Penampilan dan Karisma Guru Di Era Merdeka Belajar

Dilihat 1277 kali
ilustrasi by https://stekom.ac.id/artikel/karakteristik-guru-yang-baik

Oleh : P. Budi Winarto, S.Pd*)


SAAT masih duduk di bangku sekolah sebagai siswa SMP, saya terkesan dengan penampilan guru bahasa Indonesia yang selalu necis dan rapi. Pakaiannya tidak selalu baru, tetapi begitu rapi. Roman mukanya bersahabat dan penuh senyum.

Saat masuk ke kelas, pastilah beliau mengawalinya dengan senyum. Saat menerangkan materi, saya begitu fokus memperhatikannya. Mungkin saja memperhatikan penampilan gurunya, bukan karena pada penjelasan materinya. Namun, yang patut dipahami dan dimaknai adalah guru saya telah berhasil mencuri perhatian para siswa untuk mau fokus pada dirinya.

Hal tersebut berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dengan salah seorang guru ketika saya di SMA. Guru saya tersebut pembawaannya cuek, pakaiannya kadang tidak rapi. Penampilannya terkesan asal-asalan, wajahnya kurang bercahaya, dan tidak ceria. Masuk ke kelas, guru saya itu dengan muka kurang bersahabat sambil membawa segelas kopi dan rokok mengepul di bibirnya. Bukan hanya saya, teman-teman sekelas pun sangat tidak senang belajar bersama guru tersebut. Akibatnya, pelajaran dari guru itu pun menjadi kurang disenangi karena ada kesan buruk dari penampilan gurunya. Mungkin pengalaman saya ini tidak terlalu istimewa bagi orang lain. Namun, bagi saya pribadi, jelas itu sangat berharga. 

Kisah lain diceritakan oleh Abdulah Hassan dalam bukunya (2008:152). Ceritanya, sebuah sekolah di Inggris menerima seorang guru laki-laki. Guru tersebut ditugaskan menjadi guru kelas yang siswa dianggap kurang berprestasi. Semenjak guru itu mengajar, prestasi para siswanya menunjukkan peningkatan dan tingkah laku mereka pun bertambah baik. Kejadian itu membuat heran guru lainnya. Padahal, jika diperhatikan, cara dia mengajar sama saja dengan guru-guru lain.

Lama-kelamaan barulah sadar bahwa sepatu yang dikenakan guru tersebut menggunakan kulit hitam yang bertali, yang sekarang menjadi trend sepatu para eksekutif muda. Rupanya, para siswa memperhatikan penampilan sepatu gurunya dan memberikan respons positif. Para siswa menjadi lebih rajin dan bersikap baik.

Percaya atau tidak, kisah tersebut telah mencuri perhatian para psikolog untuk melakukan penelitian. Hasilnya menunjukkan bahwa penampilan (pakaian) wajah, gerak-gerik, dan ekspresi mempunyai peranan yang sangat besar untuk meningkatkan kekuatan pengaruh seseorang. Untuk meningkatkan pengaruh guru kepada para siswanya, pastikan bahwa mereka menyukai penampilan si guru. Hal ini sebab penampilan guru mencerminkan sikapnya terhadap diri sendiri, siswa-siswinya, dan terhadap tugas yang sedang dijalani. 

Kita harus menyadari betul bahwa ketika guru sedang berbicara di depan kelas, para siswa membuat penilaian. Penilaian tersebut meliputi kemampuan guru secara keilmuan, berpikiran terbuka, mempunyai usaha keras, penuh semangat, menjadi motivator, berakhlak mulia, jujur, dan sebagainya. Semua itu mereka baca berdasarkan apa yang dilihat dari penampilan gurunya.

Pemikiran para siswa sangat dipengaruhi oleh apa yang mereka pikirkan tentang siapa diri gurunya. Apabila memandang guru dengan pandangan positif, mereka lebih mudah dipengaruhi. Mereka mudah menerima apa yang disampaikan gurunya. Jika mereka mempunyai pandangan yang negatif, mereka sukar untuk dipengaruhi. 

Karisma Guru

Penampilan seorang guru pun sangat dipengaruhi oleh karisma. Karisma adalah keadaan atau bakat yang dihubungkan dengan kemampuan luar biasa dalam hal kepemimpinan seseorang untuk membangkitkan rasa kagum masyarakat terhadap dirinya. Karisma sangat erat dengan kepemimpinan yang didasarkan pada kualitas kepribadian seseorang. Jadi, ada pemimpin yang karismatik, dan ada juga yang tidak karismatik.

Pemahaman tentang karisma tidak hanya dalam konteks kepemimpinan politik. Karisma dapat pula dimiliki oleh semua kalangan, termasuk para guru. Guru yang karismatik jelas akan disegani sekaligus dikagumi oleh para siswa. Guru yang karismatik juga mampu mendorong para siswa untuk mengubah cara berpikir dan tingkah laku mereka ke arah yang positif. Hanya dengan melihat wajah dan penampilannya, para siswa sudah terpengaruh, apalagi jika mendengar kata-kata yang diucapkannya.

Karisma merupakan citra diri yang sangat positif. Karisma mempunyai tiga unsur, sebagai berikut.

  1. Keilmuan dan keahlian. Untuk membentuk karisma pada diri sendiri, kita harus mampu meyakinkan orang lain bahwa apa yang diucapkan memang kita pahami. Bahkan, mungkin bisa dibuktikan kebenarannya.
  2. Ketulusan. Orang yang akan dipengaruhi harus yakin bahwa kita tidak munafik dengan kata-kata yang diucapkan.
  3. Penampilan dan tutur kata. Penampilan dan tutur kata harus dapat membuat orang yang akan dipengaruhi yakin bahwa kita seorang yang berilmu dan tulus. 

Jika sudah mampu memiliki ketiga unsur tersebut, kita akan mempunyai kuasa karisma.

Hasil kajian lain menunjukkan bahwa orang yang karismatik adalah orang yang memiliki penampilan tenang, lembut, dan manis. Mereka juga mempunyai gaya penampilan diri yang leluasa atau fleksibel, walau dalam keadaan apapun. Walaupun dalam keadaan hiruk pikuk dan panas, mereka tidak menunjukkan kecemasan, bimbang, resah gelisah, atau panik. Harapannya dalam mengimplementasikan kurikulum merdeka para guru semakin meningkatkan citra diri yang positif, penampilan prima, dan karisma sehingga implementasi kurikulum merdeka di seluruh sekolah-sekolah di Indonesia juga semakin berkualitas. Semoga.


*)Penulis adalah guru SMP Pendowo Ngablak Kabupaten Magelang

Editor Slamet Rohmadi

0 Komentar

Tambahkan Komentar