Prosesi Kirab Waisak Ramai Disaksikan Warga

Dilihat 44 kali
Kirab Waisak 2570 BE/2026 berlangsung Minggu (31/5/2026).

BERITAMAGELANG.ID - Ribuan umat Buddha dari seluruh Indonesia, mengikuti prosesi atau kirab Waisak 2570 BE/2026 dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur. Mereka berjalan kaki sejauh 3 km melintas di atas dua sungai, yakni Elo dan Progo. Dengan bersikap khidmat, umat Buddha berjalan sambal membawa bunga sedap malam.

Sebelum prosesi dilangsungkan, terlebih dahulu digelar penyalaan Pelita Perdamaian dan Kunjungi Pohon Harapan di pelataran candi Mendut. Penyalaan pelita dipimpin Ketua DPP Walubi, Siti Hartati Murdaya didampingi Dirjen Bimas Buddha, Supriyadi serta beberapa bikkhu yang mewakili berbagai sangha.

Lilin-lilin kecil berwarna merah ditata rapi di depan altar dengan membentuk tulisan "World Peace". Menurut Bikkhu Dwiwiya Svhira dari majelis Tanah Suci Indonesia, penyalaan pelita ini melambangkan dari gelap menjadi terang.

"Begitu juga dengan diri kita yang hidup belum tentu arah masih meraba-raba, mana sih yang membuat bahagia, mana yang menderita, kadang kita salah ambil," katanya.

Pohon harapan atau pohon bodhi, adalah bentuk dari sebuah pencerahan. Lebih tinggi lagi bagaimana kita mempunyai pencerahan yang tinggi.

"Jadi proses belajar itu ujungnya adalah satu pencerahan," ujarnya.

Selain penyalaan pelita, juga dilangsungkan pembacaan paritta oleh bikkhu sangha. Prosesi dilepas langsung oleh Dirjen Bimas Buddha, Supriyadi dan Wakil Ketua Panitia Waisak Nasional, Karuna Murdaya. Terlihat rombongan diawali dengan marching band, kemudian mobil hias relik sang Buddha Gautama. Di belakangnya ada mobilbleshing, dimana para bikkhu memercikkan air suci kepada umat Buddha dan juga warga yang menonton.

Barisan berikutnya, rombongan ketua DPP Walubi, Siti Hartati Murdaya didampingi walikota Singkawang, Tjhai Chui Mie. Dilanjutkan dengan barisan bendera merah putih, bendera Buddhis, mobil rupang Buddha, api dharma serta barisan tunggal ika. Ada juga tandu Garuda Pancasila, pembawa bunga, barisan penggendong tenggok, tandi Tripitaka, sarana puja, mobil cerita hidup sang Buddha Gautama, bendera majelis dan lain sebagainya.

Tiba di candi Borobudur, umat akan melaksanakan puja bhakti sebelum mengikuti detik-detik Waisak yang jatuh tepat pukul 15.44.44 WIB.

Ketua DPD Walubi Jateng, Tanto Soegito Harsono menambahkan, prosesi merupakan rangkaian acara Trisuci Waisak 2570 BE. Dalam prosesi ini dibawa air suci dan api abadi yang sebelumnya sudah disemayamkan di Candi mendut. Air suci diambil dari umbul Jumprit, sedangkan api abadi dari Mrapen Grobogan. Api dan air kemudian akan disemayamkan di Candi Borobudur hingga detik-detik Waisak berlangsung. 

Mayna, warga Borobudur mengaku antusias menyaksikan prosesi Waisak. ia sejak pagi sudah menunggu di pinggir jalan untuk menyaksikan prosesi ini. Ia datang berombongan bersama keluarga.

"Menarik melihat prosesi agama Buddha. Saya juga langsung melihat budaya mereka," ucapnya.

Ia mengaku setiap tahun pasti menyempatkan untuk menyaksikan prosesi waisak.

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar

@kominfomagelang

Sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Raya Waisak, kawasan Candi Ngawen, Muntilan, Kabupaten Magelang, Minggu (31/05/2026), dipenuhi harmoni budaya dan spiritualitas. Sebanyak 25 balon udara berwarna-warni menghiasi langit. Festival ini tidak sekadar tontonan, tetapi juga menjadi ruang pertemuan budaya, spiritualitas, dan pariwisata. Festival ini turut dihadiri Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, para duta besar, serta perwakilan Dirjen Bimas Buddha, menunjukkan daya tariknya yang semakin luas.

♬ original sound - kominfomagelang