Ruang Jiwa Seni Sastra

Dilihat 3705 kali
Karya sastra memiliki manfaat sebagai pembelajaran kehidupan manusia. Sudarmono, pegiat sastra dari Gataklamat Muntilan Kabupaten Magelang banyak menorehkan karya sastranya di publikasi daerah sampai nasional.

Karmawibangga

Pada perjalanan ini

Aku telah manapaki jalan senja

Penggalan kisah hidup sunyi tentunya

Sejuta kata tidak bisa jadi sajak

Meskipun hatiku berontak

Aku bertanya kepada siapa

Agar batu dan candi menjadi puisi


Penggalan puisi karya Sudarmono pegiat sastra dari Dusun Gataklamat Pucungrejo Muntilan bertajuk "Berseru Kepada Negeriku" tersebut serasa menggetarkan semua yang membaca. Makna puisi tersebut dapat diinterpretasikan sebagai pergumulan batin sang penyair untuk menarasikan Candi Borobudur sebagai peninggalan Dinasti Syailendra dalam karya sastra puisi.


Dalam dinamika perjalanan waktu, ketika banyak terjadi permasalahan di tanah air, baik politik, ekonomi, sosial, budaya, dan sebagainya, di beberapa daerah para sastrawan masih terus berkarya. Proses kreatif dan hasil karya mereka dapat membawa angin segar serta memperkokoh bangunan kebudayaan nasional.


Beberapa tahun terakhir, komunitas-komunitas sastra di beberapa daerah tersebut tumbuh subur yang bergerak ke arah progresifitas baru, yaitu sebagai bagian dari gerakan literasi dan pemberdayaan di akar rumput. Komunitas tersebut diikuti oleh berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, orang dewasa, mahasiswa, karyawan di perkotaan, hingga ibu rumah tangga di peloso-pelosok desa. Fenomena ini merupakan gejala demokratisasi sastra yang menjanjikan lahirnya aneka wacana alternatif (Kompas, Maret 2022).


Di Kabupaten Magelang saja sudah banyak muncul para sastrawan dan komunitas sastra seperti di Gunungpring Muntilan, Secang, Salam, dan sebagainya. Mereka sampai sekarang tetap berkarya, walau sudah hampir tiga tahun ini diterpa pandemi Covid-19 yang sempat melumpuhkan sendi-sendi kehidupan.


Hal itu ditegaskan oleh Sudarmono, pegiat sastra dari Gataklamat Muntilan yang juga pengelola Taman Bacaan Masyarakat Ruang Jiwa. Bagi para sastrawan situasi apa pun tidak akan melumpuhkan semangat mereka untuk berkarya. Bagi para sastrawan proses kreatif dalam berkarya merupakan refleksi ruang-ruang jiwa sebagai media ekpresi, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi perlu juga dikomunikasikan ke publik yang lebih luas.


Jenis Karya Sastra


Pada dasarnya karya sastra merupakan ungkapan perasaan manusia yang bersifat pribadi berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, ide, semangat, keyakinan dalam bentuk gambaran kehidupan yang dapat membangkitkan pesona dengan alat bahasa serta dilukiskan dalam bentuk tulisan.


Adapun jenis karya sastra dapat digolongkan ke dalam dua kelompok, yaitu karya sastra imajinatif dan karya sastra non imajinatif. Karya sastra imajinatif adalah sastra yang berupaya untuk menerangkan, menjelaskan, memahami, membuka pandangan baru, dan memberikan makna realitas kehidupan agar manusia lebih mengerti dan bersikap yang semestinya terhadap realitas kehidupan.


Dengan kata lain, sastra imajinatif berupaya menyempurnakan realitas kehidupan walaupun sebenarnya fakta atau realitas kehidupan sehari-hari tidak begitu penting dalam sastra imajinatif. Sastra imajinatif memiliki ciri-ciri yaitu, bersifat khayalan, menggunakan bahasa konotatif dan memenuhi syarat estetika seni, seperti dalam prosa, puisi, cerpen, novel, dan sebagainya.


Sedangkan ciri karya sastra non imajinatif adalah karya sastra tersebut lebih banyak unsur faktualnya daripada khayalannya dan cenderung menggunakan bahasa denotatif serta tetap memenuhi syarat-syarat dalam estetika seni.Sastra nonimajinatif dapat dilihat dalam berbagai karya sastra seperti esai, kritik, sejarah, biografi, serta autobiobrafi.


Dengan mengapresiasi sastra penikmat akan bisa mengambil manfaat dari sastra yang sarat akan nilai humaniora tersebut. Adapun manfaat sastra tersebut pada dasarnya adalan dapat diklasifikasi sebagai berikut. Pertama, dengan karya sastra penikmat seperti dibawa terbang mengembara dan berekreasi yang menyenangkan oleh imajinasi pengarang yang menyuguhkan kisah mengenai kehidupan manusia, masyarakat, dan alam lingkungannya.


Kedua, karya sastra dapat memperkaya pengetahuan penikmat, sebab dengan membaca karya-karya sastra penikmat memperoleh sejumlah pengetahuan berupa ide-ide, gagasan-gagasan, pemikiran, cita-cita pengarang ataupun kehidupan masyarakat dengan tradisi dan adat istiadatnya.


Ketiga, karya sastra dapat memperkaya dan memperluas sentuhan emosional pembaca. Implikasinya melalui pengalaman hidup tokoh-tokoh cerita yang imajinatif, karya sastra (fiksi) dapat menumbuhkan dalam diri peminat sebagai emosi manusia seperti rasa kasihan, simpati, empati, dan lain-lain, bahkan juga khataris (penyucian diri).


Keempat, karya sastra mengandung unsur pendidikan dan pengajaran. Dari segi pendidikan karya sastra merupakan wahana untuk mewariskan atau meneruskan tradisi dari generasi ke generasi, berupa gagasan dan pemikiran, pengalaman sejarah, nilai-nilai budaya dan tradisi. Dari segi pengajaran, seperti nilai moral, juga banyak diungkapkan dalam karya sastra yang bermanfaat bagi penikmat sastra (Widjojoko, 2006).


Pelajaran Kehidupan


Meskipun sastra merupakan imajinasi dan hasil olah rasa dari jiwa pengarangnya tetap saja sastra tidak dapat dilepaskan dari pengamatan, pengalaman dan pelajaran tentang kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya di dunia nyata yang kemudian diwujudkan dalam dunia fiksi oleh pengarang.


Mengingat pentinya sastra dalam kehidupan manusia, kiranya perlu menjadi pemikiran bersama terkait dengan kemunculan komunitas-komunitas sastra belakangan ini dengan memberikan dukungan moral agar terus menguat di masa mendatang. Pemerintah daerah, pengusaha, dan beberapa lembaga terkait dapat memfasilitasi para sastrawan tersebut dengan menerbitkan karya mereka dalam sebuah buku antologi atau pentas kolaborasi pembacaan teatrikal puisi, dan sebagainya.


Dengan demikian kolaborasi paralel dari semua pihak sangat dibutuhkan agar karya sastra tetap survival serta dapat manjadi pemantik para sastrawan untuk tetap melakukan proses kreatif dengan narasi-narasi baru. Mereka ibarat oase atau peneduh di tengah masalah-masalah yang panas dan berat. Geliat mereka di masa mendatang diyakini akan dapat menggema menjadi suara perubahan yang ditunggu publik.


(Oleh: Ch. Dwi Anugrah, Ketua Sanggar Seni Ganggadata Jogonegoro, Kecamatan Mertoyudan, Kab. Magelang)


Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar