Cegah Gangguan Kesehatan Mental, Ratusan Anak Jalani Skrining

Dilihat 57 kali
Skrining kesehatan mental anak di SD Negeri 3 Mangunsari, Sawangan, Magelang.

BERITAMAGELANG.ID - Sebanyak 100 siswa taman kanak-kanak dan sekolah dasar menjalani skrining Soerojo Student Care. Meningkatkan kesadaran serta penanganan awal kesehatan mental pada anak dan remaja. 


Program yang diadakan Soerojo Hospital bertujuan mendeteksi dini masalah kesehatan mental, terutama pada anak usia sekolah. Kendala kesehatan mental pada anak, menjadi penyebab utama gangguan fokus belajar, depresi, dan masalah sosial lainnya.


Dengan deteksi dini, diharapkan potensi masalah seperti gangguan belajar maupun mental lainnya dapat segera ditangani sebelum berkembang lebih lanjut.


"Kami melakukan kerja sama dengan sekolah. Sedangkan pelaksanaannya bersama tim Instalasi Rawat Jalan Soerojo Hospital," kata perawat Poliklinik Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja, Ria Andini Saputri, Kamis (15/1).


Sebanyak 50 peserta pemeriksaan dini adalah siswa SD Mangunsari 3. Sedangkan 50 lainnya adalah siswa TK dan sekolah dasar yang tersebar di wilayah Kecamatan Sawangan. 


Tidak hanya berhenti pada skrining, Soerojo Hospital juga memberikan edukasi parenting bagi guru dan orang tua yang disampaikan oleh dokter spesialis kesehatan jiwa, dr Bayu Soenarsana Putra, SpKJ yang juga Ketua Tim Soerojo Student Care.


"Setelah diperoleh hasil skrining, peserta yang memerlukan tindakan lanjut akan diberikan rujukan ke fasilitas kesehatan tingkat pertama. Baik melalui jalur asuransi maupun BPJS," terangnya. 


Jika diperlukan, pasien juga dapat dirujuk ke Soerojo Hospital untuk mendapatkan psikoterapi lanjutan.


Deteksi Dini


Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang, Budi Suprastowo mengatakan skrining awal kesehatan mental sangat penting.


"Agar dapat diketahui masalah mental sedini mungkin. Segera dapat diadakan pendampingan untuk mencegah (sebelum) masuk ke jenjang yang lebih lanjut," kata Budi Suprastowo.


Budi menjelaskan pentingnya peran orang tua dalam mendampingi anak yang terdiagnosa mengalami masalah kesehatan mental.


"Orang tua dapat berperan sedini mungkin. Mengetahui kalau anaknya bermasalah, sehingga bisa didampingi secara dini," ungkapnya.


Psikoterapi Anak ADD


Dihubungi terpisah, Kepala SD Mangunsari 3, Sicilia Herlina Lukitowati menjelaskan pihaknya sudah lebih dari 2 tahun mengirim beberapa siswa untuk menjalani psikoterapi di Soerojo Hospital.


Mereka rata-rata menderita gejala Attention Deficit Disorder (ADD). Anak penderita ADD mengalami gangguan konsentrasi belajar.


"Sebelumnya ada beberapa murid yang sudah kami bawa ke Soerojo Hospital. Kami ingin semua anak mendapat layanan deteksi dini sehingga tahu bagaimana kondisi kesehatan mental mereka," kata Herlina Lukitowati.


Pada skrining kesehatan mental, petugas medis biasanya mendeteksi emosi yang labil. Skrining student care juga efektif menemukan kendala fokus belajar.


Inovasi Cakrawala


Skrining kesehatan mental untuk siswa TK dan SD tidak lepas dari program inovasi yang digagas salah seorang guru SD Mangunsari 3, Deneda Anggia Puspitaningtyas.


Deneda menggagas program inovasi Cakupan Aksi Kesehatan Mental dan Ruang Ajar untuk Layanan Akademik (Cakrawala). Program Cakrawala ditetapkan menjadi salah satu Inovasi Daerah Kabupaten Magelang tahun 2024.


Program ini bertujuan membangun sistem terpadu mengatasi masalah siswa yang kesulitan belajar akibat gangguan fokus atau Attention Deficit Disorder.


Siswa ADD menderita kondisi psikologis yang rentan terhadap depresi dan permasalahan sosial. Inovasi dilakukan melalui pendampingan mental yang komprehensif dan efektif, serta membangun jalur rujukan yang jelas dan efisien ke Soerojo Hospital sebagai upaya preventif penanggulangan kenakalan pada anak dan remaja.


"Anak ADD susah sekali untuk fokus. Rentang fokus perhatiannya hanya beberapa menit, jadi sulit untuk konsentrasi pada pelajaran dalam waktu yang lama," kata Deneda.


Adiksi Telepon Genggam


Selain ADD, beberapa anak mengalami gangguan berbicara. Sebagian lainnya mengalami gangguan emosional karena terpapar adiksi HP atau kecanduan telepon genggam.


Model terapi yang biasanya dilakukan di Soerojo Hospital biasanya berupa psikoterapi kelompok dan remedial.


"Psikoterapi kelompok untuk mengaktifkan aspek kognitif, psikomotor, afektif, emosi, dan bahasa secara terpadu. Biasanya lewat kegiatan-kegiatan atau permainan edukatif yang didampingi dokter," kata dia.


Anak-anak yang mengalami kesulitan baca-tulis-hitung (calistung) akan menjalani terapi remedial. Dokter akan menemukan dan mengoreksi dimana situasi anak kesulitan menjalani aktivitas belajar ini.


"Terapi memang cukup panjang. Tidak cukup satu atau dua kali terapi, tergantung kondisi anak. Tapi kita usahakan satu bulan terapi, kemudian dilihat perkembangannya," pungkasnya.

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar