Wabup: Relawan Kunci Utama Pemda Tanggulangi Bencana

Dilihat 36 kali
Para narasumber menyampaikan materi dalam Sosialisasi dan Konsolidasi Relawan Bencana Menghadapi Musim Kemarau Tahun 2026 yang digelar BPBD Kabupaten Magelang di Pendopo BPBD Kabupaten Magelang, Rabu (8/7/2026)

BERITAMAGELANG.ID - Pemerintah Kabupaten Magelang memperkuat sinergi relawan sebagai garda terdepan dalam menghadapi potensi kekeringan, krisis air bersih, serta kebakaran hutan dan lahan pada musim kemarau Tahun 2026. Upaya tersebut dilakukan melalui Sosialisasi dan Konsolidasi Relawan Bencana Kabupaten Magelang Menghadapi Musim Kemarau Tahun 2026 tahap kedua yang diselenggarakan BPBD Kabupaten Magelang di Pendopo BPBD Kabupaten Magelang, Rabu (8/7/2026), sebagai bagian dari rangkaian pembekalan relawan di seluruh wilayah Kabupaten Magelang.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Magelang, Sahid, yang mengingatkan perubahan iklim global dan fenomena El Nino diperkirakan menyebabkan musim kemarau tahun ini berlangsung lebih panjang sehingga meningkatkan potensi kekeringan, krisis air bersih, kebakaran hutan dan lahan, serta gangguan terhadap sektor pertanian.

Berdasarkan data Pusdalops BPBD Kabupaten Magelang, sepanjang 2025 tercatat 298 kejadian bencana. Sementara hingga pertengahan 2026 telah terjadi 266 kejadian bencana. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan ancaman bencana masih tinggi sehingga kesiapsiagaan seluruh unsur harus terus diperkuat.

"Pemerintah daerah tidak mungkin menghadapi tantangan tersebut sendirian. Keterbatasan anggaran maupun personel menjadikan kolaborasi antara pemerintah dan relawan sebagai kunci utama dalam penanggulangan bencana," ujar Sahid.

Ia mengatakan relawan merupakan mitra strategis pemerintah karena menjadi pihak yang paling dekat dengan masyarakat dan mampu mendeteksi potensi ancaman sejak dini.

"Relawan merupakan ujung tombak sekaligus mata dan telinga pemerintah di lapangan karena menjadi pihak yang paling dekat dengan masyarakat," katanya.

Sahid berharap seluruh relawan mampu menjadi agen edukasi di tengah masyarakat dengan mengajak warga menggunakan air secara bijaksana, menjaga lingkungan, serta meningkatkan upaya mitigasi sejak dini.

"Ketangguhan daerah tidak dibangun ketika bencana sudah terjadi, tetapi dipersiapkan jauh sebelum bencana datang," tegasnya.

Pelaksanaan tahap kedua ini diikuti sekitar 150 relawan yang tergabung dalam Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) dari wilayah eks Kawedanan Muntilan, Grabag, dan Tegalrejo. Sebelumnya, kegiatan serupa telah dilaksanakan pada 25 Juni 2026 dengan melibatkan relawan dari wilayah eks kawedanan lainnya. Melalui dua tahap pelaksanaan tersebut, Pemerintah Kabupaten Magelang memastikan seluruh relawan memperoleh pemahaman dan persepsi yang sama dalam menghadapi potensi bencana selama musim kemarau.

Konsolidasi ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat koordinasi lintas sektor sekaligus meningkatkan kapasitas relawan dalam mengantisipasi berbagai ancaman bencana yang berpotensi meningkat selama musim kemarau, mulai dari kekeringan, krisis air bersih, kebakaran hutan dan lahan, hingga dampaknya terhadap sektor pertanian dan kehidupan masyarakat.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Magelang, Bambang Hermanto menyampaikan, penyelenggaraan sosialisasi dan konsolidasi dilatarbelakangi oleh prakiraan BMKG yang memprediksi musim kemarau tahun ini berpotensi berlangsung lebih panjang dibandingkan kondisi normal, dengan puncaknya diperkirakan terjadi pada Agustus 2026.

Menurutnya, relawan memiliki peran yang sangat penting karena menjadi unsur yang paling dekat dengan masyarakat serta memahami karakteristik wilayah dan potensi ancaman di daerah masing-masing.

"Relawan bencana merupakan ujung tombak dalam penanggulangan bencana karena berada paling dekat dengan masyarakat serta memahami karakteristik wilayah dan potensi ancaman di daerahnya masing-masing," kata Bambang.

Ia berharap forum konsolidasi tersebut mampu memperkuat koordinasi, komunikasi, dan sinergi antarrelawan sehingga penanganan berbagai potensi bencana dapat dilakukan lebih cepat, tepat, dan terkoordinasi.

"Melalui kegiatan ini kami berharap koordinasi, komunikasi, dan sinergi antarrelawan semakin kuat dalam menghadapi potensi bencana pada musim kemarau," ujarnya.

Bambang menegaskan, kegiatan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kapasitas relawan, tetapi juga menjadi wujud dukungan BPBD terhadap arah pembangunan Kabupaten Magelang yang menempatkan pengurangan risiko bencana sebagai bagian penting dari pembangunan daerah.

"Kegiatan ini juga menjadi bagian dari dukungan BPBD Kabupaten Magelang terhadap visi dan misi Bupati dan Wakil Bupati Magelang, khususnya misi kelima dalam Panca Dharma yang menitikberatkan pada pelestarian lingkungan hidup, pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan, serta peningkatan ketangguhan terhadap bencana," jelasnya.

Lebih lanjut, Bambang mengatakan penguatan kapasitas relawan juga sejalan dengan program prioritas Sapta Cipta, khususnya pilar ketujuh, Lestari Alame, yang berorientasi pada pelestarian lingkungan sekaligus membangun masyarakat yang tangguh terhadap bencana.

"Melalui penguatan sinergi relawan, kami berharap nilai-nilai Lestari Alame tidak hanya menjadi program pemerintah, tetapi juga menjadi gerakan bersama masyarakat dalam menjaga lingkungan dan mengurangi risiko bencana," pungkasnya.

Ketua DPRD Kabupaten Magelang, Sakir menilai, kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau harus dibangun melalui kolaborasi seluruh pemangku kepentingan. Menurutnya, relawan memiliki posisi strategis sebagai penghubung antara pemerintah dengan masyarakat dalam berbagai upaya mitigasi bencana.

"Relawan menjadi mata, telinga, sekaligus tangan pemerintah di lapangan. Peran tersebut dimulai jauh sebelum bencana terjadi melalui berbagai kegiatan mitigasi dan edukasi kepada masyarakat," kata Sakir.

Ia menambahkan, konsolidasi seperti ini penting untuk menyamakan persepsi, memperjelas pembagian tugas, serta memperkuat koordinasi antara relawan, pemerintah daerah, TNI, Polri, dan seluruh unsur terkait sehingga penanganan bencana dapat dilakukan secara lebih cepat, tepat, dan efektif.

"Konsolidasi seperti yang dilaksanakan hari ini sangat penting agar seluruh relawan memiliki persepsi yang sama, memahami pembagian tugas, menghindari tumpang tindih penanganan ketika terjadi bencana, serta mempercepat komunikasi dan koordinasi antara relawan, pemerintah daerah, TNI, Polri, dan seluruh unsur masyarakat," ujarnya.

Ia juga menegaskan komitmen DPRD Kabupaten Magelang untuk terus mendukung peningkatan kesiapsiagaan bencana melalui fungsi anggaran, pembentukan regulasi, dan pengawasan agar seluruh program penanggulangan bencana berjalan optimal dan memberikan perlindungan maksimal bagi masyarakat.

Selain menghadirkan Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Magelang, Wakil Bupati Magelang, dan Ketua DPRD Kabupaten Magelang sebagai narasumber utama, sosialisasi ini juga menghadirkan Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Magelang Sukur Ahadi dan Nur Kholis, Wakil Ketua Pengadilan Negeri Mungkid, Suryono selaku Kanit Samapta Polresta Magelang, serta Ketua FPRB Kecamatan Borobudur Nur Fauzan. Masing-masing narasumber menyampaikan materi sesuai bidangnya guna memperkuat kesiapsiagaan relawan sekaligus membangun sinergi lintas sektor dalam menghadapi musim kemarau.

Usai penyampaian materi, forum dilanjutkan dengan sesi dialog interaktif. Para relawan dari berbagai kecamatan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyampaikan pertanyaan, berbagi pengalaman, serta mendiskusikan berbagai persoalan di lapangan, mulai dari penanganan kekeringan, distribusi air bersih, mitigasi kebakaran hutan dan lahan, hingga penguatan koordinasi antarunsur penanggulangan bencana. Seluruh narasumber memberikan tanggapan dan solusi sesuai bidangnya sehingga diskusi menjadi ruang berbagi pengalaman sekaligus memperkuat pemahaman bersama.

Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan sharing session yang disampaikan Ketua FPRB Kecamatan Borobudur, Nur Fauzan, mengenai praktik baik (best practice) penanganan bencana berbasis masyarakat. Pengalaman FPRB Borobudur dalam membangun kolaborasi, meningkatkan kesiapsiagaan warga, serta memperkuat peran relawan di tingkat desa diharapkan dapat menjadi referensi bagi FPRB di kecamatan lain dalam menghadapi berbagai potensi bencana.

Melalui konsolidasi yang telah dilaksanakan dalam dua tahap ini, Pemerintah Kabupaten Magelang berharap seluruh relawan semakin siap, memiliki persepsi yang sama, serta mampu memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah, TNI, Polri, dan seluruh pemangku kepentingan guna mewujudkan Kabupaten Magelang yang semakin tangguh, tanggap, dan selamat dari bencana.


Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar

@kominfomagelang

FORKAB Kabupaten Magelang 2026 resmi dibuka! Semangat sportivitas, kebersamaan memenuhi GOR Pakubumi, Sabtu (4/7/2926). Di balik serunya pertandingan, ajang ini juga menjadi seleksi bagi para pegiat olahraga masyarakat terbaik Kabupaten Magelang untuk melaju ke Festival Olahraga Daerah (FORDA) Jawa Tengah hingga Festival Olahraga Masyarakat Nasional (FORNAS). 💪✨

♬ original sound - kominfomagelang