Belajar Menghargai Buku

Dilihat 2112 kali
Mengharuskan peserta didik untuk menghargai buku perlu dilakukan guru dengan pendampingan dan tindakan praksis

Hari masih pagi sekali, penulis masih berada di ruang guru. Tiba-tiba seorang peserta didik menghampiri seraya menunjukkan buku yang baru saja dibeli di toko buku. "Pak, saya sudah membaca tiga bab dari buku yang Bapak tulis. Rasanya saya bangga membaca tulisan guru saya sendiri," ujarnya sambil minta tanda tangan di buku yang sudah dibaca tersebut.


Tidak ada kata lain, selain haru yang dapat penulis ucapkan sambil memberikan apresiasi setinggi-tingginya. Betapa tidak. Bisa dibayangkan antusiasme seorang peserta didik yang memburu buku karya gurunya. Orang yang dikenalnya, lantas membaca, dan mohon tanda tangan guru dari buku yang sudah dibacanya. Sikapnya yang jujur dan polos tersebut bagaikan magma yang menjadi pemantik penulis untuk terus bisa berkarya.


Ilustrasi di atas menandakan bahwa sampai saat ini buku masih banyak diminati. Tidak bisa dipungkiri, buku telah menginspirasi banyak orang besar untuk mengubah peradaban dunia. Betapa pentingnya buku bagi kehidupan masa depan manusia. Banyak manusia hebat karena mereka adalah orang-orang kutu buku. Terbukti di Indonesia tokoh-tokoh besar seperti Bung Karno adalah orang-orang yang sangat kutu buku. Buku-buku telah mengilhaminya untuk mengubah bangsanya menjadi lebih baik.


Sebagai bahan komparasi, negara Jepang yang pada perang dunia hancur lebur, namun dalam sekejap menjadi raksasa ekonomi dunia. Ternyata rakyat Jepang adalah orang-orang yang haus akan ilmu pengetahuan. Perpustakaan-perpustakaan hampir di semua daerah bermunculan. Buku telah menginspirasi masyarakat Jepang menjadi negara maju. Jepang yang sebelumnya hanya sebuah bangsa terisolir dari dunia luar, kini mampu tampil menjadi salah satu negara dengan peradaban cemerlang.


Semuanya tersebut tidak bisa dilepaskan dari fungsi buku yang dapat memperluas cakrawala pandang manusia. Bahkan ada adagium yang sangat fenomenal, bahwa buku merupakan jendela dunia. Adagium tersebut menyiratkan bahwa buku diandaikan sebagai bumi. Ketika membuka buku sepertinya kita membuka jendela dunia dan melihat banyak hal yang tidak diketahui serta hal baru yang menambah cakrawala pengetahuan.


Setelah membuka, kita perlu membaca, sebab tanpa membaca buku tersebut, pengetahuan dalam buku tersebut tidak dapat dialirkan ke otak. Dengan membaca buku, kita bisa mendapatkan beragam pengetahuan yang belum kita ketahui. Sehingga wawasan kita kian bertambah. Makna tersebut menggambarkan betapa pentingnya buku karena memberikan banyak pengetahuan kepada manusia.


Menjadi Kebiasaan


Di tengah keterbukaan informasi pada saat ini, menghargai buku mestinya diajarkan sejak dini kepada peserta didik di masing-masing satuan pendidikan atau sekolah. Dengan menghargai buku sebagai sumber pengetahuan dapat menjadi kebiasaan positif yang dalam jangka panjang dapat menjadi budaya sekolah. Di samping itu menghargai buku dapat menunjukkan rasa penghargaan individu terhadap ilmu yang telah dikembangkan oleh umat manusia sebagai bagian dari perjalanan peradaban (Doni K.A & Evy Anggreny, 2020).


Menghargai buku perlu dilakukan sedini mungkin dan guru perlu memberikan contoh teknis menghargai buku tersebut. Tidak jarang, peserta didik yang baru masuk sekolah dasar masih belum tahu cara merawat buku. Seringkali buku paket sekolah cepat rusak, sampulnya lepas atau lipatannya melingkar-lingkar karena salah dalam membuka buku. Kadang juga mereka tidak tahu, cara menata buku yang dimasukkan ke dalam tas, sehingga banyak buku yang terlipat-lipat tak beraturan dan akhirnya rusak.


Untuk peserta didik yang sudah besar, cara menghargai buku bukan sekadar menjaga buku agar tertata rapi dan tidak mudah rusak, melainkan juga memikirkan bahwa buku itu adalah sumber ilmu yang perlu dibaca, bukan sekadar dikoleksi atau tersimpan rapi di rak-rak buku perpustakaan.


Memotivasi Membaca


Dalam hal memotivasi membaca, guru perlu menciptakan mekanisme yang mampu memantik peserta didik sampai tindakan praksis. Tindakan mengharuskan membaca disertai alasan rasional adalah salah satu opsi yang perlu diimplementasikan. Guru mesti mulai mengajarkan cara membaca yang efektif.


Peserta didik dapat digiring untuk meminjam buku pilihan di perpustakaan. Berikan waktu yang cukup kepada mereka untuk menghabiskan membaca buku yang menjadi pilihannya. Sebuah pengalaman nyata, pada pertemuan pertama awal tahun mengajar penulis mengharuskan peserta didik untuk membaca satu buku pilihannya, kemudian menunjukkan buku yang dipinjam di perpustakaan atau dibeli di toko buku. Keharusan berikutnya, sesuai dengan kesepakatan setelah membaca, kemudian menyusuan resume juga resensinya untuk dipresentasikan di depan kelas.


Ketika setiap peserta didik mampu menunjukkan buku yang baru saja dibacanya sekaligus menceritakan isinya untuk dipresentasikan di depan kelas, guru boleh yakin bahwa peserta didik telah membacanya, bukan sekadar sinopsis yang diambil dari internet. Langkah tersebut perlu dilakukan guna meminimalisir peserta didik yang malas membaca dan melakukan jalan instan dengan segala cara. Tentunya tindakan tidak terpuji tersebut perlu diantisipasi sejak awal.


Rasanya masih relevan, Hari Buku Sedunia tahun ini yang mengusung tema "You Are A Reader" (Anda adalah pembaca). Dengan membaca buku menjadi momentum penting untuk membuka cakrawala pengetahuan. Buku adalah kendaraan penting untuk dapat mengakses, mengirimkan dan mempromosikan pendidikan, ilmu pengetahuan, budaya, serta informasi ke seluruh penjuru dunia.


Dengan demikian untuk dapat menghargai buku, peserta didik perlu distimulasi terus menerus dengan contoh yang konkret sehingga menjadi pembiasaan positif. Apabila pembiasaan tersebut sudah dapat menyatu dalam dirinya, sikap menghargai akan tumbuh dengan sendirinya menjadi sikap empati pada buku.

 

Selamat Hari Buku Sedunia Tahun 2022.


(Oleh: Drs. Ch. Dwi Anugrah, M.Pd., Guru Seni Budaya SMK Wiyasa Magelang)


Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar