Pesan Moral dalam Seni Mural

Dilihat 6746 kali
Seni mural dapat menjadi media penyampaian pesan moral kepada publik. Seperti lukisan mural di Dusun Karangwatu Muntilan yang menarasikan tokoh wayang Wisanggeni

Dalam beberapa dekade ini, di beberapa tembok-tembok kota terpampang lukisan besar yang sangat marak. Tembok-tembok kota yang dulunya hanya tembok natural, sekarang sudah banyak dihiasi dengan lukisan-lukisan indah yang menjadi santapan estetis siapa saja yang menyaksikan.


Lukisan-lukisan indah tersebut sering disebut lukisan mural. Pada dasarnya seni mural merupakan lukisan besar yang dibuat untuk mendukung ruang arsitektur. Mural ini bisa ditemukan dalam wujud gambar kartun, manusia ataupun hewan. Mural tidak hanya berdiri sendiri tanpa kehadiran ribuan makna. Bagi pembuatnya ada pesan-pesan yang ingin disampaikan melalui mural.


Seperti lukisan mural di Dusun Karangwatu, Pucungrejo Muntilan yang memvisualisasikan cerita tokoh wayang Wisanggeni. Dalam epos Mahabharata sosok Wisanggeni merupakan tokoh fenomenal. Ia putra Arjuna dengan Bidadari Dresanala. Tokoh ini merupakan keturunan para dewa. Kakeknya adalah Batara Brahma dewa penguasa api. Selama hidupnya, Wisanggeni selalu mendarmabaktikan untuk kemanusian.


Tokoh Wisanggeni pernah menyatukan keluarganya, karena ibunya pernah diculik untuk diperistri Prabu Dewasrani Raja Tunggulmalaya. Ia pun berani menyadarkan Batara Guru rajanya para dewa yang merestui penculikan tersebut. Nilai karakter dalam sosok Wisanggeni yang bisa diambil hikmahnya adalah darma baktinya untuk kemanusiaan dan keberaniannya meluruskan tindakan yang tidak pada tempatnya.


Mural memang seringkali dikorelasikan dengan sebuah istilah ruang publik. Ia dianggap sebagai siasat seni untuk merebut ruang publik. Ruang publik di sini tentunya memiliki interpretasi bermacam-macam. Namun lebih tepatnya merujuk pada ruang kosong sebagai media berekspresi (Majalah Gong edisi 111, 2009).


Branding


Kota kini kian menyediakan fasilitas bagi kehidupan masyarakatnya. Mulai dari ruang-ruang privat hingga ruang publik. Keunikan demi keunikan kehidupan perkotaan kian mewarnai peradaban  manusia dewasa ini. Peradaban dan kebudayaan kota menjadi citra atau branding kehidupan sosial komunitasnya.


Salah satu bentuk fisik yang difasilitasi kota adalah bangunan-bangunan atau gedung-gedung mulai dari yang berukuran kecil hingga besar dan tinggi dengan istilah gedung pencakar langit. Bangunan atau gedung tersebut dengan sendirinya menyediakan dinding-dinding dengan berbagai bentuk ukuran dan fungsinya. Di sela-selanya ada ruang kosong strategis yang bisa digunakan untuk berekspresi


Pemural melihat dinding kota sebagai ajang kreativitasnya. Bagi pemural, dinding-dinding kota adalah bentangan kanvas-kanvas kosong yang siap untuk dilukis. Seorang perupa dengan ide kreatifnya menjadikan kanvas dinding kota itu sebagai media pengungkapan ekspresi estetiknya.


Dalam praktik dan perkembangannya, pembuatan mural sebagai lukisan dinding dikerjakan seniman atas pesanan penguasa kota atau pihak/institusi-institusi tertentu yang memandang penting perekaman dan pencitraan suatu peristiwa atau sekadar upaya agar suatu wilayah kota lebih menarik dan indah.


Kemudian, perkotaan menjadi sejenis galeri mural atraktif yang bisa dinikmati oleh siapa saja, bahkan tak sedikit yang menjadikan sebagai icon atraksi pariwisata. Di kota-kota besar maupun kecil mulai menyemarakkan suasana kotanya dengan lukisan mural dalam berbagai variasinya.

 

Cita Rasa Tinggi


Mural yang awalnya merupakan karya seni yang dibuat para seniman jalanan di tembok dan dinding terbuka, kini menjadi trend baru sebagai karya seni bercita rasa tinggi. Mural bisa juga dipasang di dinding gedung mewah. Di atap langit langit rumah atau  di dinding hall atau di tempat lain sesuai dengan pesanan peminatnya.


Mural juga banyak dipasang di restoran atau cafe. Nuansa estetikanya bisa menjadi daya tarik tersendiri agar banyak tamu yang datang. Secara tidak langsung seni mural memiliki nilai ekonomi tinggi sebagai media promosi. Karena tidak dipungkiri promosi menduduki rating tinggi agar usaha dapat berjalan sesuai dengan harapan.


Dalam perkembangannya, mural menjadi ajang komunikasi efektif antar pemangku kepentingan. Bagi pemerintah kota misalnya, mural bisa dijadikan sebagai media efektif dalam menyampaikan  pesan pembangunan. Mural pesan pembangunan ini tampil dan dipasang di berbagai sudut kota. Pesan yang terkandung pada mural juga bisa sebagai sarana layanan masyarakat. Pesan yang tampil dinilai efektif dan diapresiasi masyarakat. Di sini, mural sebagai instrumen komunikasi publik dalam suatu kota. Mural dalam dinamika elaborasinya sudah jadi bagian karya masyarakat menyangkutkan komunikasi dua arah. Pencipta lukisan mural melaksanakan komunikasi secara visual terhadap khalayak kepada yang diceritakan, serta khalayak menikmati karya tersebut.


Fenomena ini menunjukkan dalam seni mural, bahwa berkomunikasi tidak hanya dilakukan secara visual yang menganut pandangan seni untuk seni tanda penanggung jawab yang pasti. Sedangkan mural juga bisa mendekatkan dirinya sebagai seni komunikasi secara verbal. Masyarakat mendapatkan pencerahan dalam lingkup seni rupa dan secara teknis masyarakat awam bisa mengambil peran  juga sebagai seniman.


Dengan demikian, seni mural memiliki manfaat yang sangat kompleks. Di samping manfaat estetika guna meningkatkan daya seni dan imajinasi penikmatnya, juga sebagai media penyampaian suatu pesan tersendiri kepada khalayak melalui citra dari sebuah gambar yang dihasilkan ke ranah publik.


(Oleh: Ch. Dwi Anugrah, Ketua Sanggar Seni Ganggadata Jogonegoro, Kecamatan Mertoyudan, Kab. Magelang)


Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar