Bencana di Kabupaten Magelang Didominasi Longsor

Dilihat 426 kali
Tanah Longsor mengancam bangunan sekolah SMP Muhamadiyah di Dusun Beseran, Desa Beseran, Kecamatan Kaliangkrik, Jum'at (12/12).

BERITAMAGELANG.ID - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang mencatat sebanyak 320 kejadian bencana sepanjang 2025 yang tersebar di seluruh wilayah kecamatan. Data ini menunjukkan ancaman bencana masih menjadi persoalan serius yang dihadapi daerah, terutama bencana hidrometeorologi yang dipengaruhi kondisi cuaca dan karakteristik wilayah. Dari keseluruhan kejadian tersebut, tanah longsor tercatat sebagai jenis bencana paling dominan dan berkontribusi besar terhadap dampak kerusakan maupun korban jiwa.

Berdasarkan data infografis kejadian bencana 2025 yang dirilis Pusat Pengendali Operasi (Pusdalops) BPBD Kabupaten Magelang, dari total 320 kejadian tersebut, tanah longsor menempati urutan pertama dengan 177 kejadian. Selanjutnya, bencana cuaca ekstrem tercatat sebanyak 61 kejadian, kebakaran rumah dan bangunan 46 kejadian, serta banjir sebanyak empat kejadian. Sementara itu kejadian lain berupa laka sungai, rumah roboh, dan pohon tumbang tercatat 32 kejadian. Sedangkan jenis bencana lain seperti kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, gempa bumi, serta erupsi gunung api tercatat nihil sepanjang periode tersebut.

Dari sisi dampak, rangkaian kejadian bencana sepanjang 2025 telah menimbulkan kerusakan bangunan dan korban jiwa. Petugas Pusdalops BPBD Kabupaten Magelang, Triyono Aswad menjelaskan kerusakan fisik menjadi dampak yang paling banyak tercatat akibat kejadian bencana tersebut.

"Sepanjang 2025 tercatat sebanyak 428 rumah mengalami rusak ringan, 49 rumah rusak sedang, dan 11 rumah rusak berat. Selain kerusakan bangunan, juga ada korban jiwa, dengan tujuh orang MD (meninggal dunia) dan 38 orang luka-luka," jelas Triyono di Ruang Pusdalops, Jumat (2/1).

Lebih lanjut, Triyono mengungkapkan sebaran kejadian bencana hampir merata di seluruh kecamatan di Kabupaten Magelang. Namun demikian, terdapat sejumlah wilayah dengan intensitas kejadian yang relatif lebih tinggi dibandingkan kecamatan lainnya.

"Berdasarkan data sebaran, wilayah barat (Kaliangkrik, Kajoran, Windusari) dan selatan (Borobudur, Salaman) merupakan kawasan dengan jumlah kejadian bencana yang cukup tinggi. Mayoritas di sana kondisi geografis berbukit ditambah curah hujan yang tinggi dan berlangsung cukup lama," ujarnya.

Kondisi tersebut juga tercermin dari grafik kejadian bulanan yang menunjukkan fluktuasi jumlah bencana sepanjang tahun. Peningkatan kejadian terlihat jelas pada periode musim hujan, ketika intensitas hujan meningkat dan memicu longsor serta cuaca ekstrem di berbagai wilayah.

Menanggapi data tersebut, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Magelang, Edi Wasono menyampaikan, tren bencana sepanjang 2025 menjadi gambaran nyata masih tingginya risiko bencana hidrometeorologi di daerahnya. Menurutnya, data tersebut perlu menjadi dasar penguatan upaya mitigasi dan kesiapsiagaan ke depan.

"Dari keseluruhan data kejadian bencana tahun 2025 dapat disimpulkan bahwa tanah longsor dan cuaca ekstrem masih menjadi ancaman utama. Faktor penyebabnya antara lain intensitas hujan yang tinggi, kondisi topografi wilayah yang berbukit dan rawan longsor, serta masih adanya kerentanan lingkungan di sejumlah kawasan," kata Edi.

Sebagai langkah antisipasi dan kesiapsiagaan, Pemerintah Kabupaten Magelang telah menetapkan status siaga darurat bencana hidrometeorologi. Penetapan tersebut tertuang dalam Surat Keputusan Bupati Magelang Nomor 180.182/487/KEP/46/2025 yang mulai berlaku sejak 14 November 2025 dan telah diperpanjang hingga 31 Maret 2026.

"Status siaga darurat ini merupakan langkah antisipatif pemerintah daerah agar seluruh unsur siap siaga," jelas Edi Wasono.

Dengan status tersebut, Edi menekankan pentingnya peran serta masyarakat dalam upaya pengurangan risiko bencana. Ia mengimbau warga untuk meningkatkan kewaspadaan, khususnya yang tinggal di wilayah rawan longsor dan banjir, serta aktif melaporkan potensi ancaman bencana kepada pemerintah setempat atau BPBD.

"Kami mengimbau masyarakat untuk selalu waspada terhadap potensi bencana, memantau kondisi lingkungan sekitar, dan segera melapor apabila terjadi tanda-tanda bencana," imbau Edi.

Selain kewaspadaan individu, Edi Wasono juga mendorong penguatan edukasi kebencanaan di tingkat komunitas. Edukasi tersebut dinilai penting untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai risiko bencana serta langkah-langkah mitigasi.

"Edukasi kebencanaan harus terus dilakukan secara berkelanjutan. Dengan pemahaman yang baik, masyarakat diharapkan dapat lebih siap dan mampu mengurangi risiko serta dampak bencana," pungkasnya.

Melalui penguatan mitigasi struktural dan nonstruktural, peningkatan kesiapsiagaan, serta kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga lingkungan, diharapkan risiko dan dampak bencana di masa mendatang dapat ditekan secara signifikan.

Data kejadian bencana tahun 2025 ini menjadi pengingat bahwa upaya pengurangan risiko bencana harus terus diperkuat secara menyeluruh. Sinergi antara pemerintah daerah dan masyarakat menjadi kunci utama dalam membangun ketangguhan daerah terhadap bencana.


Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar