Guru Beraksi, Siswa Aktiv Belajar Bahasa Jerman

Dilihat 1612 kali

(Oleh: Ekowati Septi Rahayu,S.Pd.,M.Pd., Guru Bahasa dan Sastra Jerman SMAN 1 Magelang)


Dalam suatu kelas, ada seorang siswa menceritakan ibunya yang bekerja dan sangat tanggung jawab terhadap keluarga, karena suaminya meninggal dunia. Siswa lainnya bercerita ia merasa sendirian di rumah karena kedua orang tuanya bekerja semua. Siswa menyayangi orang tuanya, tetapi mereka terasa jauh. Siswa tersebut sangat berkeinginan, ayah dan ibunya bersama-sama untuk jalan-jalan atau bermain bersama di suatu tempat rekreasi. Tetapi itu kapan? Demikian contoh ungkapan Sarah dalam menceritakan ayah dan ibunya yang sangat menyayanginya dengan berbagai fasilitas yang diberikan padanya, namun Sarah ingin mengucapkan terima kasih kepadanya dengan kedekatan bersama, dan masih banyak cerita dan problema dengan keluarga.


Menurut Mulyasa (2010: 78) bahwa guru sebaiknya memberi variasi dalam pembelajaran karena ada perubahan dalam proses kegiatan tersebut. Adapun tujuan pembelajarannya adalah untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik, serta mengurangi kejenuhan dan kebosanan. Untuk itu, guru memberikan variasi dalam menulis. Hal itu sesuai ungkapan hati siswa. Misalnya membuat puisi dan cerita.  Guru memberi tema keluarga (die Familie).


Dalam pelajaran bahasa, guru memperkenalkan bahasa Jerman, sekaligus menumbuhkan kreativitas, ide dan karya seni. Oleh karena itu mata pelajaran bahasa asing dapat dihubungkan dan dikomunikasikan dengan mata pelajaran lain. Hal ini mengantarkan bahasa sebagai komunikasi lisan dan tulis. 




Misalnya, siswa membuat yel yel : Ich liebe SMA 1. Ich liebe Indonesisch. Ich liebe Deutsch. Ich liebe  Indonesien und ich liebe dich. Wir sind super. (Saya cinta SMA 1. Saya cinta bahasa Indonesia. Saya cinta bahasa Jerman. Saya cinta Indonesia dan saya cinta kamu. Kita semua hebat). 


Siswa pun dapat membuat lagu dengan mengulang-ulang kata atau menggunakan melodi lagu Indonesia. Misalnya angka: satu satu aku sayang ibu, dua dua aku sayang ayah, tiga-tiga aku sayang adik kakak. Satu dua tiga sayang semuanya. (eins eins ich liebe Mutter. Zwei zwei ich liebe Vater. Drei drei ich liebe Bruder, Schwester. Eins zwei drei. Ich liebe sich zusammen).dsb.


Di dalam pelajaran bahasa asing, terkadang siswa hanya pasif, cenderung monoton, mengerjakan karena hanya diperintah guru. Akan tetapi siswa merasa senang apabila cerita lisan dan tulis menjadi suatu kebiasaan yang akan dilakukan secara terus menerus. Untuk itu guru memberikan kebebasan menuangkan cerita sesuai pengalaman dan bakatnya. Misalnya siswa kelas X semester 1 belajar tema perkenalan (kennenlernen). 


Selain mengenalkan diri siswa dan mengenal lebih dekat gurunya, mereka juga dapat mengenal materi benda-benda sekolah juga benda-benda di rumah (alangkah baiknya menggunakan benda yang sesungguhnya). Dari menghafal benda-benda sekolah dalam bahasa Jerman yang di drill, dicatat dan dibuat kalimat maka siswa dapat memulai dari menggambar benda itu, misalnya siswa diberi kertas HVS dan dipinjami pensil warna atau spidol untuk menggambar.

             

Guru memberikan kepercayaan, siswa semangat belajar bahasa Jerman


Seorang guru berusaha percaya diri (PD) untuk menyanyi atau membuat yel-yel dan ternyata siswa senang. Ketika guru meminta siswa semangat membuat yel-yel dalam bahasa Jerman, terlihat sangat antusias. Siswa diberi kepercayaan untuk membuat tugas, siswapun semangat mengerjakan. Hanya sedikit siswa yang masih malas-malasan. Siswa merasa familiar dengan gurunya.


Untuk mencapai tujuan pembelajaran, maka guru harus membekali pengetahuan dasar bahasa Jerman secara baik secara tulis maupun lisan, juga secara aktif. Sebagai dasar dari pencapaian bahasa tulis yaitu grammatika (tata bahasa) dan wordsatz (kosakata). Oleh karena itu, kosakata yang dimiliki siswa sangatlah penting untuk mengukur sejauh mana kemampuan siswa, terutama kemampuan membaca teks bahasa Jerman. 




Dalam menulis tidak perlu banyak kalimat/paragraf. Siswa dapat belajar dimulai dari menceritakan gambar. Dengan menceritakan gambar maka siswa muncul idenya untuk merangkai menjadi cerita bersambung sebagai ungkapan isi hati dalam puisi sederhana atau cerita. Adapun guru dalam cara membangkitkan motivasi belajar dapat sesuai pendapat Sardiman dalam Suparman S ( 2010:52) yaitu:


(a). Memberi angka (Note geben). Banyak siswa belajar karena ingin mencapai angka yang baik. Oleh karena itu langkah yang dapat ditempuh guru adalah bagaimana cara memberi angka-angka yang dikaitkan dengan nilai-nilai dalam setiap pengetahuan. 


(b). Memberi hadiah (Geschenk geben). Hadiah membangkitkan motivasi belajar misalnya: seorang siswa mendapat beasiswa, maka siswa tersebut akan giat melakukan kegiatan belajar


(c). Hasrat untuk belajar (Wünsch haben). Hasil belajar akan lebih baik apabila siswa tersebut punya hasrat atau tekad untuk mempelajari sesuatu. 


(d). Mengetahui hasil (Erfolg Wissen). Dengan mengetahui hasil belajar yang selama ini dikerjakan, maka akan bisa menunjukan motivasi siswa untuk belajar lebih giat, karena hasil belajar merupakan feedback (umpan balik) untuk mengetahui kemampuan belajar 


(e). Memberikan pujian (Geschenk geben). Pujian sebagai akibat dari pekerjaan yang diselesaikan dengan baik 


(f). Menumbuhkan minat belajar (Anschich lernen). Siswa merasa senang dan aman dalam belajar apabila disertai dengan minat belajar. Hal ini tidak lepas dari minat siswa dalam bidang studi yang ditempuhnya.


(g). Suasana menyenangkan (Ziel erreichen) maka akan cepat mencapai tujuan.


Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka Belajar, telah memberikan ruang di mata pelajaran pilihan yaitu pilihan Lintas kelompok peminatan dan pendalaman minat. Sekilas sangat sulit menerapkannya peminatan ilmu bahasa sekaligus karya sastra tentang budaya dan seni sastra. Sulitnya siswa memahami pemakaian bahasa yang dibuat cerita atau karya sastra beralasan, karena selain kosakata juga gramatika yang harus dikuasai. 


Akan tetapi apabila pengajar/guru menerapkan langkah-langkah yang mudah dipahami dan menyenangkan, maka pembelajaran akan berjalan baik. Misalnya dalam pelajaran bahasa Jerman yang telah memvisualkan dan menggunakan kemampuan siswa untuk berkarya dimulai dari hal yang kecil, siswa dalam membuat tulisan terasa mudah dan tidak merasa kesulitan. Untuk itu ruang karya sastra yang terdapat dibuat silabus dimulai dari kelas X sampai kelas XII mengartikan pelajaran bahasa Jerman dapat diajarkan dari semua mata pelajaran seperti ada seni, ada matematika, ada bahasa Indonesia, ada sejarah, ada geografi, ada olahraga, ada teknologi, ada sosial, ada sosiologi dan sebagainya. 


Untuk itu, peran guru dalam mengantarkan siswa belajar bahasa Jerman  dengan menyenangkan tentunya sangat menarik karena siswa akan suka dan mau belajar menulis dengan penuh keberanian penuh semangat untuk berkarya.


Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar