Pada saat ini, derasnya arus globalisasi yang merasuk sendi-sendi kehidupan, sudah dipastikan berimbas pada menipisnya batas-batas negara, terutama dalam konteks sosial budaya, sehingga tidak ada kultur yang steril atau bersih dari pengaruh kultur global. Pesatnya kemajuan teknologi komunikasi dan informasi apabila tidak disikapi dengan bijak kadang dapat meminggirkan nilai-nilai solidaritas sosial, kekeluargaan, gotong royong, dan toleransi yang sudah menjadi roh pemersatu dan ciri spesifik bagi bangsa Indonesia.
Memang disadari bahwa kebudayaan tersebut dinamikanya tidak pernah statis. Kebudayaan senantiasa dinamis dan selalu beradaptasi secara dialektis dan kreatif dengan dinamika komunitas. Selama ini kebudayaan hanya dibicarakan dalam tema-tema besar yang serba abstrak. Seperti dalam seminar, pidato kebudayaan, dan berbagai workshop yang menuntut refleksi mendalam dengan kecerdasan nalar yang begitu rumit. Tentu saja ruang-ruang perenungan atau kontemplasi tersebut penting. Tetapi, sejatinya untuk saat ini yang dibutuhkan adalah upaya-upaya untuk memandang perspektif kebudayaan secara kontekstual (Purnawan Andra, 2021).
Benteng Pertahanan
Kesenian sebagai bagian integral dari kebudayaan yang lahir dari cipta, rasa, dan karsa manusia, berfungsi sebagai cermin identitas, media ekspresi jiwa, alat komunikasi, serta sarana pelestarian nilai dan sejarah suatu bangsa. Adapun kesenian tersebut meliputi berbagai bentuk seperti seni pertunjukan, rupa dan sastra. Semuanya menjadi modal penting untuk membangun karakter bangsa dan mempererat relasi antarbudaya.
Namun acapkali, oleh beberapa kalangan kesenian sering kali dipandang sebelah mata. Ada anggapan berkesenian, terlebih kesenian tradisional, dipandang kuno atau klasik, bahkan feodal. Tetapi apabila ditelisik lebih jauh, kesenian kerap menjadi benteng pertahanan terakhir yang memiliki kapabilitas untuk menjawab dari beragam tantangan. Untuk memahami kesenian dalam kultur bangsa yang beragam itu, tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan atau mencicipi kuliner di sepanjang jalan atau juga sekadar mengabadikan nuansa bentang alam dalam sebuah potret eksotis.
Tidak bisa dipungkiri kesenian adalah spirit dasar ekspresi seni budaya yang ekspresif, egaliter, partisipatoris, juga komunal. Sebagaimana sebuah energi, daya hidup tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat kita. Kesenian merupakan citra rasa reflektif dan representasi usaha dalam memahami kehidupan sekaligus titik kulminasi antara manusia dan sebuah kekuatan ilahiah yang tak dimengerti oleh manusia itu sendiri.
Pada prinsipnya, memahami kesenian seperti memberikan wadah kepada jiwa manusia untuk membangun kebanggaan atas ketermilikan kehidupan bersama dalam konteks nilai eksistensial. Ia melampaui batas ruang, waktu, dan kondisi sosial ekonomi, apalagi politik. Pada pemahaman semacam inilah kesenian menjadi sebuah upaya untuk menggarap dan mendudukkan kembali nilai sapiensial atau upaya pencarian dalam perspektif kebudayaan yang utuh, maupun memberi kontribusi pengetahuan kepada masyarakat tentang menghayati estetika sebagai dasar kebudayaan.
Kabupaten Magelang memiliki potensi luar biasa akan kekayaan kelompok kesenian yang tersebar di semua kecamatan. Salah satu kelompok kesenian tertua di Kabupaten Magelang diantaranya adalah Padepokan Tjipta Boedaya di Dusun Tutup Ngisor Desa Sumber Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang. Padepokan ini sudah berdiri sejak 1937 atas prakarsa Romo Yoso Soedarmo (alm). Padepokan di lereng Gunung Merapi tersebut sampai saat ini masih menjadi pusat kegiatan berkesenian dan menjadi ciri spesifik Dusun Tutup Ngisor.
Di padepokan inilah dilangsungkan segala kegiatan seni tradisi Jawa yang selama ini dipercaya sudah tergerus oleh laju dinamika zaman. Mulai dari kegiatan ritual rutin Suran (bulan penting dalam kalender Jawa), pentas seni rutin untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad, Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI, juga Hari Raya Idulfitri. Pada agenda rutin tersebut ditampilkan berbagai bentuk kesenian yang ada dan terus dikembangkan, mulai dari kuda lumping, ketoprak, wayang orang, grasak, sampai dengan kesenian yang hampir punah, seperti wayang topeng, jelantur, dan gangsir ngenthir.
Kesenian menjadi daya hidup, pengikat, sekaligus wahana ekspresi masyarakat Tutup Ngisor. Meskipun secara ekonomis kehidupan mereka tergantung pada pertanian, aktivitas berkesenian yang menjadi perekat seluruh aspek kehidupannya. Peran signifikan ini menjadikan Tutup Ngisor menjadi pusat perhatian masyarakat di luar daerahnya sebagai laboratorium pembelajaran mengenai kesenian, sosial antropologi, kebudayaan Jawa yang masih kental dianutnya, hingga kajian mengenai manajemen seni pertunjukan.
Dengan aktivitas, kiprah, dan pemikirannya dalam kesenian, tokoh-tokoh dusun tersebut mempunyai kedudukan yang berpengaruh dan penting dalam peta kesenian. Tidak hanya di lingkungan sekitar, tetapi merambah sampai kota-kota besar lainnya. Sebagai personal, mereka adalah seniman yang pernah melakukan kolaborasi dengan seniman-seniman taraf nasional maupun internasional.
Dengan karakteristiknya yang luar biasa, walaupun sudah dapat reputasi sampai level internasional, masyarakat Tutup Ngisor tidak takabur, mereka tetap rendah hati (low profile) dengan menganggap semua kelebihannya tersebut biasa saja dan tidak mengubah aktivitas berkesenian dan dinamika kehidupan mereka. Prestasi dan predikat yang telah mereka terima tidak mengubah karakter mereka yang tetap menep (mengendap atau tenang). Sikap yang bersahaja itu membuat mereka mendapatkan tempat penting di dunia seni di Tanah Air.
Ekspresi Nyata
Pada dasarnya kesenian sebagaimana diiimplementasikan oleh kelompok-kelompok kesenian, seperti di Padepokan Tjipta Boedaya di atas dan juga kelompok kesenian lainnya mesti dilakukan dalam ekspresi nyata dan mendasar. Bukan sekadar diupayakan dalam konsep dalam rangka mendapatkan sertifikasi atau pengakuan yang ujung-ujungnya tidak memiliki dampak positif bagi lingkungannya.
Kesenian bisa dan semestinya bisa hadir dimana saja, kapan saja, oleh siapa saja, dan dengan cara apapun. Dengan melakukan kegiatan kesenian secara konsisten dan berkelanjutan sudah merupakan wujud nyata dari pendidikan informal yang berkonsetrasi pada pewarisan budaya bagi generasi muda. Proses pembentukan karakter, dalam hal ini membangun dan mengembangkan kepercayaan diri, terjadi melalui serangkaian interaksi dan proses belajar baik antar individu ataupun antar komunitas.
Interaksi yang terjadi dalam komunitas tersebut merupakan sebuah proses belajar panjang dan bermakna. Implikasinya yakni suatu pembelajaran yang memberi pengalaman pada seseorang berbuat aktif sehingga memudahkannya untuk mengingat dan memahami fenomena yang terjadi di sekitarnya.
Lebih jauh lagi pada saat ini, kesenian tidak lagi hanya berguna untuk pengungkapan estetis kesenian itu sendiri, melainkan sudah menembus sekat ilmu pengetahuan dan teknologi, serta sangat terbuka untuk pemahaman baru. Terlebih lagi kesenian sudah memiliki payung hukum yaitu UU No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan yang menegaskan bahwa kesenian masuk dalam 10 objek pemajuan kebudayaan sebagai aset penting untuk kemajuan kebudayaan di Tanah Air.
Penulis: Drs. Ch. Dwi Anugrah, M.Pd., Ketua Sanggar Seni Ganggadata Desa Jogonegoro, Mertoyudan Kabupaten Magelang
0 Komentar