Anak Tangguh Lawan Covid-19

Dilihat 1209 kali

Setiap tanggal 23 Juli, seluruh bangsa Indonesia tidak akan melupakan hari yang cukup istimewa sebagai Hari Anak Nasional (HAN). Peringatan tersebut berdasarkan Keputusan Presiden No. 44 tahun 1984. Namun peringatan tahun ini jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Peringatan tahun ini dilaksanakan secara daring, terlebih lagi untuk Jawa dan Bali seluruh komponen masyarakat sedang melaksanakan PPKM guna mencegah laju gerak virus Covid-19.


Peringatan HAN tahun ini dapat dimaknai sebagai kepedulian seluruh bangsa Indonesia terhadap perlindungan anak Indonesia agar tumbuh dan berkembang secara optimal, dengan mendorong keluarga Indonesia menjadi lembaga pertama dan utama dalam memberikan perlindungan kepada anak. Upaya ini akan menghasilkan generasi penerus bangsa yang sehat, cerdas, ceria, berakhlak mulia dan cinta tanah air di masa pandemi Covid-19.


Adapun tema HAN tahun ini mengangkat tema Anak Terlindungi, Indonesia Maju. Sedangkan tujuan dari penyelenggaran HAN tahun ini secara umum sebagai bentuk penghormatan, perlindungan dan pemenuhan hak anak sebagai generasi penerus. Selain itu tujuan khususnya memberi pemahaman bahwa anak adalah penerus cita-cita bangsa sehingga upaya pembinaan anak perlu diarahkan untuk menggugah dan meningkatkan kesadaran akan hak, kewajiban dan tanggung jawab kepada orang tua, masyarakat dan negara (https://kumparan.com)


Menyemai Nilai Mulia


Tidak bisa dipungkiri, keluarga memang merupakan sumber pertama yang menyemai nilai-nilai mulia untuk proses kehidupan anak-anak. Kualitas sebuah keluarga menentukan kualitas pola perilaku, cara berpikir, dan bersikap terhadap sebuah peristiwa. Cara seseorang bertindak sering kali diperoleh dalam pengalaman kebersamaan bersama keluarga. Proses imitasi biasanya menjadi langkah awal sosialisasi dan nilai-nilai kehidupan yang hakiki.


Proses pembentukan karakter digambarkan sebagai sebuah perjalanan yang bermula dari rumah, menuju ke masyarakat luas. Keluargalah yang pertama menyemai nilai-nilai mulia dalam diri anak sejak kecil. Sesuatu yang dilihat, didengar, dan dipahami dalam keluarga inilah yang akan membentuk kebiasaan dan kostruksi nilai individu bagi anak tersebut. Proses akuisisi nilai-nilai inilah yang akan membentuk keseluruhan kepribadan individu (Doni Koesoema A., 2018).


Dalam proses perjalanan waktu, apabila anak semakin besar, orang tua perlu mengondisikan agar anak mulai diberi penjelasan rasional untuk mamahami sebuah perilaku dan sikap. Anak membutuhkan penjelasan rasional mengapa ia boleh melakukan ini atau tidak boleh melakukan itu. Dengan memberikan penjelasan rasional, anak akan merasa dianggap sebagai pribadi yang bisa dipercaya dan mandiri.


Ketika seorang anak sudah mampu memergunakan kemampuan berpikir, berbahasa dan berkomunikasi, metode sosialisasi atas nilai dan norma sosial yang berlaku di dalam keluarga akan efektif bila dilakukan melalui sebuah proses dialog. Di sinilah proses berpikir rasional dan momen pendidikan karakter itu mulai terbangun.


Proses sosialisasi nilai dan perilaku dalam keluarga dilakukan serentak melalui metode keteladanan dan dialog. Orang tua memberikan contoh tentang bagaimana nilai-nilai yang baik itu diimplementasikan.


Sebagai contoh pada saat pandemi Covid-19 merebak, orang tua perlu memberikan pemahaman anak untuk taat pada regulasi 5 M yang sudah ditetapkan pemerintah. Misalnya untuk kesehatan, menjaga diri, disiplin, dan taat aturan. Tentunya pemahaman tersebut diimbangi dengan metode keteladan orang tua dalam menaati aturan. Ketika keteladanan sudah diterapkan, akan terpatri kuat pada diri anak yang nantinya akan manjadi pembiasaan positif.


Perkembangan Psikososial


Pada saat pandemi ini, permasalahan untuk anak-anak lebih mengarah pada perkembangan psikososial. Dalam kajian disiplin ilmu psikologi, psikososial bisa dipahami sebagai suatu kondisi yang terjadi pada individu yang mencakup aspek psikis dan sosial atau sebaliknya.


Anak-anak yang seharusnya memasuki lingkungan sosial lebih luas seperti keluarga, sekolah, lingkungan bermain dan lain-lain menjadi terganggu dengan adanya pandemi. Untuk itu sekarang diperlukan kerjasama sinergis berbagai pihak untuk menyikapi hal tersebut.


Forum anak, tim penggerak PKK, organisasi sosial kemasyarakatan, perlu dioptimalkan untuk memberikan edukasi dan terapi bagi anak-anak terdampak Covid-19. Terlebih lagi bagi anak-anak yang kehilangan orang tuanya karena terpapar Covid-19. Mereka membutuhkan bantuan terapi psikologis agar traumanya tidak berkepanjangan.


Kembali di sini ketahanan keluarga dan pihak-pihak lain yang peduli sangat dibutuhkan agar anak-anak semakin tangguh dan tegar menghadap pandemi ini. Kita optimis sinergitas berbagai pihak akan menyelematkan anak-anak dari pandemi yang berkepanjangan ini menjadi generasi tangguh.


Selamat Hari Anak Nasional tahun 2021.


(Oleh: Drs. Ch. Dwi Anugrah, M.Pd., Guru Seni Budaya SMK Wiyasa Magelang)

Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar