan Kabupaten Magelang

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar

@kominfomagelang 🇮🇩 30 hari gotong royong, hasilnya nyata! TMMD Sengkuyung Tahap III TA 2026 di Desa Giri Kulon, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang resmi ditutup. Jalan cor 500 meter, talud, dan saluran air berhasil diselesaikan 100% untuk mendukung akses dan aktivitas masyarakat. 💪 TMMD bukan sekadar membangun infrastruktur, tetapi juga memperkuat kebersamaan TNI, Polri, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam membangun desa. “TMMD: Satukan Langkah, Membangun Negeri dari Desa.” 🇮🇩🤝 Semoga hasil pembangunan ini bermanfaat dan terus dirawat bersama demi kemajuan Desa Giri Kulon. #TMMD #magelang24jam #Secang ♬ original sound - kominfomagelang