Nilai Kebersamaan dalam Gamelan

Dilihat 2049 kali
Antusiasme anak-anak latihan gamelan dan seni tari di Borobudur Art Centre, Sanggar Seni di Dusun Jligudan Desa Borobudur seminggu tiga kali menandakan generasi milenial masih mencintai seni tradisi

Pada sore hari, puluhan anak berbondong-bondong datang ke Borobudur Art Centre, sanggar seni di Dusun Jligudan Desa Borobudur untuk latihan gamelan dan seni tari. Sore itu mereka akan praktik gendhing (komposisi lagu) lancaran singanebah dan ladrang Bimakurdha untuk mengiringi tari Eka Prawira. Anak-anak yang masih belia tersebut, ternyata mampu memainkan berbagai perangkat musik gamelan yang materinya biasa dimainkan orang dewasa. Sungguh suatu kolaborasi luar biasa. Mereka dengan terampil memainkan gamelan. Sementara teman lainnya menari sesuai dengan materi dalam gamelan tersebut.  


Gambaran di atas menandakan bahwa, sampai saat ini gamelan masih dicintai generasi milenial. Walaupun dinamika gempuran globalisasi maupun digitalisasi telah merambah ke berbagai kehidupan, gamelan sebagai instrumen musik mampu menghadirkan nuansa tersendiri.


Tidak bisa dipungkiri bila mendengarkan alunan gamelan dalam berbagai bentuk gendhing serasa kita dibawa ke alam imajiner, yaitu alam ketenteraman hidup abadi yang didambakan setiap insan manusia. Hentakan pukulan kendhang, alunan gambang, dentingan siter, suara melodi dalam bonang barung atau penerus serta instrumen lainnya membuat ketenteraman jiwa sampai tingkat kedalaman yang hakiki. Ibarat manusia menyusuri jalan sunyi untuk mencapai kebahagiaan sejati.


Maka tidak mengherankan UNESCO mencatat, gamelan sebagai salah satu sarana ekspresi budaya serta sarana membangun relasi antara manusia dan semesta. Di samping itu gamelan yang dimainkan dalam orkestra memuat nilai saling menghormati, mengasihi, dan peduli dengan sesama manusia dan telah diakui eksistensinya secara kosmopolitan (Kompas, 2021).


Melintasi Batas Kultural


Dalam jejak perjalanan historisnya, gamelan telah menyebar, melintas batas-batas kultural. Pada awal abad ke-19 gamelan menjadi benda eksotis yang coba diperkenalkan di bumi Eropa. Belanda merasa perlu menunjukkan wujud konkret negeri koloninya beserta kebudayaan musik yang dimiliki kepada public Eropa lewat pameran bertajuk Internationale Koloniale en Uitvoerhandel; Tentoonstelling Colonial di Amsterdam (1883), Arnhem (1879), Paris Exposition Universelle di Paris (1889), serta  Columbian Exposition di Chicago (1889).


Di tengah keramaian pameran di Paris muncul rasa kagum dari komponis besar asal Perancis kala itu. Komponis tersebut bernama Claude Debussy. Karya-karya Debussy lahir setelah ia dengan tekun dan telaten mendengarkan tetabuhan gamelan di Paris Exposition Universelle di Paris (1889).


Terlebih lagi, setelah Jaap Kunts, pengacara muda dari Belanda, pada tahun 1919 menginjakkan kaki di tanah Jawa. Kekaguman Kunts membabi buta begitu mendengarkan gamelan dibunyikan secara eksotis di dalam tembok keraton. Bunyi gamelan itu yang menginspirasi Kunts membuat sederet penelitian tentang gamelan yang publikasinya tersebar di seluruh belahan bumi. Sebut saja penelitiannya yang bertajuk Hindu-Javanesese Musical Instruments (1968), Music in Java: Its History, Its Theory, and Its Technique (1973).


Laporan penelitian tersebut banyak menjadi rujukan para peneliti yang akan mengungkap lebih jauh eksistensi gamelan dengan segala pernik-pernik dinamikanya.Momentum tersebut mengawali sebaran diaspora gamelan di berbagai negeri, khususnya di Amerika Serikat (Soedarsono, 2002).


Pada masa keraton atau kerajaan di Indonesia sebagai pusat kebudayaan, istilah gamelan lebih  dikenal dengan sebutan kagunan gamelan. Implikasi kagunan gamelan ini diawali dari pembuatan gamelan sampai dengan varian gendhing yang dihasilkan oleh gamelan, baik secara teknis, latar belakang filosofis, serta berbagai  macam tata nilai budaya Jawa. Kagunan secara harafiah memiliki arti kepandaian, hikmat seni, dan kesenian. Seturut dengan pengertian tersebut dapat diinterpretasikan bahwa kagunan memiliki muatan intelektualitas dan estetis.


Uraian ini membuka pola pikir komunitas pada waktu itu, bahwa di balik kagunan gamelan tersimpan  sistem pengetahuan berupa nilai-nilai humaniora yang terkemas dalam simbol fisik dan non fisik. Simbol fisik berupa gamelan, sedangkan non fisik berupa gendhing dengan segala aspek di dalamnya, seperti  nada (laras) baik slendro maupun pelog.


Nilai Kebersamaan


Sebagai suatu orkestrasi, gamelan akan dapat dinikmati apabila dibunyikan bersama. Suara kendang, bonang, gender, kempul, saron, gong, dan berbagai peralatan musik lainnya mempunyai ciri khas tersendiri yang spesifik. Misalnya kendang berfungsi sebagai pengatur irama, gender sebagai penyelaras lagu, bonang barung sebagai pembuka dan penuntun lagu, kenong memiliki fungsi untuk  mengisi harmonisasi dalam pementasan, dan berbagai perangkat musik lainnya yang memiliki fungsi dan keunikannya masing-masing.


Dilihat dari sisi aksiologinya, manfaat dan nilai gamelan banyak yang bisa dipetik di antaranya adalah belajar bekerja sama dengan tidak mendahulukan nada satu dengan nada yang lainnya. Dengan demikian bila ditelisik lebih jauh nilai kebersamaan dalam memainkan gamelan menjadi hal yang sangat prinsip. Kebersamaan dalam memadukan irama dan teknik bermain yang dapat menjadi sajian menarik.


Kebersamaan dalam bermain gamelan juga dapat menjadi pemantik merajut suatu kesatuan utuh. Dengan integritas dan kesamaan pandang akan menjadi titik pencerahan dalam mencapai tujuan bersama yang dapat diaplikasikan ke semua perspektif kehidupan bersosialitas di masyarakat.


Terlebih lagi bagi generasi milenial yang saat ini harus hidup di era digitalisasi. Nilai-nilai pewarisan seni tradisi dan kepedulian kepada seni tradisi termasuk seni gamelan perlu ditanamkan sejak dini kepada mereka dan juga menjadi perhatian semua pihak. Tujuan utamanya adalah agar seni tradisi tidak semakin tereduksi di tengah pusaran zaman dan semakin dicinta  publik termasuk generasi milenialnya.


(Oleh: Ch. Dwi Anugrah, Ketua Sanggar Seni Ganggadata Jogonegoro, Kecamatan Mertoyudan, Kab. Magelang)


Editor Fany Rachma

0 Komentar

Tambahkan Komentar