BERITAMAGELANG.ID - Pemerintah Desa Ngadiharjo, Kecamatan Borobudur, berkolaborasi dengan Arbeiter-Samariter-Bund (ASB) S-SEA melaksanakan rangkaian kegiatan aksi antisipasi hujan ekstrem, Sabtu (29/11). Serangkaian kegiatan ini digelar untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem dan ancaman tanah longsor di wilayah Borobudur.
Program tersebut menjadi bagian dari Program Seger Waras, yaitu inisiatif penguatan kapasitas lokal di sektor Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) yang adaptif terhadap perubahan iklim. Program ini memberi perhatian khusus pada kelompok berisiko tinggi seperti penyandang disabilitas, lansia, perempuan, dan warga yang tinggal di kawasan rawan bencana.
Untuk meningkatkan efektivitas mitigasi, ASB bersama pemerintah desa dan Lembaga Pengurangan Risiko Bencana Desa (LPBD) menghadirkan sejumlah sarana pendukung, antara lain Sistem Peringatan Dini Longsor (SIPENDIL), Peta risiko per dusun, serta Logistik Non-Food Items (NFI) yang ditempatkan di titik rawan.
Sarana ini disiapkan untuk membantu masyarakat melakukan aksi antisipatif lebih cepat serta mendukung proses evakuasi, terutama bagi kelompok dengan keterbatasan mobilitas maupun akses informasi.
Rangkaian kegiatan dimulai pada 25 November 2025 dengan pemasangan dan sosialisasi alat SIPENDIL di Dusun Tanjung. Kegiatan ini melibatkan BPBD, Bappeda Litbangda, Forum Inklusi Disabilitas Kabupaten Magelang (Fidakama), perangkat Desa Ngadiharjo, FPRB Borobudur, PKK, Karang Taruna, serta warga dusun rawan longsor. Peserta mendapatkan penjelasan mengenai fungsi SIPENDIL, cara pemantauan, hingga praktik pemasangan di lapangan.
Upaya ini berlanjut dengan latihan koordinasi dan kolaborasi aksi antisipasi hujan ekstrem yang digelar pada 26 - 27 November 2025 di Balkondes Ngadiharjo. Para peserta mendalami struktur koordinasi desa, sistem pemicu peringatan dini, pembagian tugas antar lembaga, mekanisme pendanaan, serta simulasi tiga pilar aksi antisipasi.
Puncak rangkaian kegiatan berlangsung Sabtu (29/11) melalui uji coba protokol aksi antisipasi secara langsung di Desa Ngadiharjo. Simulasi ini menguji kesiapsiagaan perangkat desa, FPRB, kelompok disabilitas, Satlinmas, dan masyarakat dalam merespons peringatan dini, termasuk koordinasi lintas sektor mulai dari desa, kecamatan, kabupaten hingga BMKG.
Camat Borobudur, Subiyanto menyampaikan pesan penting mengenai kesiapsiagaan masyarakat.
"Apa yang kita lakukan hari ini adalah langkah antisipatif. Bukan melawan kodrat alam, tetapi bagaimana hidup berdampingan dengan alam. Untuk itulah di sini kita bersinergi antara pemerintah desa dengan program AMPD," ujarnya.
Senada dengan hal tersebut, Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan pada BPBD Kabupaten Magelang, Bayu Eko Prihanto menekankan, penguatan mitigasi merupakan langkah strategis untuk menciptakan penanggulangan bencana yang lebih efektif.
"Rangkaian kegiatan ini tidak hanya fokus pada peningkatan kapasitas teknis, tetapi juga memastikan penerapan prinsip inklusivitas di setiap tahap. Protokol dirancang agar bisa diakses dan dijalankan oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan dalam menerima informasi atau melakukan evakuasi," kata Bayu.
Dengan pendekatan tersebut, sistem peringatan dini di Desa Ngadiharjo benar-benar menyentuh seluruh warga tanpa kecuali.
Sebagai tahap akhir, pada Januari 2026 akan dilakukan finalisasi Dokumen Protokol AMPD Desa Ngadiharjo. Dokumen ini nantinya menjadi pedoman resmi desa dalam menghadapi hujan ekstrem dan potensi longsor secara mandiri, terkoordinasi, dan inklusif.
"Pemerintah Desa Ngadiharjo bersama ASB berharap protokol tersebut dapat memperkuat ketangguhan masyarakat dan menjadi praktik baik bagi desa-desa lain di Kabupaten Magelang," harapnya.
0 Komentar