Sampai saat ini, proses kreatif seniman sebagai bagian
dari warga masyarakat terus berlanjut. Mereka tidak mengenal kata pensiun. Bagi
seorang seniman, seni adalah napas dan panggilan hidup. Dorongan untuk
berekspresi, menyampaikan pesan, dan merespon kehidupan tidak terikat oleh
usia, jadwal kerja, maupun batasan-batasan yang mengungkung melakukan proses
kreatif.
Dalam dinamka perjalanan waktu, seniman akan semakin matang dalam berkarya seiring bertambahnya usia adalah fenomena yang didukung oleh konsep kristalisasi kecerdasan, yaitu kapabilitas menggunakan keterampilan, pengetahuan, dan pengalaman yang terakumulasi seumur hidup. Jam terbang selama puluhan tahun akan mengasah kepekaan mereka terhadap medium, memungkinkan mereka mengeksekusi ide yang kompleks dengan lebih presisi.
Sebut saja tokoh-tokoh seni di Nusantara yang ketika usia senja tetap mendarmabaktikan untuk kejayaan dan keberlangungsungan seni di tanah air. Samuel Indratma, perupa dan seniman mural asal Yogyakarta; Sardono, maestro seni tari dan koreografer seni tari; Dedy Dukun, komposer musik ternama; Butet Kertarajasa, seniman teater dan monolog produktif, dan banyak seniman lainnya yang sampai saat ini masih eksis walau di usia senja.
Di Kabupaten Magelang, dikenal sosok Yulius Iswanto warga Karangwatu, Desa Pucungrejo, Muntilan yang produktif membuat proses kreatif seni mural. Hasil karyanya ditorehkan di dinding-dinding tembok sepanjang gang Dusun Karangwatu. Detail goresanya cukup tajam dan memiliki jiwa yang hidup. Visualisasi karakter yang ditorehkan mengacu pada pola normatif format wayang kulit.
Adapun narasi dalam seni mural tersebut mengambil tokoh wayang Wisanggeni. Tokoh spektakuler dari epos Mahabharata, sebagai sosok inpiratif putra Arjuna dengan Batari Dersanala. Ksatria keturunan para dewata ini, di samping memilik kesaktian pilih tanding, dalam pola pikir serta pola tindakannya selalu bersikap lantang dalam menyuarakan kebenaran tanpa tebang pilih yang layak menjadi panutan.
Yulius Iswanto mampu mengimajinasikan karakter Wisanggeni ini dalam balutan seni mural. Lukisan muralnya mampu membawa penikmat dalam urutan dinamika perjalanan hidup tokoh Wisanggeni secara berurutan. Apabila dicermati secara akuratif, ide kreatif yang diekpsresikan tersebut, mengajak penikmat untuk dapat memaknai wayang tidak hanya sekadar sajian visual, namun merupakan tuntunan hidup manusia yang penuh makna.
Mengubah Ruang Kosong
Pada dasarnya seni mural adalah karya seni lukis atau gambar yang diaplikasikan langsung pada permukaan dinding, langit-langit, atau bidang besar lainnya yang bersifat permanen. Seni ini bertujuan untuk memperindah ruang, menyampaikan pesan sosial, hingga meningkatkan estetika sebuah lingkungan.
Para seniman berupaya melakukan proses kreatif untuk menyulap dinding ruang kosong menjadi kanvas bernilai estetika, menghidupkan suasana ruang publik atau privat. Elemen visual ini tidak hanya mempercantik area, tetapi juga membangun identitas lingkungan, memberikan karakter emosional, dan menjadi media komunikasi visual.
Dalam dinamika perjalanan waktu, seni mural memang seringkali dikoneksikan dengan sebuah terminologi ruang publik untuk berkreasi. Ruang publik kosong, oleh seniman dimanfaatkan untuk berekspresi dengan harapan publik yang menyaksikan dapat lebih dicerahkan agar dapat berkomtemplasi bahwa seni memiliki fungsi yang sangat kompleks dalam kehidupan. Di ruang-ruang kosong ini seniman melakukan proses kreatif agar seni dapat bermakna (Majalah Gong edisi 111, 2009).
Sebagai bentuk seni publik, kapasitas seni mural berpotensi dalam berbagai pesan yang mengedukasi komunitas luas. Dengan visualisasi menarik dan mudah dipahami, ternyata mampu menjangkau berbagai strata termasuk kalangan remaja juga anak-anak. Pesan moral yang disampaikan berdampak positif dalam meningkatkan kesadaran kritis pada masalah sosial dan kesadaran kultural yang saat ini sudah mulai tereduksi.
Adapun fungsi seni mural secara umum dapat diekplanasikan sebagai berikut, pertama media edukasi. Fungsi ini sangat signifikan karena mural dapat diaplikasikan dalam mengedukasi masyarakat terkait berbagai isu yang berkembang di ruang publik, seperti isu historis, politik, sosial, sampai dengan lingkungan.
Berbagai isu aktual yang disampaikan lewat karya seni mural, ternyata secara faktual masyarakat dapat tercerdaskan dan juga alur berpikirnya semakin progres. Fenomena ini tentu dapat membuka mata hati mereka bahwa dalam karya seni di balik keindahan estetikanya memuat pesan-pesan moral yang bermanfaat sebagai tuntunan kehidupan.
Teknis penyampaian bermakna dibalut nuansa seni ini, dapat menjadi media efektif untuk menyampaikan informasi yang kompleks dengan cara yang sederhana dan menarik. Sebagai contoh, mural yang menggambarkan legenda historis berdirinya daerah, akan dapat membantu generasi penerus untuk lebih memahami dan menghargai nilai-nilai budaya berbasis kearifan lokal.
Kedua, pesan sosial. Mural sering kali digunakan untuk menyampaikan pesan sosial yang signifikan. Seniman mural sering mengangkat isu-isu aktual seperti kesetaraan gender, lingkungan, atau hak asasi manusia melalui karya-karya mereka. Dengan menggabungkan seni dengan pesan sosial, mural dapat memantik diskusi dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu-isu yang mungkin terabaikan.
Ketiga, pelestarian budaya. Fungsi ini merujuk pada sarana revitalisasi atau pelestarian budaya. Identitas kultural yang hidup di tengah-tengah komunitas seperti tradisi, mitos, cerita rakyat menjadi bagian dalam proses kreatif mural. Dengan proses kreatif para seniman dalam mereaktualisasikan kembali elemen budaya lokal yang hidup di masyarakat, secara tidak langsung seniman ikut membantu menjaga revitalisasi kebudayaan tersebut sekaligus memberikan rasa bangga dan memiliki budaya lokal bagi publik.
Keempat, pengembangan identitas komunitas. Mural memiliki potensi untuk mengembangkan identitas komunitas. Fungsi ini dapat membantu ikatan sosial masyarakat karena karakteristiknya yang spesifik. Seperti Kabupaten Magelang memiliki potensi kesenian rakyat, manakala identitas lokal tersebut diaktualisasikan dalam seni mural akan terbangun ikatan kebersamaan masyarakat bahwa kesenian rakyat tersebut akan terus diupayakan terjaga eksistensinya.
Keterlibatan Semua Pihak
Keterlibatan semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat luas dalam proses penciptaan mural sangat penting. Partisipasi, kepedulian, dan perhatian baik langsung maupun tidak langsung anggota masyarakat dapat memantik rasa memiliki dan tanggung jawab moral untuk mengaplikasikan pesan-pesan moral yang tervisualisasikan dalam seni mural tersebut. Sedangkan bagi pemerintah dapat memfasilitasi para seniman untuk terus mengembangkan potensinya agar semakin kreatif dalam berkarya.
Kolaborasi sinergis akan dapat menjadikan daya hidup. Seniman dapat mengekspresikan diri secara positif. Dinding-dinding kosong di wilayah urban dan lainnya dapat sentuhan estetis yang berdampak positif baik bagi revitalisasi kebudayaan maupun aspek pendukungnya seperti ekonomi dan pariwisata. Apabila kampung atau desanya terbalut dengan sentuhan estetika akan menarik bidang pariwisata yang akan berimbas juga pada sektor ekonomi.
Kembali pada proses kreatif Yulius Iswanto, harapannya dapat menginspirasi seniman lainnya untuk terus berkarya. Kita optimis Kabupaten Magelang dengan potensi para senimannya akan dapat memberikan daya hidup dinamis yang tak akan lekang dimakan waktu.
Penulis: Drs. Ch. Dwi Anugrah, M.Pd., Ketua Sanggar Seni Ganggadata Desa Jogonegoro, Kec. Mertoyudan, Kabupaten Magelang
@kominfomagelang Alhamdulillah, selamat datang kembali di tanah air. 🤲✨ Suasana haru dan penuh kebahagiaan menyelimuti kepulangan Jemaah Haji Kloter 80 yang akhirnya kembali berkumpul bersama keluarga setelah menunaikan ibadah di Tanah Suci. Semoga seluruh amal ibadah diterima Allah SWT, menjadi haji yang mabrur dan mabruroh, serta membawa keberkahan bagi keluarga dan lingkungan sekitar. Aamiin🙏 #jemaahhaji #magelang ♬ original sound - kominfomagelang
0 Komentar