Bupati Magelang: Manuskrip Kuno Merapi-Merbabu Penting untuk Pelajari Sejarah

Dilihat 18 kali

BERITAMAGELANG.ID - Pemerintah Kabupaten Magelang terus berupaya menelusuri keberadaan manuskrip kuno Merapi-Merbabu yang menjadi bagian penting dari sejarah dan peradaban wilayah Magelang. Upaya tersebut diwujudkan melalui kunjungan ke Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI di Ruang Rapat Deputi I Perpusnas RI, Jakarta Pusat, Selasa (7/7/2026).

Dalam pertemuan tersebut, Bupati Magelang Grengseng Pamuji menyampaikan, Pemerintah Kabupaten Magelang memiliki semangat untuk menemukan kembali manuskrip-manuskrip bersejarah yang dahulu berasal dari wilayah Magelang, khususnya dari Dusun Keda'an, Desa Kenalan, Kecamatan Pakis.

Menurut Grengseng, berdasarkan catatan sejarah, sekitar 1.000 manuskrip pernah ditemukan di wilayah tersebut dan kemudian dibawa oleh pemerintah kolonial Belanda. Namun, saat ini hanya satu manuskrip yang masih berada di Kabupaten Magelang.

"Kami datang ke Perpustakaan Nasional untuk mencari jejak manuskrip yang hilang. Kami ingin mengetahui keberadaan manuskrip-manuskrip tersebut, berapa jumlah yang saat ini tersimpan di Perpusnas, serta bagaimana peluang untuk mempelajari kembali isi naskah-naskah tersebut," ujar Grengseng.

Ia menuturkan manuskrip Merapi-Merbabu merupakan bukti penting perjalanan peradaban di Kabupaten Magelang. Selain memiliki nilai sejarah yang tinggi, keberadaan manuskrip tersebut juga menjadi potensi besar dalam pengembangan kebudayaan dan pelestarian warisan leluhur.

"Dari sisi pemerintahan, kami memiliki kepentingan untuk menjaga warisan budaya ini," kata Grengseng.

Ia juga menambahkan, Kabupaten Magelang memiliki Borobudur sebagai warisan dunia, dan keberadaan manuskrip ini juga merupakan sebuah keajaiban sejarah. Jika memungkinkan, ia berharap dapat menduplikasi manuskrip-manuskrip tersebut agar masyarakat dapat mengetahui isi dan nilai yang terkandung di dalamnya.

"Harapan kami, manuskrip-manuskrip yang tersebar dapat dihimpun kembali, diterjemahkan, sehingga mampu mengungkap perjalanan sejarah wilayah Magelang," lanjut Grengseng.

Sementara itu, Ketua Kelompok Substansi Pengelolaan Naskah Nusantara Perpustakaan Nasional RI, Aditia Gunawan, menjelaskan manuskrip Merapi-Merbabu mulai ditemukan pada 1822. Selanjutnya, pada 1852, naskah-naskah tersebut dibawa oleh pemerintah kolonial Belanda ke Batavia. Pada awal penemuannya terdapat sumber yang menyebutkan jumlah manuskrip mencapai sekitar 1.000 naskah.

"Saat ini koleksi yang tersimpan di Perpustakaan Nasional RI berjumlah sekitar 400 manuskrip. Sisanya tersebar di berbagai negara, di antaranya Belanda, Prancis, Jerman, dan Hongaria," kata Aditia.

Ia menambahkan, hingga kini manuskrip Merapi-Merbabu masih belum banyak diteliti sehingga menyimpan potensi informasi sejarah yang sangat besar. Perpusnas RI terus melakukan pengumpulan data, penelusuran, serta kajian terhadap manuskrip-manuskrip tersebut.

"Tim kami masih terus berupaya menggali informasi serta menginventarisasi manuskrip Merapi-Merbabu yang tersebar," kata Aditia.

Ia juga menjelaskan proses penelusuran masih berlangsung, dan berharap kolaborasi dengan pemerintah daerah, akademisi, maupun berbagai pihak dapat terus dilakukan agar kekayaan intelektual bangsa ini dapat terdokumentasi dan dimanfaatkan untuk kepentingan ilmu pengetahuan.



Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar

@kominfomagelang

FORKAB Kabupaten Magelang 2026 resmi dibuka! Semangat sportivitas, kebersamaan memenuhi GOR Pakubumi, Sabtu (4/7/2926). Di balik serunya pertandingan, ajang ini juga menjadi seleksi bagi para pegiat olahraga masyarakat terbaik Kabupaten Magelang untuk melaju ke Festival Olahraga Daerah (FORDA) Jawa Tengah hingga Festival Olahraga Masyarakat Nasional (FORNAS). 💪✨

♬ original sound - kominfomagelang