Pelestarian Tradisi Tutur

Dilihat 3492 kali
Tradisi tutur dapat diawali di lingkungan keluarga. Orang tua bisa meluangkan waktu untuk mendiskusikan nilai-nilai kearifan lokal di daerahnya atau nilai-nilai kehidupan yang sarat akan nilai humaniora

Kontinuitas dan pewarisan adat tradisi seringkali transformasinya disampaikan melalui bahasa oral yang seringkali dikenal dengan tradisi tutur. Bila ditelisik lebih jauh, tradisi tutur sudah ada sejak zaman dahulu, bahkan menjadi bagian dari tradisi yang tumbuh berkembang di masyarakat. Sebuah cerita yang syarat dengan nilai-nilia adat dan mitos disampaikan secara lisan.


Tradisi tutur nusantara merupakan salah satu bentuk kearifan lokal, tradisi menuturkan peristiwa historis dan peristiwa budaya yang kurun waktunya sudah berlangsung cukup lama bahkan sudah turun temurun dari beberapa generasi. Diperkenalkan oleh leluhur bangsa, sebagai sebuah bentuk kekayaan kultural, yang sampai saat ini masih tetap survive di beberapa daerah.


Melalui tradisi tutur berbagai macam informasi lama mengenai berbagai pernik-pernik kebudayaan tersampaikan secara eksplisit. Melalui tuturan ini pula, masyarakat mengenal dan belajar kembali nilai-nilai kehidupan yang sudah berlangsung turun temurun. Tuturan tidak hanya disampaikan dalam bentuk komunikasi oral, melainkan juga dengan bahasa seni yang lazim disebut seni tutur.


Dalam komunitas etnik yang tersebar di seluruh wilayah nusantara terdapat banyak seni tutur, seperti Mayong (Sumatra), Troubador (Aceh), Jemblung (Banyumas), Tembang atau Macapatan (Jawa), Kentrung (Blora), Cakepung (Lombok dan Bali), Mocoan (Banyuwangi), Dadentate (Palu). Masing-masing daerah memiliki ciri spesifik dari penuturannya sebagai indikator banyak ragamnya kekayaan budaya nusantara (Majalah Gong No. 34/2002).


Sastra Pemula


Dalam telaah sastra, tradisi tutur sebenarnya merupakan sastra pemula yang keberadaannya jauh sebelum adanya novel, cerpen atau puisi yang berkembang sampai saat ini. Tradisi seni bertutur adalah bagian dari sastra lisan yang diturunkan oleh nenek moyang bangsa Indonesia.


Tradisi tutur banyak mengisahkan tentang cerita rakyat, legenda, juga mitos. Seperti cerita rakyat berdirinya Candi Borobudur. Menurut cerita rakyat, pembangunan candi masa kebesaran Kerajaan Syailendra tersebut, peran beberapa tokoh sentral seperti Pancapana, Endrayana, Pramudyawardhani, Gunadharma, memiliki andil besar di dalamnya. Semangat gotong royong dan kebersamaan beberapa elemen masyarakat dapat menjadi parameter, bahwa pada masa feodal tersebut semangat bahu membahu demi kepentingan bersama sudah sangat membumi. Cerita tersebut, sudah menjadi tradisi tutur sejak lama. Bahkan sering dipentaskan dalam bentuk teater tradisional kethoprak.


Selain itu tradisi tutur juga disampaikan dalam bentuk seni lainnya, yaitu bentuk tembang. Dalam tradisi di Jawa dan Bali, kedudukan tembang begitu dominan. Tembang tidak hanya ditemukan dalam bentuk tulisan, melainkan pula dalam penyampaiannya dilakukan secara lisan. Lebih dari itu, tembang menampakkan suatu identitas individual dan sangat personal.


Prinsip dasarnya dalam tembang terdapat tiga faktor dasar yaitu tekstual, nyanyian, dan tulisan. Secara tekstual, berkenaan dengan kaidah-kaidah tembang yang sangat memerhatikan aspek silabel (guru wilangan), rima (guru lagu), dan stanza (guru gatra). Kaidah-kaidah ini sangat menentukan jenis atau bentuk tembang tersebut.


Di dalam tembang tersebut dibacakan dengan cara dilagukan dengan suara vokal yang lebih keras bila dibandingkan dengan membaca biasa sesuai dengan irama maupuan aturan normatif dalam masing-masing tembang. Sedangkan teks tulisan dalam tembang banyak ditulis dan dialihtuliskan dalam beragam huruf  atau tulisan, seperti Arab, Latin, maupun Aksara Jawa.


Di Jawa dan Bali terdapat tembang macapat sebagai  salah satu karya sastra  yang berbentuk tembang atau puisi tradisional. Tembang macapat muncul sekitar akhir masa kepemimpinan kerajaan Majapahit dan mulai disebarkan dan dipopulerkan oleh Walisongo saat berdakwah agama.


Dalam lingkungan keluarga, sejak dulu tradisi tutur orang tua kepada anak-anaknya dilakukan juga dengan tembang. Dalam tembang tersebut tersirat berbagai ajaran luhur yang sarat akan nilai humaniora. Sebagai misal dalam tembang Dhandhanggula tersirat makna ajaran kehidupan dan maksud baik dalam situasi apapun.


Yogyanira kang para prajurit

Lamun bisa sira anuladha

Duk ing nguni caritane

Andelira sang Prabu

Sasrabahu ing Maespati

Aran Patih Suwanda

Lelabuhanipun

Kang ginelung tri prakara

Guna kaya purun ingkang den antepi

Nuhoni trah utama


Adapun terjemahannya kurang lebih sebagai berikut:


Wahai semua prajurit, contohlah segala tingkah laku, kesetiaan, dan ketaatan seorang senapati bernama Suwanda yang sangat dibanggakan oleh Prabu Harjuna Sasrabahu raja di Mahespati. Adapun kesetiaan tersebut dibingkai dalam tiga hal, yaitu kepandaian, kekayaan akal, serta keberanian yang penuh semangat patriotik. Inilah yang dinamakan manusia utama (Sri Mulyono, 1978).


Dari tradisi tutur tembang tersebut, menyiratkan banyak ajaran moral, seperti dalam salah satu tembang macapat di atas. Nilai nasionalisme kiranya perlu ditanamkan sejak dini, terutama untuk generasi muda, karena mereka yang akan meneruskan tongkat estafet negeri ini menuju tujuan yang diharapkan.

 

Lingkup Keluarga


Mengingat tradisi tutur mengandung ajaran moral yang sangat signifikan kiranya langkah-langkah pelestarian perlu dilakukan secara simultan. Pelestarian perlu dikonotasikan secara luas, yaitu termasuk elaborasinya agar menarik minat generasi milenial.


Langkah praksisnya, tradisi tutur bisa dilakukan di lingkup keluarga. Ketika jam belajar di rumah orang tua bisa mengawali meluangkan waktu untuk mendiskusikan nilai-nilai kearifan lokal di lingkungannya, seperti legenda, mitos, atau momentum kultural lainnya. Dari pembiasaan di lingkungan keluarga, dalam proses perjalanan waktu, tradisi yang sudah turun temurun ini diyakini akan mendapat pencerahan kembali.


Sedangkan pihak pemerintah, terutama pemerintah desa, dalam momentum reguler yang sudah diagendakan, dapat menyelenggarakan pelatihan dengan target lomba tradisi tutur yang pesertanya diambil dari masing-masing keluarga. Agenda kegiatan tersebut, bisa dilakukan secara berkelanjutan sehingga di desa tersebut tradisi tutur dapat terus eksis. Apabila di tingkat keluarga dan desa sudah dapat menjadikan tradisi tutur sebagai branding kekayaan kultural desa, maka pengembangan di level di atasnya, baik sekolah maupun pemerintah kabupaten tidak kesulitan, karena sudah memiliki potensi dari masing-masing desa.


(Oleh: Ch. Dwi Anugrah, Ketua Sanggar Seni Ganggadata Jogonegoro, Kecamatan Mertoyudan, Kab. Magelang)


Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar