Curah Hujan Tinggi, BPBD Imbau Waspada Longsor di Kabupaten Magelang

Dilihat 221 kali
Peta overlay gerakan tanah Jawa Tengah bulan Januari 2026 (sumber: Dinas ESDM Jateng)

Hujan turun hampir tanpa jeda di lereng-lereng perbukitan Kabupaten Magelang. Bagi warga yang tinggal di kawasan peralihan gunung dan dataran, musim hujan bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan periode yang selalu menghadirkan kewaspadaan. Sepanjang Desember 2025 hingga awal Januari 2026 menjadi salah satu bulan yang perlu mendapat perhatian serius, terlebih memasuki puncak musim penghujan.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah mengeluarkan Surat Peringatan Dini Potensi Gerakan Tanah tertanggal 5 Januari 2026. Berdasarkan kompilasi peta kerentanan gerakan tanah dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM serta prakiraan curah hujan dari BMKG Stasiun Klimatologi Kelas I Jawa Tengah, wilayah Jawa Tengah diprediksi mengalami curah hujan 201 mm hingga lebih dari 500 mm selama Januari, dengan kategori sedang hingga sangat tinggi

Kabupaten Magelang termasuk wilayah yang disebut secara khusus dalam peringatan tersebut. Sebagian wilayahnya masuk dalam kategori potensi gerakan tanah menengah hingga menengah-tinggi, terutama pada area dengan curah hujan di atas 300 mm. Kondisi ini berkaitan erat dengan karakter geografis Magelang yang didominasi perbukitan, lereng gunung api, serta jenis tanah yang mudah jenuh air.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2025 terjadi 177 kejadian tanah longsor yang tersebar di berbagai desa dan kecamatan. Catatan itu memperlihatkan dominasi bencana hidrometeorologi dan menunjukkan bagaimana hujan berkepanjangan dapat memicu tanah bergerak di daerah dengan topografi curam.

Di Magelang, kerentanan ini bukan sekadar data di atas peta. Sejumlah kecamatan di wilayah selatan dan barat kabupaten dikenal memiliki riwayat kejadian longsor, terutama saat hujan berlangsung berjam-jam tanpa jeda. Retakan tanah, pohon miring, hingga mata air baru yang muncul di lereng sering kali menjadi tanda awal yang luput dari perhatian.

Sepanjang 2025 lalu, wilayah yang termasuk rawan longsor antara lain Kecamatan Salaman, Kajoran, Kaliangkrik, dan Windusari, di mana berbagai insiden telah menimbulkan kerusakan infrastruktur dan mengancam keselamatan warga. Di awal tahun 2026 ini, terdapat beberapa lokasi yang mengalami tanah longsor. Tanah longsor di Desa Banyusari dan Desa Kebonagung Kecamatan Tegalrejo pada 1 Januari lalu sempat menutup akses jalan desa setelah hujan deras mengguyur kawasan tersebut.

Sementara itu, di tanggal yang sama hujan dengan intensitas sedang-lebat di Kecamatan Pakis yang menyebabkan tebing setinggi 25 meter dengan panjang 5 meter longsor di Dusun Petung Lor, Desa Petung, Kecamatan Pakis mengalami longsor. Dampak dari kejadian tersebut akses jalan penghubung antar dusun tertutup material longsor dengan ketebalan 0,5 - 3 meter.

Analisis kerawanan geospasial menunjukkan bahwa beberapa wilayah di Kabupaten Magelang termasuk dalam wilayah dengan tingkat kerawanan sangat tinggi terhadap longsor karena kombinasi topografi yang curam dan curah hujan yang tinggi. Wilayah ini berada di jalur pergerakan tanah yang berisiko ketika sistem drainase buruk atau tanah sudah jenuh air.

Menurut analisis BMKG, suhu muka laut di sekitar Pulau Jawa yang berada pada kategori hangat, berkisar 29,0 hingga 29,5°C, meningkatkan proses penguapan. Dampaknya, suplai uap air ke atmosfer bertambah dan memicu hujan yang lebih sering dan intens. Dalam kondisi seperti ini, tanah pada lereng yang sudah retak atau memiliki sistem drainase alami yang buruk akan lebih rentan mengalami pergerakan.

Kepala Dinas ESDM Jawa Tengah menekankan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah daerah. Langkah mitigasi yang direkomendasikan antara lain peningkatan penyuluhan di daerah rawan, kesiapan infrastruktur darurat, pemasangan Early Warning System (EWS), serta ronda warga ketika hujan turun lebih dari dua jam berturut-turut

Sejalan dengan itu, BPBD Kabupaten Magelang dalam berbagai pedoman mitigasi menegaskan bahwa longsor kerap terjadi bukan semata karena hujan lebat, tetapi akibat akumulasi hujan beberapa hari sebelumnya yang membuat tanah kehilangan daya ikat. Oleh karena itu, kewaspadaan justru perlu ditingkatkan meski hujan tidak selalu tampak ekstrem dalam satu waktu.

Bagi Kabupaten Magelang, peringatan dini ini menjadi pengingat bahwa mitigasi bukan hanya urusan pemerintah, tetapi juga warga yang hidup berdampingan dengan alam. Mengenali tanda-tanda awal gerakan tanah, menjaga saluran air agar tidak tersumbat, serta segera melapor ketika melihat perubahan pada lereng adalah bagian dari upaya menyelamatkan diri.

Di tengah hijaunya lereng Magelang yang subur, kewaspadaan adalah kunci. Sebab, di balik tanah yang memberi kehidupan, tersimpan potensi ancaman yang hanya bisa dihadapi dengan kesiapsiagaan bersama. Ancaman longsor mungkin tak bisa dihindari sepenuhnya, tetapi dengan sinergi antara kesadaran masyarakat dan langkah mitigasi pemerintah, dampaknya bisa ditekan seminimal mungkin.


Penulis: Larasati Puspitaningrum Narendraswari, Analis Kebencanaan Ahli Pertama pada BPBD Kabupaten Magelang

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar