Proklim Lestari di Desa Pagersari Perkuat Ketahanan Lingkungan

Dilihat 27 kali
Bupati Magelang diwakili Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Bela Pinarsi, melakukan penanaman pohon bersama perangkat Desa Pagersari

BERITAMAGELANG.ID - Upaya menghadapi tantangan perubahan iklim terus diperkuat dari tingkat desa. Hal ini tercermin dalam kegiatan kolaborasi dan sinergitas Program Kampung Iklim (Proklim) Lestari yang digelar oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Magelang bersama Pemerintah Desa Pagersari di GOR Desa Pagersari, Kecamatan Mungkid, Kamis (16/4/2026).

Kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang seremonial, namun juga momentum strategis untuk memperkuat komitmen bersama dalam menjaga kelestarian lingkungan berbasis masyarakat.

Bupati Magelang yang diwakili Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Bela Pinarsi, dalam sambutannya menegaskan, sinergi lintas sektor menjadi kunci utama keberhasilan program lingkungan, khususnya Proklim.

"Proklim merupakan salah satu aksi nyata dalam menghadapi tantangan perubahan iklim melalui adaptasi dan mitigasi di tingkat masyarakat," ujar Bela. 

Ia menambahkan, keberhasilan Proklim sangat bergantung pada keterlibatan aktif seluruh elemen, mulai dari pemerintah, masyarakat, hingga komunitas lokal. Menurutnya, tanpa partisipasi kolektif, upaya pengendalian dampak perubahan iklim tidak akan berjalan optimal.

Lebih lanjut, Pemerintah Kabupaten Magelang terus mendorong implementasi program "Sampah tuntas di desa" sebagai solusi menyeluruh dalam penanganan sampah dari hulu hingga hilir. Program ini dirancang agar desa mampu mengelola sampah secara mandiri dan berkelanjutan, sekaligus mengurangi ketergantungan pada tempat pembuangan akhir (TPA).

Dalam kesempatan tersebut, Bela juga memberikan apresiasi kepada Desa Pagersari yang dinilai berhasil menunjukkan komitmen kuat dalam pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

"Desa Pagersari diharapkan dapat menjadi contoh bagi desa-desa lain. Mereka telah berhasil mewujudkan pengolahan sampah terpadu mulai dari pemilahan hingga pengolahan," kata Bela. 

Ia menambahkan, kunci keberhasilan ini adalah kerja sama yang kuat antara pemerintah pusat, daerah, masyarakat, dan komunitas, serta optimalisasi TPS3R dalam mendukung implementasi Proklim. 

Kepala Desa Pagersari, Sri Mulyanto mengungkapkan rasa terima kasih atas dukungan berkelanjutan dari Pemerintah Kabupaten Magelang yang telah membina desanya hingga mampu meraih penghargaan Proklim Lestari.

Ia menjelaskan perjalanan Desa Pagersari dalam pengelolaan lingkungan telah dimulai sejak 2015, dengan fokus pada pengolahan sampah untuk menjaga kebersihan lingkungan.

"Pada tahun 2016 kami mendapatkan alokasi dana untuk pembangunan TPS3R. Semua ini tidak lepas dari dukungan penuh perangkat desa dan masyarakat," katanya.

Saat ini, TPS3R di Desa Pagersari telah mencakup enam dusun dengan sekitar 600 kepala keluarga sebagai anggota aktif. Pengelolaan sampah dilakukan secara terstruktur, mulai dari pemilahan hingga pengolahan, sehingga mampu menekan volume sampah yang berakhir di TPA.

Pada 2026, Desa Pagersari kembali mendapatkan dukungan melalui bantuan keuangan khusus senilai Rp95 juta untuk pengadaan empat unit alat pengolahan sampah, yakni alat pemilah sampah, pencacah plastik, pencuci plastik, dan pengering sampah.

"Dengan adanya alat ini, pekerjaan menjadi lebih efisien dan hasilnya lebih maksimal. Selain itu, residu yang dibuang ke TPA juga bisa ditekan," tambahnya.

Di sisi lain, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Magelang, Ismail menegaskan, pihaknya terus memperkuat sinergi dengan desa-desa yang telah berhasil, termasuk Pagersari, untuk menjadi model pembinaan bagi desa lainnya.

"Kami bersinergi dengan Desa Pagersari untuk membina desa-desa lain agar dapat mencapai kriteria Proklim Lestari," ungkapnya.

Ia menjelaskan, selain bantuan alat pengolahan sampah, Desa Pagersari juga mendapatkan dukungan dalam bentuk program konservasi seperti pembangunan sumur resapan, biopori, serta kegiatan penghijauan.

Menurutnya, desa lain juga memiliki peluang yang sama untuk memperoleh bantuan tersebut, dengan syarat telah mengikuti program Proklim dan memenuhi sejumlah indikator, seperti pengelolaan sampah yang baik serta upaya konservasi lingkungan, termasuk efisiensi penggunaan air, listrik, dan energi.

Saat ini, tercatat sebanyak 159 desa di Kabupaten Magelang telah mengikuti program Proklim dengan berbagai kategori. Namun, baru lima desa yang berhasil mencapai kategori tertinggi, yaitu Proklim Lestari.

"Dari desa-desa tersebut, kami akan melakukan verifikasi. Jika sudah siap dari sisi sarana prasarana, kelembagaan, dan ketersediaan lahan, maka akan kami prioritaskan untuk mendapatkan bantuan," kata Ismail.

Melalui sinergi yang terus diperkuat antara pemerintah daerah dan masyarakat, Desa Pagersari diharapkan menjadi inspirasi dalam membangun ketahanan lingkungan berbasis komunitas, sekaligus menjadi contoh nyata bahwa upaya menghadapi perubahan iklim dapat dimulai dari desa.

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar