Keripik Sawi Menjadi Harapan Baru Ibu-Ibu Petani Lereng Merbabu

Dilihat 26 kali
Anggota KWT Sehati menunjukkan keripik sawi Kraukk!, Senin (29/6/2026).

BERITAMAGELANG.ID - Kabut pagi perlahan menyibak lereng Gunung Merbabu di Desa Sumberejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang. Di balik hamparan hijau tanaman sawi yang tampak subur, tersimpan kegelisahan yang telah lama dirasakan para petani. Bukan karena gagal panen, melainkan karena hasil panen yang terlalu melimpah.

Bagi petani di kawasan hortikultura ini, panen raya sering kali justru menjadi kabar yang mengkhawatirkan. Saat produksi sawi melimpah, harga di tingkat petani dapat merosot hingga hanya Rp500 per kilogram. Padahal biaya produksi mencapai sekitar Rp1.500 per kilogram. Kondisi itu membuat hasil kerja berbulan-bulan seringkali tidak sebanding dengan pendapatan yang diterima.

Persoalan itulah yang mendorong para ibu petani di Desa Sumberejo untuk tidak tinggal diam. Mereka memilih mencari cara agar hasil panen memiliki nilai jual lebih tinggi daripada sekadar dijual sebagai sayuran segar.

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Sumberejo, Siyono mengatakan, gagasan tersebut akhirnya diwujudkan melalui Kelompok Wanita Tani (KWT) Sehati pada 2022. Kelompok yang beranggotakan 10 ibu-ibu petani itu mulai mengolah sawi menjadi keripik sebagai upaya menyelamatkan hasil panen ketika harga anjlok.

"Kalau harga sedang bagus memang bisa sampai Rp9.000 per kilogram. Tetapi rata-ratanya hanya sekitar Rp1.500 sampai Rp2.000, bahkan saat panen raya pernah turun menjadi Rp500 per kilogram. Dari situlah muncul ide agar sawi tidak hanya dijual segar," ujarnya, Senin (29/6/2026).

Produk itu kemudian diberi nama Kraukk!, mengikuti bunyi renyah ketika keripik digigit. Kini keripik sawi tersebut tersedia dalam empat varian rasa, yakni original, balado, barbeque, dan jagung manis.

Merintis usaha dari desa bukan perkara mudah. Pada masa awal, para anggota KWT Sehati hanya mengandalkan semangat belajar dan bantuan dari berbagai pihak. Peralatan produksi yang mereka gunakan berasal dari dukungan sejumlah lembaga yang peduli terhadap pemberdayaan kelompok wanita tani.

Pemerintah Kabupaten Magelang melalui Dinas Pertanian dan Pangan juga terus mendampingi pengembangan usaha tersebut. Mulai dari pelatihan pengemasan produk, peningkatan kualitas produksi, hingga memfasilitasi keikutsertaan dalam berbagai pameran produk lokal agar keripik sawi semakin dikenal masyarakat.

"Pendampingan itu sangat membantu kami. Ke depan kami berharap dukungan juga bisa diperluas untuk membuka akses pemasaran sehingga produk kami bisa menjangkau pasar yang lebih luas," kata Siyono.

Menurutnya, tantangan terbesar saat ini bukan lagi menghasilkan produk berkualitas, melainkan memperluas pasar.

Selama empat tahun berjalan, produksi Kraukk! telah mencapai sekitar 500 hingga 700 bungkus setiap bulan dengan kemasan 100 gram yang dijual seharga Rp18.000 per bungkus. Keripik tersebut telah dipasarkan di berbagai toko oleh-oleh di Kabupaten Magelang, bahkan mulai dipesan konsumen dari Bekasi dan Tangerang.

Namun, kapasitas produksi mereka masih sangat kecil dibandingkan potensi panen sawi di Desa Sumberejo. Saat ini KWT Sehati baru mampu mengolah sekitar 25 kilogram sawi per hari, sementara setiap petani dapat menghasilkan satu hingga tiga ton sawi setiap hari dan jumlah petaninya mencapai ratusan orang.

Karena itu, mereka berharap memiliki rumah produksi sendiri. Selama ini seluruh proses produksi masih dilakukan di tempat sewa sehingga ruang untuk mengembangkan usaha masih terbatas.

Bagi para anggota KWT Sehati, usaha keripik sawi bukan hanya tentang menambah penghasilan. Ada kebersamaan yang tumbuh di dalamnya.

Fitriani, salah seorang anggota KWT Sehati, bercerita bahwa seluruh anggota kelompok merupakan ibu-ibu petani yang sehari-hari tetap bekerja di ladang. Setelah menyelesaikan pekerjaan di kebun, mereka berkumpul untuk mengolah sawi menjadi keripik.

"Awalnya kami hanya bertani di lahan sendiri. Sekarang, setelah pulang dari ladang, kami bersama-sama membuat keripik sawi," tuturnya.

Proses pembuatannya masih dilakukan secara telaten. Sawi dipilih yang kualitasnya paling baik, kemudian dipotong, dicuci, dibalut adonan tepung berbumbu, lalu digoreng hingga renyah. Keripik tersebut mampu bertahan hingga empat bulan dan kini telah mengantongi izin PIRT, sertifikat halal, serta informasi nilai gizi. Proses pengurusan hak merek juga masih terus berjalan.

Bagi Fitriani dan anggota lainnya, hasil penjualan keripik tidak langsung dibagikan. Sebagian diputar kembali menjadi modal usaha, sementara sisanya ditabung bersama.

Tabungan itu kemudian dibagikan menjelang Lebaran maupun pada bulan Sapar untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Bahkan sesekali menjadi biaya rekreasi sederhana bagi ibu-ibu petani yang selama ini lebih banyak menghabiskan waktu di ladang.

"Senang rasanya kalau hasil kerja bersama bisa dinikmati bersama juga," katanya.

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar

@kominfomagelang Alhamdulillah, selamat datang kembali di tanah air. 🤲✨ Suasana haru dan penuh kebahagiaan menyelimuti kepulangan Jemaah Haji Kloter 80 yang akhirnya kembali berkumpul bersama keluarga setelah menunaikan ibadah di Tanah Suci. Semoga seluruh amal ibadah diterima Allah SWT, menjadi haji yang mabrur dan mabruroh, serta membawa keberkahan bagi keluarga dan lingkungan sekitar. Aamiin🙏 #jemaahhaji #magelang ♬ original sound - kominfomagelang