Menolak Punah, Guru di Magelang Belajar Aksara Jawa Metode Cara Ngapak

Dilihat 53 kali
Para guru di bawah naungan Lembaga Pendidikan Ma'arif Kabupaten Magelang belajar aksara Jawa menggunakan metode Cara Ngapak.

BERITAMAGELANG.ID - Perkembangan budaya global dan modernisasi teknologi komunikasi menyebabkan aksara Jawa semakin jarang digunakan. Penggunanya terbatas pada orang tua dan lanjut usia. 


Sebagai warisan dan identitas budaya, aksara Jawa nyaris punah. Bisa dipastikan hanya sedikit sekali pelajar maupun anak muda saat ini yang menguasai cara menulis maupun membaca huruf hanacaraka. 


Faktor utama hilangnya pelajaran aksara Jawa dari bangku sekolah adalah berubahnya metode baca-tulis menjadi sistem ejaan Van Ophuijsen yang menggunakan huruf Latin.


Sebelum berlaku sistem ejaan Van Ophuijsen, bahasa Melayu, Jawa dan Arab menjadi bahasa perantara di Indonesia. Beberapa dokumen resmi pemerintah Belanda tahun 1880 misalnya, masih menggunakan huruf Jawi. 


Ejaan Van Ophuijsen dicetuskan oleh sarjana bahasa Melayu warga negara Belanda, Charles Adriaan Van Ophuijsen. Atas bantuan Engku Nawawi St Makmur dan M Taib St Ibrahim, Van Ophuijsen berhasil menyusun buku "Kitab Logat Melajoe"  tahun 1901.


Kitab itu menjadi acuan penggunaan bahasa resmi di bumi Nusantara hingga tahun 1947. Ejaan Van Ophuijsen dipakai untuk menulis iklan dan publikasi lainnya di media cetak masa itu.


Penggunaan ejaan ini selama 46 tahun, memberi pengaruh besar pada materi pelajaraan ejaan bahasa Indonesia di sekolah-sekolah.


Menurut Sekretaris Yayasan Bina Aksara Mulya (YBAM), Afiffuddin, praktik kolonial menyebabkan aksara Jawa tergeser oleh huruf Latin dalam kurun waktu yang relatif singkat. 


"Padahal aksara Jawa itu sudah digunakan oleh para leluhur kita sejak lebih dari 5 abad sebelumnya. Hanya dalam beberapa tahun aksara Jawa itu hilang. Tergeser oleh aksara Latin," kata Afiffuddin, Minggu (31/8).


Hanya sedikit sekolah yang saat ini memasukkan materi belajar cara membaca dan menulis aksara Jawa dalam kurikulum. Berbeda dengan negara maju seperti Rusia, Korea, Jepang, dan China yang masih mengajarkan huruf tradisional mereka. 


Berangkat dari keprihatinan itu, Yayasan Bina Aksara Mulya menggelar kursus singkat belajar aksara Jawa untuk para guru Lembaga Pendidikan Ma'arif NU di wilayah Kabupaten Magelang. 


Sebanyak 20 guru bahasa Jawa menjadi peserta pawiyatan aksara Jawa menggunakan metode "Cara Ngapak" yang diadakan di SMK Ma'arif Walisongo, Kecamatan Kajoran, 30-31 Agustus 2025.


Mereka dikenalkan pada metode menulis dan membaca aksara Jawa menggunakan Cara Ngapak. Metode ini diyakini memudahkan para peserta untuk menguasai penggunaan aksara Jawa.


Para peserta diajarkan mengenali aksara Jawa yang dikelompokkan berdasarkan bentuk karakter huruf. Bereda dengan metode belajar lainnya yang lebih menekankan pada urut-urutan huruf hanacaraka. 


"Kami menggunakan (metode belajar) logika nalar visual. Peserta didik diajarkan memahami bentuk dan karakter huruf yang sebangun. Jadi bisa lebih mudah dan cepat paham," terangnya.


Selama ini penekanan pembelajaran aksara Jawa cenderung dikaitkan dengan filosofi huruf dan lain sebagainya. Bukan fokus pada seberapa cepat siswa dapat membaca dan menuliskannya.


Berbeda dengan metode belajar membaca huruf Latin atau Arab yang tidak terlalu fokus pada fiosofi huruf. 


"Misal belajar huruf Arab yang penting bisa baca dan tulisan Arab dulu. Tidak diharuskan untuk bisa bahasa Arab. Huruf Latin kan juga tidak diajarkan bagaimana nanti untuk menulis dalam bahasa apa," ujar Afiffuddin. 


Pembina Yayasan Bina Aksara Mulya, Akhmad Fikri AF menyebutkan metode Cara Ngapak dirancang agar pendidik dan guru bisa mengajarkan materi aksara Jawa dengan lebih komunikatif, menyenangkan, dan aplikatif.


"Metode Cara Ngapak mengajak para siswa cepat hafal dan mudah mengingat aksara Jawa. Selama ini kan sering dianggap sulit dan rumit. Bahkan pelajaran aksara Jawa sering dianggap sebagai momok," kata Akhmad Fikri.


Pelatihan aksara Jawa di SMK Ma'arif Walisongo, Kecamatan Kajoran, menghadirkan tim pelatih dari Pondok Pesantren Bina Aksara Mulya Yogyakarta.


Kegiatan ini didukung oleh program PLN Mobile yang bertujuan memperkuat literasi aksara Jawa bagi guru dan pendidik. Sekaligus menghadirkan metode pembelajaran inovatif yang mudah, praktis, dan relevan dengan kebutuhan siswa.


Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar