Membumikan Teater Tradisional

Dilihat 3176 kali
Wayang topeng sebagai jenis teater tradisional sarat akan pesan-pesan moral. Adegan Prabu Klana Dasawasesa dari Kerajaan Bantarangin didampingi pembantu setianya Sembunglangu. Salah satu adegan yang diambil dari cerita Panji.

DALAM proses perjalanan waktu, budaya global telah menerjang ke berbagi sektor termasuk aspek kebudayaan. Globalisasi dalam kebudayaan dapat berkembang dengan cepat, hal ini tentunya dipengaruhi oleh adanya kecepatan dan kemudahan dalam memeroleh akses komunikasi dan berita. Suatu fenomena yang tidak dapat dibendung kehadirannya.

Wacana globalisasi sebagai sebuah proses ditandai dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga mampu mengubah dunia secara mendasar. Komunikasi dan transportasi internasional telah menghilangkan batas-batas budaya setiap bangsa. Kebudayaan setiap bangsa cenderung mengarah kepada globalisasi dan menjadi peradaban dunia sehingga melibatkan manusia secara menyeluruh.

Globalisasi tersebut juga telah mendesak masuk dalam simpul-simpul kebudayaan dalam aspek kesenian di antaranya pada teater tradisional.Terlebih lagi pada saat badai Covid-19 memorakporandakan sendi-sendi kehidupan. Seni pertunjukan ini juga terkena imbasnya. Nafasnya seperti terhenti, karena mereka tidak bisa eksis untuk pentas termasuk latihan, karena harus melibatkan banyak orang.

Kelestarian Kebudayaan

Seiring dengan dinamika zaman dengan segala perubahannya, seni teater tradisional yang sudah ada sejak zaman feodal sampai sekarang masih dirindukan kehadirannya. Kerinduan dan gairah untuk mengapresiasi dan berekpresi melalu seni pertunjukan teater menandakan kesadaran untuk menjaga kelestarian kebudayaan masih tetap survival hingga saat ini.

Pada dasarnya teater tradisional yang juga sering disebut teater daerah merupakan suatu bentuk teater yang bersumber, berakar dan telah dirasakan sebagai milik sendiri oleh komunitas di lingkungannya. Pengolahan garapan didasarkan cita rasa komunitas pendukungnya. Di samping itu, teater tradisional mempunyai ciri-ciri spesifik kedaerahan  dan menggambarkan kebudayaan lingkungannya juga kearifan lokal.

Adapun ciri utama dari teater tradisional di antaranya, menggunakan bahasa daerah, dilakukan secara improvisasi, menggunakan unsur tari dan vokal, iringan musik daerah, selalu menampilkan unsur komikal (adegan lucu), serta menunjukkan keakraban antara pemain dan pononton.

Salah satu jenis teater tradisional yang paling banyak dikenal adalah teater rakyat. Teater ini lahir dari spontanitas kehidupan dalam masyarakat dan berkembang sesuai dengan perkembangan masyarakatnya. Kelahiran teater rakyat ini karena dorongan kebutuhan masyarakat terhadap suatu hiburan. Seperti di Bali ada teater rakyat topeng arja, di Jawa Timur ada ludruk, Di Jawa Tengah terdapat wayang topeng, wayang orang, dan sebagainya (Kemendikbud, 2014).

Dalam pertunjukan teater juga mengandung pembelajaran sosial terkait dengan indahnya kebersamaan, kerukunan, dan pentingnya masyarakat bersahabat dengan alam sekitarnya.

Selain itu di dalam seni pertunjukan teater sarat pesan moral yang tidak sekadar tontonan, namun di dalamnya terkandung muatan tuntunan yang sangat mendalam. Implikasinya seni pertunjukan tersebut lebih menyentuh pada misi yang dilakukan secara verbal yang dituangkan dalam karya seni. Pelaku seni dituntut untuk dapat menyampaikan pesan moral yang akan dicapai.

Inovasi Pertunjukan

Perkembangan situasi pandemi Covid-19 yang menunjukkan perbaikan dan adanya pelonggaran pembatasan aktivitas oleh pemerintah menjadi kesempatan bagi kalangan kreator dan pekerja seni teater untuk kembali menggerakkan kehidupan berkesenian yang sudah hampir dua warsa lebih mengalami stagnasi kegiatan.

Kiranya untuk seni pertunjukan teater tradisional perlu dilakukan langkah-langkah inovasi agar dapat berbanding lurus dengan dinamika zaman, tujuannya agar seni pertunjukan tersebut dapat diterima semua kalangan, terutama generasi milenial. Untuk itu inovasi dalam mengemas seni pertunjukan merupakan kata kunci agar dapat diterima publik.

Inovasi dalam seni pertunjukan teater tradisonal dapat dilakukan dengan beberapa alternatif, di antaranya pertama, kemasan cerita. Mengemas cerita yang komunikatif dan dekat dengan publik perlu menjadi pertimbangan. Misalnya dalam cerita Panji yang sudah melegenda dapat dikemas dengan kehidupan generasi milenial sekarang, namun subtansinya masih berkisar tentang tokoh Panji, baik itu karakter maupun perjuangannya yang sarat dengan nilai keutamaan.

Kedua, durasi pertunjukan. Generasi sekarang lebih mengutamakan pada penerapan praktis namun tidak meninggalkan substansinya. Untuk itu penyajian dalam seni teater tidak perlu semalam suntuk, cukup satu atau dua jam dengan pemadatan maupun perampingan adegan-adegan yang tidak begitu substansial, seperti tembang ketika sidang agung kerajaan bisa langsung diganti dengan dialog.

Ketiga, regenerasi pemain. Pewarisan seni menjadi hal yang paling mendasar agar generasi milenial juga dapat merasakan dan terlibat aktif. Keterlibatan mereka menjadikan nilai lebih agar nafas seni teater tradisional dapat tersentuh oleh jiwa-jiwa muda yang pada gilirannya dapat menjadikan seni teater tradisional mengalami progres dan tidak statis.

Keempat, pemanfaatan teknologi digital. Era digital tidak dapat dielakkan dan kiranya perlu dimanfaatkan untuk menunjang progresnya seni pertunjukan. Baik untuk pendukung teknis pertunjukan maupun media promosi yang dapat menjangkau segmen dari berbagai usia.

Dengan melakukan langkah-langkah inovasi, akan dapat menjadikan seni teater tradisional lebih membumi dan dekat dengan komunitas pendukungnya. Di samping itu, seni teater tradisional dapat menjadi fungsi sentral dalam penguatan nilai kebudayaan karena di dalamnya sarat akan pesan-pesan moral yang sangat berguna bagi kehidupan manusia.


(Oleh: Ch. Dwi Anugrah, Ketua Sanggar Seni Ganggadata Jogonegoro, Kecamatan Mertoyudan, Kab. Magelang)

Editor Slamet Rohmadi

0 Komentar

Tambahkan Komentar