Cuaca Ekstrem Landa Kabupaten Magelang, Masyarakat Diimbau Waspada

Dilihat 42 kali
Sebuah bangunan usaha di Dusun Drojogan, Desa Sidomulyo, Kecamatan Salaman ambruk diterjang angin kencang pada Senin (12/1).

BERITAMAGELANG.ID - Cuaca ekstrem berupa hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang disertai angin kencang melanda Kabupaten Magelang, Senin (12/1) sore. Kondisi tersebut memicu enam kejadian bencana yang tersebar di Kecamatan Salaman dan Kecamatan Borobudur. Dampak yang ditimbulkan beragam: rumah warga rusak, bangunan usaha ambruk, pohon tumbang yang menutup akses jalan dan jaringan listrik, hingga tanah longsor yang mengancam permukiman serta memutus jalur penghubung antarwilayah.


Kejadian pertama tercatat sekitar pukul 15.00 WIB di Dusun Dawungan, Desa Ngadirejo, Kecamatan Salaman. Hujan lebat disertai angin kencang menyebabkan sebuah pohon kelapa tumbang dan menimpa rumah Ibu Suprapti (60). Akibat peristiwa tersebut, rumah mengalami kerusakan pada bagian atap.


Pada waktu yang hampir bersamaan, angin kencang di Dusun Drojogan, Desa Sidomulyo, Kecamatan Salaman, mengakibatkan bangunan usaha pembuatan genteng milik Fahrodin (56) ambruk dan mengalami kerusakan berat. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini, namun kerugian material diperkirakan cukup besar. Masih di Kecamatan Salaman, sebuah pohon waru di Dusun Alun-alun, Desa Menoreh, roboh dan menimpa rumah milik Muhammad Saiful Huda (41) yang dihuni satu kepala keluarga dengan empat jiwa, sehingga bangunan rumah mengalami kerusakan ringan.


Kepala Seksi Kedaruratan BPBD Kabupaten Magelang, Cahyono Dwikartiputra menjelaskan, kejadian bencana pada hari tersebut berdampak pada beberapa kerusakan rumah dan beberapa infrastruktur jalan.


"Sementara yang tercatat di Pusdalops ada 3 rumah rusak akibat angin kencang, 2 rumah terancam longsor dan akses jalan terutup," ujarnya saat meninjau tanah longsor di Dusun Dawungan, Selasa (13/1).


Cahyono menambahkan, untuk penanganan longsor yang menutup akses jalan di Dusun Tanjung, Desa Ngadiharjo, Kecamatan Borobudur, BPBD telah berkoordinasi dengan Dinas PUPR dan pemerintah desa.


"Hasil asesmen dengan DPU, penanganan tidak memungkinkan menggunakan alat berat (backhoe) karena medan dan akses yang terbatas, sehingga pembersihan material longsor sementara dilakukan secara manual melalui kerja bakti warga," terang Cahyono.


Pihaknya saat ini terus melakukan pemantauan dilakukan di lokasi-lokasi rawan longsor untuk mengantisipasi kemungkinan kejadian susulan.


"Kami masih melakukan pemantauan karena kondisi tanah di beberapa titik masih labil. Jika hujan kembali turun dengan intensitas tinggi, potensi longsor susulan masih ada," tambahnya.


Di Kecamatan Borobudur, hujan lebat yang mengguyur wilayah Dusun Tanjung, Desa Ngadiharjo sejak siang hari dan terjadi beberapa hari terakhir menyebabkan tanah pada tebing menjadi jenuh air dan labil. Sekitar pukul 16.15 WIB terjadi longsor pada tebing setinggi kurang lebih delapan meter dengan lebar sekitar enam meter. Material longsoran menutup akses jalan lingkungan dan mengenai tembok rumah warga, sehingga mengancam rumah milik Sriwoto yang dihuni satu kepala keluarga dengan empat jiwa.


Sriwoto, warga Dusun Tanjung yang terdampak longsor menuturkan, peristiwa tersebut terjadi secara tiba-tiba dan kondisi tanah terus bergerak setelah longsor pertama.

"Tanahnya mendadak longsor dan setelah itu masih bergerak. Kami khawatir terjadi longsor susulan, sehingga saya dan keluarga memilih mengungsi sementara ke rumah tetangga demi keselamatan," ujarnya.


Selain kejadian angin kencang dan longsor, hujan dengan curah tinggi juga menyebabkan rumah roboh di Dusun Salakan, Desa Kalisalak, Kecamatan Salaman, sekitar pukul 17.30 WIB. Bagian dapur rumah milik Agus Mustolih ambruk akibat kondisi konstruksi bangunan yang kurang kuat serta pondasi yang mengalami amblas karena tergerus air hujan. Pada sore hari yang sama, longsor talud juga terjadi di Dusun Kempul, Desa Menoreh, Kecamatan Salaman. Talud setinggi sekitar tiga meter dengan panjang tujuh meter longsor akibat hujan ringan hingga sedang dan mengancam rumah milik Ibu Ernawati yang berada tepat di atas tebing.


Menanggapi rangkaian kejadian tersebut, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Magelang, Edi Wasono mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan di puncak musim hujan tahun yang diprakirakan terjadi di bulan Januari 2026 ini.


"Cuaca ekstrem masih berpeluang terjadi terutama puncak musim hujan saat ini, hal tersebut bisa memicu bencana-bencana susulan. Kami mengimbau masyarakat, terutama yang tinggal di wilayah rawan, agar tetap waspada dan segera melapor apabila terjadi kondisi darurat," kata Edi Wasono.


Sebagai tindak lanjut, BPBD Kabupaten Magelang bersama relawan, pemerintah desa, dan warga setempat segera melakukan penanganan darurat di sejumlah titik kejadian. Penanganan dilakukan melalui kerja bakti pembersihan material pohon tumbang dan longsoran, pengamanan lokasi rawan, serta pembukaan akses jalan secara bertahap.


Selain itu BPBD Kabupaten Magelang juga telah mendistribusikan bantuan logistik kerja bakti serta terpal kepada warga yang rumahnya mengalami kerusakan akibat bencana. Bantuan tersebut digunakan sebagai perlindungan sementara sekaligus mendukung proses pemulihan awal di lokasi terdampak.


Hingga saat ini, BPBD Kabupaten Magelang masih melakukan pemantauan di sejumlah lokasi rawan, terutama pada tebing dan talud yang berpotensi mengalami longsor susulan. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada, membatasi aktivitas di sekitar lokasi rawan saat hujan turun, serta segera mengungsi apabila kondisi dinilai membahayakan keselamatan.

 

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar