Bermukim di setiap dada
Bersatu padu jiwa dan raga
Selaras kata Bhinneka Tunggal Ika
Amalkan Pancasila sedini
Wahai kau putra pertiwi
Lantunan penggalan lagu bertajuk Bahana Pancasila karya Budiman BJ di atas merupakan genre lagu keroncong yang sangat fenomenal dan sudah dikenal publik. Lantunan lagu dan liriknya apabila ditelisik dengan cermat dapat mamantik spirit makna nilai-nilai Pancasila sampai gradasi yang paling elementer. Lagu tersebut hingga kini tetap abadi dan tak lekang oleh kisaran waktu yang terus berputar. Pesan tersirat di balik yang tersurat tak lain adalah nilai Pancasila selalu bermukim di setiap warga negara Indonesia dan tak akan tergoyahkan oleh badai sekuat apa pun.
Di samping itu, lagu tersebut mengandung makna sebagai seruan nasionalisme untuk menanamkan, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila sebagai fondasi kepribadian bangsa sejak usia dini. Lagu ciptaan Budiman BJ sang maestro dan komponis keroncong itu sejatinya juga menggambarkan Pancasila bukan sekadar lambang, melainkan substansi jiwa yang harus hidup dan berkobar di dalam setiap dada masyarakat Indonesia demi menjaga tetap solidnya ikatan persatuan.
Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara dapat diandaikan sebagai seorang nakhoda berlayar di tengah laut lepas yang luasnya tiada bertepi. Sang nakhoda selalu mengarahkan dinamika kehidupan seluruh awak kapal. Makna dari pengandaian tersebut dapat dipahami bersama, bahwa segala sesuatu kehidupan berbangsa dan bernegara akan dapat berjalan normatif sesuai dengan regulasi memang memerlukan pedoman dasar sebagai landasan konstitusionalnya.
Berlaku Universal
Pancasila merupakan nilai-nilai luhur yang digali dari budaya bangsa di Nusantara dan memiliki nilai dasar kehidupan manusia berlaku universal dan konsisten sepanjang zaman. Kandungan dalam nilai-nilai luhur itu merupakan resultansi dari kontemplasi dan perenungan panjang Sukarno yang merujuk pada pemahaman dinamika geopolitik Nusantara secara utuh dan holistik.
Nilai-nilai yang melandasi Pancasila bersumber dari pengalaman hidup bangsa Indonesia dalam kehidupan bermasyarakat, baik dalam lingkup nasional maupun pada perkembangan dunia luar. Sebagai ideologi terbuka, Pancasila tidak menutup diri dari nilai-nilai dan perkembangan dunia luar yang positif. Pancasila menyerap dan menyelaraskan nilai-nilai modernisasi, seperti hak asasi manusia, demokrasi, dan Iptek dengan tetap memfilter agar sesuai dengan kepribadian dan budaya bangsa Indonesia.
Pada tahun ini, tema yang diangkat pada hari lahir Pancasila adalah Pancasila Pemersatu Bangsa Fondasi Perdamaian Dunia. Tema tersebut mengandung makna bahwa Pancasila tidak hanya sekadar menjadi dasar negara Indonesia, melainkan dapat menjadi pemersatu di tengah keberagaman suku, agama, budaya, dan bahasa yang dimiliki bangsa Indonesia. Tema tersebut juga menegaskan, selain sebagai media pemersatu, Pancasila juga dapat menjadi landasan atau fondasi untuk menciptakan perdamaian abadi yang dicita-citakan seluruh umat manusia.
Pancasila merupakan bintang penuntun yang telah membuktikan ketangguhannya. Di tengah situasi dunia yang diwarnai ketidakpastian dan ancaman fragmentasi, Indonesia tetap berdiri kokoh sebagai bukti faktual keberagaman yang terdiri atas lebih dari 17.000 (tujuh belas ribu) pulau dan ratusan etnik dapat disatukan dalam satu ikatan kebangsaan. Pancasila adalah jangkar moral seluruh bangsa Indonesia dalam menghadapi turbulensi global, mulai dari disrupsi teknologi hingga dinamika geopolitik (BPIP, 2026).
Indonesia bukan hanya penonton dalam kancah dunia. Sesuai amanat Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, bangsa Indonesia memiliki tanggung jawab konstitusional untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Pancasila merupakan fondasi kebijakan luar negeri Indonesia yang bebas aktif. Dalam penjabaran sila-silanya mengarahkan agar Indonesia tidak memihak blok kekuatan dunia tertentu (bebas) dan secara proaktif ikut serta mewujudkan ketertiban dan perdamaian dunia (aktif).
Nilai musyawarah dan mufakat yang dianut merupakan instrumen diplomasi yang sangat dibutuhkan dunia saat ini untuk menjembatani perbedaan dan menghentikan konflik. Di samping itu, nilai-nilai musyawarah dan mufakat di dalamnya menolak kekerasan dan mengedepankan dialog, toleransi, serta keadilan. Prinsip ini berfungsi sebagai pedoman yang kuat untuk mengatasi polarisasi global.
Ideologi Hidup
Ke depan, bangsa Indonesia akan terus dihadapkan pada tangan yang jauh lebih besar dan kompleks. Oleh karena itu semua komponen bangsa terutama generasi muda perlu lebih mengedepankan nilai-nilai Pancasila, tidak hanya sekadar tahu dan hafal, namun lebih pada substansi ideologi yang hidup (living ideology).
Living ideology tersebut merujuk pada kapasitas adaptif dan kontekstual yang dapat memosisiikan diri untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman (seperti era digital dan globalisasi) tanpa kehilangan nilai hakikinya. Selanjutnya Pancasila dapat berperan sebagai pemersatu bangsa yang efektif dalam masyarakat yang pluralis. Berikutnya, Pancasila dapat berfungsi sebagai pedoman opersional panduan praktis dalam tata negara, pengambilan kebijakan, serta interaksi sosial antar warga.
Lebih ditegaskan kembali, Pancasila sebagai living ideology berarti nilai-nilai dasar Pancasila tidak hanya menjadi pajangan hukum atau sekadar teori. Pancasila benar-benar hidup, bernapas, dan menjadi pedoman nyata yang dipraktikkan dalam tekad, sikap, perilaku, serta tindakan sehari-hari seluruh masyarakat Indonesia.
Harapannya, Pancasila dapat semakin membumi sebagai nafas filosofis kehidupan bangsa yang dapat diimplementasikan dalam tataran praksis sebagai pedoman dalam mengaplikasikan nilai-nilai yang hakiki di setiap sendi-sendi kehidupan. Ekspektasi itu selaras dengan pesan Sang Putra Fajar pada tanggal 1 Juni 1945, bahwa Pancasila merupakan media pemersatu bangsa untuk menghadirkan kemaslahatan-kebahagiaan bersama yang tidak akan pudar walaupun zaman sudah silih berganti.
Selamat Hari Lahirnya Pancasila Tahun 2026
Penulis: Drs. Ch. Dwi Anugrah, M.Pd. Guru Seni Budaya SMK Wiyasa Magelang
@kominfomagelang Sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Raya Waisak, kawasan Candi Ngawen, Muntilan, Kabupaten Magelang, Minggu (31/05/2026), dipenuhi harmoni budaya dan spiritualitas. Sebanyak 25 balon udara berwarna-warni menghiasi langit. Festival ini tidak sekadar tontonan, tetapi juga menjadi ruang pertemuan budaya, spiritualitas, dan pariwisata. Festival ini turut dihadiri Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, para duta besar, serta perwakilan Dirjen Bimas Buddha, menunjukkan daya tariknya yang semakin luas.
♬ original sound - kominfomagelang
0 Komentar