Es Dawet, Minuman Favorit Saat Cuaca Panas

Dilihat 1080 kali

BERITAMAGELANG.ID - Lelaki tengah baya terlihat mengudap di sebuah angkringan dawet hitam manis yang berada di sisi jembatan biru desa Sukodadi Bandongan. Segelas besar es dawet dalam pegangan tangan lalu diteguknya cepat. Tak lebih dari dua menit telah berpindah isi gelas itu menjadi isi perut.


"Haus banget rasanya. Hari ini panas sekali kaya di Mekkah," ujarnya tersipu sedikit malu karena minum terlalu cepat.


Itulah pemandangan yang kerap terjadi di tempat itu.


"Soalnya musim kemarau jadi banyak orang merasa gampang haus. Apalagi, musim kemarau ini panasnya berbeda dengan tahun tahun sebelumnya," kata penjual angkringan dawet Cak Imin yang bernama Muhaimin itu.


Muhaimin sesungguhnya adalah pendatang baru di dunia perniagaan dawet. Semula, dirinya beserta anak istri berjualan bebek goreng di Jalan Raya Bandongan-Kaliangkrik. Lalu banting stir jadi penjual minuman tradisionil itu.


"Bebek goreng sebenarnya lumayan, tetapi menurut ramalan cuaca kan tahun ini kita mengalami kemarau panjang sebagai dampak el nino jadilah kami berspekulasi dengan jualan es dawet hitam," ujar lelaki Bandongan yang selalu ditemani isteri dan anak balitanya tiap kali mencari nafkah.


Spekulasi keluarga Muhaimin ternyata tidak meleset. Meski pembelinya terkesan tidak ramai, setiap hari mereka rata rata dapat menjual dawet sebanyak 70 hingga 80 gelas setiap harinya.


"Dawet itu kan minuman rakyat. Harganya murah, terjangkau. Hanya 5.000 rupiah," ujarnya.


Tidak jelas. mengapa Muhaimin menempatkan angkringannya di Jembatan Biru. Namun bagi pembeli dawetnya, tempat itu barangkali sesuai selera konsumen karena berada di tengah-tengah antara Wilayah Tempuran dan Bandongan. Apalagi di sepanjang perjalanan itu tidak ada orang yang berjualan dawet.


"Jadi kalau pas dalam perjalanan ndilallah, pas sampai tempat ini hausnya terasa. Tetapi pemandangan di sini memang indah dengan jembatan biru berwarna merah yang dulu pernah viral di medsos," kata seorang pembeli bernama Nurul.


Bukan Hanya Imin


Peluang membaca bisnis dawet di musim kemarau tentu bukan monopoli Muhaimin. Di sepanjang jalan di Desa Bandongan setidaknya, ditemukan enam penjual dawet angkringan.


Heri adalah salah seorang yang melihat peluang rezeki dari jualan dawet. Dengan memanfaatkan trotoar di dekat Puskesmas Bandongan, pria asal Kota Semarang ini menggelar dagangannya, dawet hitam Purworejo.


"Saya hanya menunggui. Dawet ini milik juragan. Sejak dari gula, es, santan, dawet dan semua peralatan bukan milik pribadi. Tiap hari saya dan barang barang ini termasuk tenda diantar ke sini," jelasnya.


Bagi Heri kerja sama dirinya dan sang juragan patut disyukuri, mengingat hampir tidak mengikutsertakan modal. Modalnya hanya waktu. Upah yang diterimanya pun jelas.


"Setiap gelasnya, saya menerima seribu rupiah. Kalau yang saya bawa ini habis maka yang terjual itu antara 60 sampai dengan 70 gelas," ungkapnya.


Sejak Majapahit


Bila dirunut ke masa silam, dawet sudah diproduksi dan dikonsumsi oleh nenek moyang di zaman lampau. Bahkan diduga minuman itu sudah dinikmati para pembesar dan rakyat Majapahit.


Dugaan itu punya alasan kuat karena dawet sebagai minuman, beberapa kali diungkap dalam Serat Centini yang ditulis pada Januari 1814 Masehi hingga tahun 1823 atas perintah Sunan Pakubuwana V yang bertahta pada tahun 1820-1823.


Serat Centini merupakan kisah pengembaraan putera puteri Sunan Giri Prapen, yaitu Jayengresmi, Jayengsari, dan Niken Rancangkapti. Ketiganya mengembara karena kedaton Giri diserbu oleh Sultan Agung. Serat Centhini sebagai karya besar sastra Jawa lama banyak mengandung berbagai macam pengetahuan meliputi sejarah, pendidikan, geografi, arsitektur, pengetahuan alam, agama, tasawuf, mistik, ramalan, sulapan, ilmu kekebalan, ilmu sirep, ilmu penjahat, perlambang, adat-istiadat, etika, psikologi, fauna, flora, obat tradisional, seni, seksologi, dan makanan tradisional.


Dalam serat Centini diungkap dawet disebut sebagai minuman suguhan untuk tamu, sesaji, hajatan dan gotong royong.


Itulah kisah dawet minuman peninggalan masa lalu. Tetapi bagi Imin, Heri, dan penjual lainnya, dawet adalah dagangan untuk menafkahi keluarga.


"Untuk bekal membesarkan dan menyekolahkan anak-anak," ungkap Imin.

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar