BERITAMAGELANG.ID - Ribuan warga antusias menyaksikan gelaran Kirab Pusaka Nusantara yang berlangsung khidmat di kompleks Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jumat (17/4/2026) malam. Warga dari berbagai daerah terpantau mulai memadati area pintu Gerbang Kalpataru sejak sore hari untuk menyaksikan parade budaya yang baru pertama kali digelar di ikon peradaban dunia tersebut.
Acara bergengsi ini dihadiri langsung oleh Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, beserta jajaran pejabat kementerian, Bupati dan Wakil Bupati Magelang, tokoh-tokoh dari Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia (SNKI) serta pemuka agama setempat.
Dalam sambutannya, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan, kegiatan ini merupakan momentum penting untuk memperingati Hari Warisan Budaya Dunia (18 April) dan Hari Keris Nasional (19 April). Ia menegaskan bahwa kris telah diakui sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO sejak 21 tahun silam.
"Kirab ini menegaskan kekuatan kawasan Borobudur tidak hanya terletak pada kemegahan candinya, tetapi juga pada pusaka tradisi, nilai luhur, dan ritual yang dijaga oleh masyarakat. Ini adalah wujud nyata amanat konstitusi pasal 32 ayat 1 UUD 1946 untuk memajukan kebudayaan nasional di tengah peradaban dunia," ujar Fadli Zon.
Ia juga mengapresiasi semangat gotong royong warga dari 20 desa di sekitar Borobudur yang tampil seragam dengan pakaian tradisional dan membawa tumpeng lanang dan tumpeng wadon sebagai simbol rasa syukur.
Rangkaian acara dimulai pada pukul 18.30 WIB dengan pengondisian barisan di area Pohon Beringin dekat gerbang utama. Tepat pukul 20.00 WIB, iring-iringan kirab mulai bergerak dari Plaza Beringin melintasi Rute Marga Utama.
Suasana khidmat terasa saat rombongan yang membawa berbagai pusaka desa dan tumpeng agung tersebut memasuki halaman barat Candi Borobudur. Di sana, para peserta melakukan prosesi Pradaksina, yakni berjalan mengitari Candi Borobudur sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan agung dunia tersebut.
Sebagai penutup, masyarakat berkumpul melakukan ritual Kembul Bojono (makan bersama). Tradisi menyantap tumpeng hasil bumi ini melambangkan semangat gotong royong dan kebersamaan yang kuat antarwarga.
Daya tarik acara ini terbukti mampu menyedot perhatian warga lokal maupun wisatawan. Naning, warga asal Mendut, mengaku sengaja datang lebih awal bersama putrinya.
"Saya dapat info dari grup WhatsApp warga. Anak saya sangat ingin melihat peserta kirab. Kami senang karena pertunjukan ini gratis untuk umum. Semoga rutin diadakan," ungkap Naning.
Di akhir acara, Fadli Zon menekankan harapannya agar kegiatan ini tidak hanya menjaga identitas nasional, tetapi juga memberikan dampak ekonomi nyata bagi UMKM dan masyarakat sekitar.
"Borobudur adalah living heritage. Kita ingin candi ini semakin ramah bagi semua kalangan, termasuk lansia dan disabilitas, agar manfaatnya dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia," pungkasnya.

0 Komentar